Obrolan Imajiner.
Pak Harto : Sugeng enjang, Gus. Selamat ya, sampeyan termasuk cepat dapat gelar Pahlawan Nasional. Doanya apa Gus?
Gus Dur : Lha urusan gelar kok dipikir. Wong saya gak urusan itu sama pahlawan-mahlawan. Tapi sudah dikasih ya diterima saja. Gitu aja kok repot.
Pak Harto sendiri pripun rasane jadi Pahlawan Nasional?
Pak Harto : Ya biasa saja. Wong saya juga gak berharap kok. Gak diakui sebagai pahlawan yo ra patheen. Pahlawan gak pahlawan kan itu urusan SK saja. Yang penting kan kita urusan di alam barzah sekarang ini.
Gus Dur : Tapi kan orang-orang ribut itu Pak. Apa sampeyan gak terganggu?
Pak Harto : Ya kan kata Gus Dur urusan dunia dibikin santai saja. Dan kalau gak ribut kan bukan Indonesia. Tapi kan biasanya sebentar saja. Habis itu lupa. Wong Indonesia itu bangsa pemaaf.
Gus Dur : Tapi kan semua kejadian menyangkut pemimpin dan tindakannya harus diambil hikmah. Bagian dari proses belajar bangsa kita. Kalau tidak, yang kurang-kurang, yang khilaf-salah, tidak dijadikan bahan perbaikan.
Pak Harto : Sampeyan jangan underestimate lah. Bangsa kita kan makin pintar, makin cerdas. Makin tahu cara menempatkan sejarah untuk berjalan maju ke depan.
Gus Dur : Iya juga. Yowis, ayo kita lapor Bung Karno. Kuatirnya beliau nunggu-nunggu kita sowan. Ya fatsunnya kan kita yang lebih muda lapor senior.
Pak Harto-Gus Dur : Assalamu’alaikum Bung? Selamat siang.
Bung Karno : W’salam. Ayo masuk. Sehat2 semua ya. Senang saya lihat sampeyan berdua cerah berlumur senyum. Kayak rembulan bersinar.
Lho ini kok tumben bareng-bareng kemari, ada apa? Wah, pasti mau laporan ya, baru dapat beleid Pahlawan Nasional.
Pak Harto : Memang kalau proklamator seperti ngerti sakdurunge winarah. Ilmu tebaknya penuh presisi.
Gus Dur : Iya Bung, kan harus sowan dan lapor senior. Takut kualat.
Bung Karno : Itu Harto yang gak takut kualat sama saya. Dulu ngerjain saya malah.
Pak Harto : Jangan gitu lah Bung. Kan saya sudah berusaha mikul dhuwur mendhem jero. Apa Bung Karno gak tahu, ini Gus Dur juga ikut melengserkan saya kok. Tapi rapopo. Itu sejarah. Wong Gus Dur juga dilengserkan lebih cepet hehehe
Bung Karno : Yo wis, yang penting bagaimana bangsa kita rukun, rakyatnya tidak berantem. Dan bisa bergerak makin maju dan makmur. Itu yang paling penting. Tujuan merdeka kan itu.
Pak Harto- Gus Dur : Nggih leres, betul sekali. Dan juga penting bersedia belajar memetik hikmah sejarah untuk makin baik dan makin baik.
Bung Karno : Ini sampeyan berdua jangan menjadi pelupa ya. Ingat gak yang saya pernah bilang, Jasmerah. Jolali, jangan dilupakan, masih ada member klub kita. Pak Sjafruddin Prawiranegara. Tanpa beliau, Indonesia tidak akan ada sampai sekarang ini. Pak Sjaf Presiden juga, Presiden Darurat. Malah sudah duluan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Setahun sebelum saya.
Ayo kita sambangi Pak Sjaf.
Pak Harto-Gus Dur : Oiya ya. Ayo Bung. Kita kesana. Kita sudah kangen juga kopi kawa. Kan dulu beliau di Bukittinggi dan sekitarnya. Ngopinya beda dengan kita-kita. Masih ngopi dari daun kopi.
Bung Karno : Iya, kasihan juga memang. Presiden Darurat, kopinya juga kopi darurat.
BK, PH, GD : Hahaha (tawa bareng para pahlawan). Ayo berangkattttt!
Pak Sjaf : Mari-mari ngeriung di sini. Bahagia banget saya dapat tamu-tamu agung ini. Apalagi datang bareng2. Kalau para mantan Presiden bisa duduk bareng, tampil bersahabat meski berbeda pendapat, itu pasti menjadi kode yang baik bagi rakyat. Pemimpin itu kan cermin buat rakyat banyak. Kalau pemimpin suka berantem tanpa alasan kuat itu kan tidak dewasa. Kalau kita-kita ini childish, ya pantas juga kalau di luar kita berkelas TK dan PAUD.
Ya kan Bung?
Bung Karno : Ya, persis itu. Ya kadang memang kita ini makin tua mulai terjangkit penyakit kanak-kanak. Tapi kan bisa disembunyikan di laci kamar pribadi. Kalau di ruang tamu, teras, apalagi di jalan ya harus tampil dewasa. Dewasanya para pemimpin. Apa itu? Ya tampil negarawan lah.
Pak Sjaf itu contoh negarawan. Setelah menjadi Presiden Darurat sekitar 7 bulan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera, medio Juli 1949 kembali menyerahkan tampuk kepresidenan kepada saya. Gak tahu sudah berapa liter kopi kawa yang dikonsumsi Pak Sjaf di Sumbar.
Ada gak stoknya buat kita ngariung berempat sekarang?
Pak Harto : Bung Karno jangan gitu lah. Sekarang kita minum yang lain dong. Saya kebetulan bawa wedang uwuh. Ini minuman keluarga kerajaan keturunan Mataram. Kan saya baru melayat ke Kasunanan Solo. Nah, saya juga lihat Gus Dur juga bawa ramuan kopi jahe dari Pasuruan. Pasti itu dibawa santrinya Gus Dur yg sowan rombongan kemarin itu. Jangan kopi kawa lagi. Kalau Pak Sjaf ada stok ampiang dadiah, bolehlah. Buat dongkrak stamina.
Bung Karno : Harto ini memang ngeyel kalau sama saya. Sukanya bikin beda aja. Dasar koppig ya tetap koppig. Sudah di alam lain tetap keras kepala.
Gus Dur : Hahaha, sabar Bung. Ini kan cuma urusan wedangan. Mbok ya santai saja. Bung Karno kan juga suka wedang uwuh. Dulu sering disuguhi itu oleh Ngarso Dalem HB IX. Dan boleh coba kopi jahe yang saya bawa. Ada campuran habbatussauda. Jinten hitam. Pasti lebih greng.
Pak Sjaf : Sudah-sudah, kok malah debat sih. Jangan gara-gara sampeyan semua gak pernah Debat Capres, lalu bikin debat sendiri di alam barzah. Ayo kita santai wedangan saja. Saya suruh bikin teh talua terbaik nanti. Ada ahlinya yang kebetulan datang dari Koto Gadang. Dijamin maknyus.
Apa kita tidak undang Bung Hatta sekalian ini?
Bung Karno : Nanti saja kesempatan lain. Kan hari ini khusus untuk mangayubagyo Harto dan Durrahman yg baru saja dapat beleid kemarin itu. Ya ini khusus klub kita dulu. Membernya para mantan Presiden saja. Tapi ya nanti kita perluas dengan mantan Wapres juga.
Gus Dur? Kalau mantan Capres-Cawapres Bung?
Pak Harto : (Menyahut) Ya ndak usah lah. Kebanyakan itu. Apalagi kalau tambah dengan mantan Bacapres-Bacawapres hehehe
Tapi Bung, itu kok putri sampeyan masih uring-uringan sih? Kan kita sedang kompak ngariung di sini.
Bung Karno : Ya rapopo. Wajar juga. Yang penting kita bareng-bareng dukung dan senang kalau Indonesia bergerak maju makin menuju merdeka yang sesungguhnya. Dan itu artinya rakyat hidup makin hari makin baik. Tapi gausah ikut mimpi Tan Malaka, Merdeka Seratus Persen. Di bumi ndak ada itu. Adanya di surga. Nanti saja kita ajak itu Sutan Ibrahim waktu kita berombongan masuk surga.
Gus Dur : Wah, itu tiketnya mahal. Tapi tenang saja. Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun.
—-Semua Tertawa, Santai Senang—

