Oleh: Drh. Baiq Yunita Arisandi, M.A.P*
Ketahanan nasional Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman tidak lagi datang hanya dalam bentuk konflik bersenjata, tetapi juga dari krisis pangan, wabah penyakit, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global.
Dalam lanskap ancaman non-militer tersebut, kesehatan hewan sering kali luput dari perhatian, padahal perannya sangat menentukan dalam menjaga stabilitas nasional .Berkaca dari pengalaman Indonesia menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sejak 2022 menjadi cermin nyata betapa rapuhnya ketahanan pangan dan ekonomi ketika sistem kesehatan hewan terganggu.
Penurunan produktivitas ternak, pembatasan lalu lintas hewan, gejolak harga pangan asal hewan, hingga keresahan sosial di tingkat peternak menunjukkan bahwa kesehatan hewan bukan sekadar isu teknis veteriner (Kesehatan Hewan) belaka, melainkan persoalan strategis negara yang harus menjadi perhatian kita bersama.
Kita semua mengetahui bahwa pangan asal hewan merupakan sumber protein hewani utama Masyarakat dan merupakan komponen yang sangat penting dalam pemenuhan gizi Masyarakat karena berkontribusi secara langsung terhadap kualitas sumberdaya manusia terutama untuk perkembangan kecerdasan dan tumbuh kembang anak-anak yang diharapkan sebagai investasi besar dalam mewujudkan generasi emas di masa yang akan datang.
Ketika penyakit hewan tidak terkendali,produksi terganggu, distribusi terhambat, harga pangan meningkat, serta daya beli masyarakat akan tertekan. Kondisi ini berkontribusi langsung terhadap inflasi pangan dan berpotensi melemahkan ketahanan ekonomi rumah tangga.
Kasus PMK, flu burung, dan African Swine Fever (ASF) memperlihatkan pola yang sama gangguan kesehatan hewan dengan cepat menjalar menjadi persoalan ekonomi dan sosial. Negara harus mengeluarkan biaya besar untuk pengendalian wabah, sementara peternak khususnya peternak rakyat menanggung kerugian paling besar. Jika kondisi ini berulang tanpa penguatan sistemik, ketahanan pangan nasional akan terus berada dalam posisi rentan.
Zoonosis (Penyakit yang ditularkan dari Hewan ke Manusia) dan Dimensi Keamanan Nasional
Kesehatan Hewan tidak hanya menyangkut kepada hewan produksi saja, melainkan hewan eksotis dan hewan kesayangan juga harus menjadi perhatian. Lebih dari 60 persen penyakit infeksi baru pada manusia berasal dari hewan. Fakta ini menempatkan kesehatan hewan sebagai garda depan dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
Dalam perspektif One Health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ancaman zoonosis tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga berimplikasi pada keamanan nasional.
Pandemi global telah membuktikan bahwa krisis kesehatan dapat melumpuhkan ekonomi, mengganggu stabilitas sosial, dan menguji kapasitas negara dalam melindungi warganya. Oleh karena itu, sistem kesehatan hewan yang kuat merupakan bagian integral dari sistem pertahanan non-militer bangsa.
Pada kenyataannya Indonesia telah memiliki kerangka regulasi yang cukup komprehensif di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Namun, tantangan terbesar terletak pada tata kelola dan implementasi kebijakan.
Fragmentasi kewenangan lintas sektor, keterbatasan sumber daya manusia veteriner di daerah dengan kapasitas yang beragam, ketimpangan kapasitas laboratorium, serta lemahnya sistem deteksi dini dan respon cepat masih menjadi persoalan nyata.
Saat ini pengendalian penyakit hewan sering kali bersifat reaktif artinya bergerak setelah wabah terjadi, bukan preventif dan berbasis risiko. Padahal, investasi pada surveilans, biosekuriti, penguatan otoritas veteriner, dan sistem informasi kesehatan hewan jauh lebih efisien dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pemulihan akibat wabah.
Ketergantungan terhadap impor pangan asal hewan di tengah ancaman wabah global justru meningkatkan kerentanan nasional. Negara yang tidak mampu menjaga kesehatan hewannya akan sulit mencapai kemandirian pangan dan akan kehilangan daya saing di pasar internasional.
Sebaliknya, sistem kesehatan hewan yang tangguh akan memperkuat produksi domestik, menjaga kontinuitas pasokan, dan meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk hewan Indonesia. Dalam konteks ini, kesehatan hewan berperan langsung dalam memperkuat kedaulatan pangan dan posisi tawar bangsa.
Dalam kerangka ketahanan nasional modern, kesehatan hewan harus diposisikan sebagai bagian dari pertahanan non-militer. Ancaman biologis, termasuk penyakit hewan dan zoonosis, merupakan bagian dari spektrum ancaman keamanan nasional yang harus dikelola secara serius dan terintegrasi.
Negara yang mampu mengendalikan penyakit hewan secara efektif akan lebih tangguh menghadapi krisis pangan, tekanan ekonomi global, dan ancaman kesehatan lintas batas. Oleh karena itu, penguatan sistem kesehatan hewan bukan sekadar urusan sektor pertanian saja, tetapi bagian dari strategi besar menjaga stabilitas nasional.
Ke depan, kebijakan kesehatan hewan harus dibangun dalam kerangka whole-of-government dan whole-of-society. Sinergi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
Pendekatan One Health perlu diterjemahkan secara nyata dalam perencanaan pembangunan nasional, penganggaran, dan penguatan kelembagaan. Sistem kewaspadaan dini penyakit hewan, penguatan kapasitas SDM veteriner, serta integrasi data kesehatan hewan dengan sistem pangan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas.
Lebih dari itu, kesehatan hewan perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda strategis ketahanan nasional. Tanpa perspektif ini, kebijakan akan terus terfragmentasi dan kehilangan daya ungkit strategisnya.
Penutup
Ketahanan nasional yang kokoh dibangun dari fondasi yang sering kali tidak terlihat, namun sangat menentukan. Salah satu fondasi tersebut adalah kesehatan hewan. Menempatkan kesehatan hewan sebagai pilar strategis ketahanan nasional bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Negara yang abai terhadap kesehatan hewan sejatinya sedang mempertaruhkan ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan keamanan masyarakatnya sendiri. Sebaliknya, negara yang berinvestasi pada sistem kesehatan hewan yang kuat sedang menyiapkan masa depan yang lebih tangguh, berdaulat, dan berkelanjutan.
*Penulis adalah Koordinator Kelompok kelembagaan dan Sumberdaya Kesehatan Hewan, Direktorat Keswan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang juga Mahasiswa Doktor Administrasi Publik Universitas Nasional.

