Di Morimoto Jakarta, Rasa Masakan Jepang yang banyak disukai para diplomat dan warga Jakarta. Foto : Haryo Bimo
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Di meja makan, rasa menjadi bahasa yang mempertemukan dan Jakarta, kota yang tak pernah berhenti menyantap dunia, menyajikan panggung diplomasi kuliner di setiap sudutnya.
Jakarta bukan hanya pusat pemerintahan dan bisnis. Di antara gedung pencakar, hotel mewah, dan kawasan perkantoran, ada semesta lain yang berbicara tentang hubungan internasional: restoran-restoran asing yang menjadi ruang bertemu diplomat, pengusaha, turis, dan warga lokal.
Di meja makan itulah jaringan sosial dan diplomasi tak resmi terajut — sambil berbagi sashimi, steak, atau hidangan fusion yang menggabungkan teknik global dan bahan lokal.
Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup; ia mencerminkan bagaimana keterbukaan kota terhadap rasa menjadi bagian dari citra internasional Jakarta.
Morimoto: Jepang kelas dunia di ketinggian kota
Di lantai 63 The Langham Jakarta, Morimoto membawa nama besar Iron Chef Masaharu Morimoto ke jantung Sudirman.
Restoran ini cepat menjadi magnet bagi penikmat fine-dining Jepang — bukan hanya karena teknik kulinernya, tetapi juga karena pemandangan kota yang dramatis, menjadikannya lokasi populer untuk jamuan resmi dan pertemuan bisnis dengan sentuhan internasional.
Kehadiran restoran chef global seperti Morimoto menandai bagaimana Jakarta kini menjadi tuan rumah brand kuliner internasional yang mengangkat citra gastronomi kota.
Henshin: perpaduan rasa Peru–Jepang yang menjadi pembicaraan
Di puncak gedung The Westin, Henshin menawarkan pengalaman kuliner Peruvian–Japanese yang memadukan teknik sushi dan cita rasa Nikkei dalam suasana barat yang mewah.
Restoran seperti ini kerap menjadi pilihan jamuan kenegaraan tingkat kecil, pertemuan duta besar, atau acara korporat — sebuah contoh bagaimana konsep internasional diserap oleh pasar Jakarta dan menjadi bagian dari tata diplomasi kuliner kota. ulasan pengunjung dan panduan kuliner menempatkan Henshin sebagai salah satu destinasi makan yang wajib dicatat.
Su Ma dan sentuhan Asia kontemporer
Bukan hanya brand internasional besar: restoran lokal dengan pendekatan internasional juga bermain peran penting.
Su Ma, misalnya, adalah contoh restoran yang menginterpretasikan masakan Tionghoa dan Asia Timur secara modern—mendapat pengakuan dalam kancah kuliner nasional dan menjadi tempat pertemuan bagi acara berskala kecil namun bergengsi.
Kehadiran restoran-restoran seperti ini menunjukkan bahwa diplomasi kuliner di Jakarta bersifat dua arah: bukan sekadar “membawa” rasa asing, tetapi juga menafsirkan dan mengkontekstualisasikannya di pasar lokal.
Italia, steakhouse, dan rasa Eropa yang akrab di lidah Jakarta
Untuk hidangan Barat, nama-nama seperti Bistecca dan Loewy kerap muncul dalam panduan kuliner kota.
Restoran Italia dan steakhouse kelas atas menjadi lokasi pertemuan yang nyaman bagi delegasi asing yang menginginkan suasana “rumah” saat berdiplomasi secara tidak resmi — pertemuan yang banyak terjadi di ballroom, ruang privat, atau meja yang tenang di sudut restoran.
Kehadiran rumah makan ala Eropa yang konsisten kualitasnya membantu memperkuat kesan Jakarta sebagai kota yang bisa melayani selera global.
Diplomasi sehari-hari: warteg, kafe, dan pertemuan tak resmi
Menariknya, diplomasi kuliner Jakarta bukan hanya soal restoran fine-dining.
Banyak diplomat dan staf internasional juga menikmati makanan lokal sederhana—dari nasi goreng hingga soto di warung populer—karena ingin merasakan kehidupan kota yang lebih otentik.
Momen-momen santai ini sering menjadi pintu masuk percakapan yang lebih hangat dan personal, membuka ruang negosiasi non-formal yang tak kalah penting dibanding jamuan resmi.
Selain memaniskan perbincangan, pengalaman kuliner lokal juga menjadi simbol penghormatan budaya saat tamu asing berkunjung.
Tren & tantangan: ketika reputasi kuliner bertabrakan dengan realitas kota
Eksplosi restoran internasional dan kehadiran chef global membantu menaikkan profil Jakarta di peta kuliner regional, namun ada tantangan: kestabilan pasokan bahan baku impor, standar layanan, dan infrastruktur (parkir, akses, keamanan) yang harus konsisten untuk mendukung acara-acara berskala internasional.
Selain itu, persaingan ketat berarti restoran harus terus berinovasi untuk relevan — sesuatu yang terlihat dari banyaknya pembukaan restoran baru tiap tahun dan liputan media kuliner yang cepat berubah.
Catatan bagi para pelancong rasa (dan pembuat kebijakan kuliner)
Bagi pembaca yang ingin merasakan diplomasi di meja makan Jakarta: pesan meja di restoran fine-dining populer untuk pengalaman formal, tetapi luangkan juga waktu mencicipi kedai tradisional—keduanya membentuk wajah kuliner diplomatik kota.
Bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri, penting untuk melihat sektor hospitality dan F&B bukan hanya sebagai bisnis, melainkan juga sebagai alat diplomasi lunak (soft power) yang dapat meningkatkan citra kota dan memfasilitasi hubungan antarnegara.
Investasi pada kualitas layanan, sertifikasi makanan internasional, dan dukungan promosi internasional akan memperkuat peran Jakarta sebagai pentas kuliner global (Wan).
Sumber :
– Time Out Jakarta — Best Japanese Restaurants in Jakarta (Morimoto entry).
– TripAdvisor / daftar restoran populer Jakarta (peringkat pengunjung dan ulasan umum).
– Destinasian — Five Innovative Jakarta Restaurants to Put on Your Wish List (analisis restoran kontemporer).
– The World’s 50 Best (Discovery) — panduan restoran terkemuka di Jakarta (Bistecca, Loewy, dll.).
– Prestige Gourmet Awards 2025 — pengakuan restoran dan rekomendasi kuliner (Su Ma).
– Panduan pembukaan restoran baru di Jakarta — NowJakarta / What’s New Indonesia (update pembukaan 2025).

