Ilustrasi lebaran Betawi. Ai.
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Perhelatan Lebaran Betawi di kawasan Agro Wisata Cilangkap, Jakarta Timur, tak cuma meriah secara budaya, tapi juga berdampak nyata bagi ekonomi warga.
Bazar UMKM yang digelar selama dua hari sukses mencatat omzet hingga Rp57,3 juta.
Kepala Sudin PPKUKM Jakarta Timur, Andi Ahmad Refi, mengungkapkan capaian tersebut diraih dari 36 pelaku usaha yang ikut ambil bagian dalam event tahunan itu.
“Selama dua hari, total penjualan UMKM mencapai Rp57,3 juta,” kata Refi seperti dikutip Mediajakarta.com dari Antara, Senin (20/4/2026).
Kuliner Jadi Primadona
Dari berbagai jenis produk yang dijajakan, sektor kuliner jadi penyumbang terbesar. Tingginya minat pengunjung membuat makanan khas Betawi hingga jajanan kekinian laris diburu.
“Penjualan tertinggi berasal dari sektor kuliner yang paling diminati pengunjung,” ujarnya.
Selain kuliner, bazar juga menghadirkan produk kerajinan tangan, aksesoris, hingga busana. Keberagaman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang memadati lokasi acara.
UMKM Ini Cetak Omzet Tertinggi
Dari puluhan peserta, pelaku usaha bernama Deanita Novianti lewat brand Buna Rara mencatat penjualan tertinggi. Dalam dua hari, omzetnya tembus Rp3,6 juta.
Para peserta sendiri merupakan binaan lintas sektor di Kecamatan Cipayung. Mayoritas berasal dari Sudin PPKUKM, ditambah dukungan dari dinas lain seperti KPKP, Kebudayaan, hingga Sosial.
Tak Sekadar Jualan, Tapi Jaga Budaya
Lebaran Betawi bukan cuma soal ekonomi. Event ini juga jadi panggung pelestarian budaya. Pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan seperti gambang kromong, lenong, hingga arak-arakan palang pintu.
Tradisi khas seperti nyorog turut ditampilkan, memperkuat nuansa budaya Betawi di tengah hiruk pikuk kota.
Acara semakin semarak dengan penampilan sejumlah musisi, termasuk penyanyi dangdut Erie Suzan.
Harapan Berlanjut
Pemerintah berharap kegiatan seperti ini bisa terus digelar secara rutin. Selain memperkenalkan produk UMKM ke pasar yang lebih luas, juga mendorong roda ekonomi masyarakat tetap bergerak.
“Ini jadi ruang kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat,” kata Refi.
Dengan antusiasme pengunjung yang tinggi, Lebaran Betawi Cipayung membuktikan satu hal: budaya lokal dan ekonomi rakyat bisa tumbuh beriringan—asal diberi panggung yang tepat (Ant/MJ)

