Ecoenzym Jadi Senjata Baru Perempuan Pesantren Hadapi Bencana, UNJ Gandeng Mitra Internasional

Jakarta Kampus News Terkini

BOGOR, MEDIAJAKARTA.COM – Inovasi ramah lingkungan kembali lahir dari kampus.

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Tim Program Community Development meluncurkan produk ecoenzym bersama kelompok perempuan pesantren di wilayah rentan bencana.

Program ini tak main-main. Selain didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi internasional dengan International Islamic University Malaysia (IIUM) serta Institut Kesehatan & Teknologi Jakarta.

Kegiatan digelar di Pondok Pesantren Alsyriyyah Nurul Iman, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di lokasi ini, para peserta dilatih mengolah limbah organik rumah tangga menjadi ecoenzym—cairan serbaguna yang ramah lingkungan dan berpotensi jadi produk usaha.

Ketua tim program, Rihlah Nur Aulia, menjelaskan program ini dirancang untuk memberdayakan perempuan pesantren agar lebih mandiri secara ekonomi, khususnya di daerah rawan bencana.

“Tujuan kami memastikan perempuan pesantren punya pengetahuan, keterampilan, dan literasi yang cukup untuk mengembangkan usaha halal berbasis lingkungan,” ujarnya.

Tak hanya pelatihan teknis, peserta juga mendapat penguatan dari sejumlah pakar lintas institusi. Di antaranya Betania Kartika yang membahas ecoentrepreneurship halal, Faisal M. Jasin soal pengembangan usaha di wilayah rawan bencana, hingga Eliana Sari dan Izzatul Mardhiah yang menguatkan aspek manajemen usaha dan literasi keuangan syariah.

Ecoenzym sendiri dinilai punya nilai strategis. Selain mengurangi limbah, produk ini bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami, sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat.

Kolaborasi lintas negara dan institusi ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, sekaligus mendukung agenda global Sustainable Development Goals.

Lewat program ini, perguruan tinggi menunjukkan peran nyatanya: tak sekadar mencetak lulusan, tapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat—terutama perempuan di wilayah rentan bencana (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *