Wamen Nezar Patria, Bivitri, dan Inayah Wahid Bahas Tantangan Kesadaran Digital di Era Algoritma di Reuni Akbar Forum Alumni Pers Mahasisw Indonesia di Malang. Foto : Rommy Fibri.
MALANG, MEDIAJAKARTA.COM- Ratusan aktivis pers mahasiswa lintas generasi tumplek blek di Universitas Brawijaya, Malang, Sabtu (25/10/2025).
Mereka hadir dalam reuni akbar Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) bertajuk “Oase Gelap Terang Indonesia” — sebuah forum reflektif yang mengupas masa depan kebebasan berekspresi dan kesadaran digital di tengah pusaran teknologi.
Acara ini dibuka dengan seminar nasional yang menghadirkan tiga sosok penting: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria (@nezarpatria), pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, dan aktivis sosial Inayah Wahid. Diskusi berlangsung hangat, penuh gagasan kritis dan semangat lintas zaman.
Era Digital: Siapa yang Menguasai, Dialah yang Bertahan
Nezar Patria dalam paparannya mengingatkan pentingnya jurnalisme yang tetap berpijak pada nilai dan integritas di tengah gempuran teknologi.
“Good journalism itu diramu oleh critical thinking, skill, dan ethics,” tegas Nezar seperti dikutip Mediajakarta.com dari laman Facebook Rommy Fibri, salah satu alumnus Pers Mahasiswa Indonesia yang juga mantan Ketua AJI Jakarta (26/10/2025).
Menurutnya, di era kecerdasan buatan (AI), Internet of Things, dan cloud computing, kecepatan bukan lagi ukuran utama. “Yang lebih penting adalah kemampuan manusia membaca konteks dan makna di balik data,” ujar Nezar.
Demokrasi Bisa Semu Kalau Kita Diam
Pakar hukum Bivitri Susanti menyoroti sisi gelap dari dunia digital — terutama saat kebebasan berekspresi dibatasi oleh algoritma atau kekuasaan yang tak transparan.
“Kalau kita diam, demokrasi jadi semu,” ujarnya tajam.
Bivitri menekankan pentingnya keberanian bersuara dan memperjuangkan ruang publik yang bebas dari manipulasi informasi.
Inayah Wahid: “Kalau Informasi Disensor, Kapan Masyarakat Mau Pintar?”
Sementara itu, Inayah Wahid dengan gaya khasnya menyentil kondisi masyarakat digital yang semakin tergantung pada arus narasi besar tanpa banyak bertanya.
“Kalau masyarakat disensor informasinya, kapan mau pintar?” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kebebasan informasi dan literasi digital adalah fondasi agar masyarakat tak hanya jadi konsumen berita, tapi juga warga digital yang kritis.
Refleksi dari Forum Lintas Generasi
Reuni akbar FAA PPMI ini menjadi semacam ruang perenungan nasional: bagaimana para aktivis pers kampus dulu melihat ulang peran media hari ini—di tengah gempuran teknologi dan perubahan sosial yang makin cepat.
Dari forum ini mengalir satu pesan kuat: “Ruang digital bukan sekadar soal koneksi, tapi soal kesadaran (Wan)

