Warren Buffett. Dok Mediajakarta.com/Gemini.
OMAHA, MEDIAJAKARTA.COM– Di sebuah kantor sederhana di Omaha, Nebraska, seorang pria dengan kacamata tipis dan selera humor bersahaja menutup salah satu bab terpanjang dalam sejarah kapitalisme modern.
Warren Buffett, investor yang dijuluki Oracle of Omaha, resmi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Berkshire Hathaway setelah lebih dari 60 tahun menakhodai kerajaan bisnisnya.
Bukan perpisahan yang dramatis. Tidak ada lonceng atau upacara megah di Wall Street. Seperti gaya hidupnya yang terkenal hemat, Buffett memilih keluar dengan tenang—meninggalkan angka yang hampir mustahil dikejar: keuntungan sekitar 6,1 juta persen sejak ia mengambil alih Berkshire pada 1965.
Dari Perusahaan Tekstil ke Mesin Pencetak Sejarah
Ketika Buffett pertama kali membeli saham Berkshire Hathaway, perusahaan itu hanyalah bisnis tekstil yang meredup.
Tak ada yang menyangka, dari puing-puing industri lama itu, akan lahir konglomerasi raksasa yang kini mengendalikan perusahaan asuransi, energi, perkeretaapian, hingga merek-merek ikonik Amerika.
Dengan filosofi sederhana—beli bisnis bagus, kelola dengan sabar, dan jangan panik—Buffett membangun kekayaan bukan lewat spekulasi cepat, melainkan melalui waktu. Waktu menjadi senjata utamanya. Kesabaran, bahan bakarnya.
Angka yang Membuat Sejarah Terdiam
Selama enam dekade, pemegang saham Berkshire menikmati return sekitar 6.100.000 persen.
Sebagai pembanding, indeks S&P 500—barometer pasar saham AS—“hanya” memberikan imbal hasil sekitar 46.000 persen dalam periode yang sama, termasuk dividen.
Pada hari terakhir Buffett menjabat sebagai CEO, saham Berkshire memang sedikit melemah. Namun pasar seolah memahami: ini bukan tentang satu hari perdagangan, melainkan tentang warisan puluhan tahun.
Tongkat Estafet ke Greg Abel
Kursi CEO kini diserahkan kepada Greg Abel, sosok yang telah lama dipersiapkan Buffett sebagai penerus.
Abel dikenal sebagai manajer operasional yang tenang, jauh dari sorotan publik—cerminan pilihan Buffett yang selalu menghindari hiruk-pikuk popularitas.
Bagi para investor, pergantian ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan ujian: bisakah filosofi Buffett hidup tanpa kehadiran fisiknya?
Pelajaran untuk Jakarta
Di tengah gegap gempita ekonomi cepat dan budaya viral semalam, kisah Buffett terasa kontras—namun justru relevan bagi kota seperti Jakarta, yang sedang belajar menata masa depan jangka panjang.
Buffett mengajarkan bahwa:
1. Kekayaan dibangun dari disiplin, bukan sensasi
2. Keputusan besar sering lahir dari kesederhanaan
3. Dan kesuksesan sejati bukan seberapa cepat naik, tapi seberapa lama bertahan
Akhir Sebuah Era, Awal Sebuah Warisan
Warren Buffett memang lengser dari jabatan.
Namun ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka di laporan keuangan: cara berpikir.
Di dunia yang bergerak makin cepat, Buffett membuktikan bahwa melambat—dan berpikir panjang—bisa menjadi strategi paling revolusioner.
Dan sejarah, seperti biasa, akan mengingat mereka yang memilih kesabaran di tengah kegaduhan (Wan)

