SMPN Pulau Pari Sulap Limbah Air Wudhu Jadi Solusi Air Bersih, Guru Diajak Terapkan Teknologi Membran

Jakarta News Terkini

PULAU PARI, MEDIAJAKARTA.COM– SMPN Satu Atap Pulau Pari mulai mengembangkan inovasi pengelolaan air bersih berbasis teknologi membran untuk menjawab tantangan krisis air di wilayah kepulauan.

Program ini dikemas melalui pendekatan pendidikan modern berbasis STREAM yang menggabungkan sains, teknologi, agama, teknik, seni, dan matematika.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat (P2M) yang digelar pada Senin (11/5/2026) siang itu berlangsung khidmat dengan melibatkan 25 tenaga pendidik lintas mata pelajaran di sekolah tersebut.

Mengusung tema “Pendampingan Implementasi Model Pedagogi STREAM (Science, Technology, Religion, Engineering, Arts, and Math) Melalui Pemanfaatan Teknologi Membran Untuk Pengelolaan Air Wudhu Sirkular di Sekolah Pulauan”, kegiatan ini menjadi langkah baru dalam menghadirkan pendidikan yang langsung menyentuh persoalan nyata masyarakat pulau.

Pembicara utama, Muslihin, menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada teori dan hafalan di ruang kelas.

“STREAM adalah inovasi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Kita ingin mengubah paradigma belajar menjadi lebih konkret, berbasis proyek, dan berdampak langsung,” ujarnya di hadapan para guru.

Melalui pendekatan contextual learning, siswa nantinya tidak hanya belajar konsep akademik semata, tetapi juga diajak memahami persoalan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari, terutama soal keterbatasan air bersih di kawasan pulau kecil.

Air Bekas Wudhu Diolah Kembali

Inti dari program ini adalah pemanfaatan teknologi filtrasi membran untuk mengolah kembali air bekas wudhu agar dapat digunakan secara sirkular.

Teknologi tersebut sekaligus menjadi media pembelajaran lintas disiplin bagi siswa maupun guru.

Dalam implementasinya:
Aspek Science dan Engineering digunakan untuk mempelajari prinsip filtrasi serta desain sistem pengolahan air.

Pada aspek Religion, konsep thaharah atau bersuci dikaitkan dengan nilai keberlanjutan dan larangan mubazir dalam agama.

Sedangkan Mathematics dan Arts diterapkan dalam penghitungan debit air hingga pembuatan kampanye visual bertema konservasi air.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Salah seorang guru bahkan mengenang pengalaman masa mondok di pesantren yang telah menerapkan sistem sirkulasi air sederhana sejak lama.

Cerita tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal sebenarnya memiliki semangat yang sejalan dengan teknologi modern.

Bisa Dikembangkan untuk Hidroponik

Tak hanya berhenti pada pengolahan air wudhu, para peserta juga berharap teknologi membran ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain di lingkungan sekolah.

“Kami berharap sistem ini bisa dikembangkan untuk menyiram tanaman hidroponik atau kebutuhan domestik lainnya,” ujar salah satu peserta.

Menanggapi hal itu, Muslihin menyebut ide tersebut sejalan dengan penelitian lanjutan yang tengah dikembangkannya terkait integrasi air sirkular untuk sistem hidroponik dan akuaponik.

Menurutnya, konsep tersebut berpotensi memperkuat ketahanan pangan sekolah sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi siswa.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan berlanjut pada penyusunan modul ajar terintegrasi agar konsep STREAM tidak berhenti sebagai teori pelatihan semata.

Dengan pendekatan ini, guru di SMPN Satu Atap Pulau Pari didorong menjadi fasilitator yang membentuk siswa sebagai “penjaga air” atau water stewardship di lingkungan mereka sendiri.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya air di wilayah kepulauan, sinergi teknologi membran dan pedagogi STREAM dinilai menjadi langkah penting menuju sekolah yang lebih mandiri, inovatif, dan berwawasan lingkungan (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *