JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta makin bikin resah. Di tengah rencana besar Pemprov DKI melakukan penangkapan massal, pakar dari IPB University mengingatkan: satu cara saja tidak cukup.
Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Dr Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa penanganan ikan invasif ini harus dilakukan dengan strategi terpadu.
“Cara paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode sekaligus. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ujar Dr Charles seperti dikutip Mediajakarta.com dari laman resmi IPB (15/04/2026).
Reproduksi ‘Gila-Gilaan’, Sekali Bertelur Bisa 19 Ribu
Ikan sapu-sapu atau Pterygoplichthys pardalis memang bukan ikan biasa. Spesies invasif ini punya kemampuan berkembang biak yang sangat cepat.
Dalam satu siklus, seekor betina bisa menghasilkan hingga 19.000 telur, bahkan bisa berkembang biak beberapa kali dalam setahun. Parahnya lagi, tingkat keberhasilan hidupnya sangat tinggi.
“Ikan jantan menjaga telur di dalam liang sampai menetas. Tingkat kelangsungan hidupnya bisa lebih dari 90 persen,” jelas Charles.
Tak berhenti di situ, ikan ini juga bisa berkembang biak sejak ukuran masih kecil, membuat siklus invasinya makin sulit dihentikan.
Tanpa Predator, Sungai Jakarta ‘Dikuasai’
Di habitat aslinya seperti Sungai Amazon, ikan ini masih punya musuh alami seperti ikan besar dan reptil. Namun di Jakarta, terutama di Sungai Ciliwung, kondisi berbeda.
Minimnya predator membuat ikan sapu-sapu berkembang tanpa kontrol. “Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Ciliwung jadi alasan utama kenapa ikan ini sulit dikendalikan,” tegasnya.
Ini 3 Strategi Efektif Versi Pakar
Untuk mengatasi masalah ini, Charles menawarkan tiga strategi utama yang harus dijalankan secara bersamaan:
1. Pencegahan (Prevention)
Pemprov diminta memperketat aturan perdagangan ikan hias dan meningkatkan edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan ke alam liar.
Selain itu, teknologi seperti environmental DNA (eDNA) bisa digunakan untuk deteksi dini sebelum populasi meledak.
2. Penangkapan Terarah (Physical Removal)
Penangkapan tetap diperlukan, tapi harus lebih cerdas. Target utama adalah ikan berukuran kecil (di bawah 30 cm) karena lebih efektif menekan populasi.
Pelibatan masyarakat juga dinilai penting. Perburuan berbasis komunitas bisa efektif jika dilakukan serentak sepanjang aliran sungai.
“Ikan yang sudah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk benar-benar menekan jumlahnya,” ujarnya.
3. Kontrol Biologis (Biological Control)
Pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu bisa membantu, meski hanya efektif untuk fase juvenil ikan sapu-sapu.
Bisa Dimanfaatkan, Tapi Jangan Dimakan!
Charles juga membuka peluang pemanfaatan ikan sapu-sapu, namun bukan untuk konsumsi. Pasalnya, ikan ini berpotensi mengandung logam berat jika hidup di perairan tercemar. “Tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi karena berpotensi mengandung zat berbahaya,” tegasnya.
Harus Kompak dan Berkelanjutan
Dengan pendekatan terpadu yang melibatkan pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat, pengendalian ikan sapu-sapu di Jakarta diharapkan bisa lebih efektif.
Jika tidak, bukan cuma ekosistem yang rusak—ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan manusia juga bisa makin besar (Wan)

