JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM– Wacana perang Amerika Serikat melawan Iran justru disebut berbalik menjadi bumerang di dalam struktur kekuasaan Washington. Isu ini mencuat setelah laporan rahasia militer yang diduga berisi peringatan keras terhadap rencana serangan ke Teheran bocor ke publik.
Sedikitnya empat media besar Amerika—CBS, Axios, The Wall Street Journal, dan The New York Times—mengonfirmasi adanya peringatan dari Jenderal Dan Kane mengenai konsekuensi serius jika AS memulai perang dengan Iran.
“Rawan Jadi Rawa” bagi Amerika
Sejumlah media bahkan menyebut potensi konflik dengan Iran sebagai “rawa” bagi Amerika—sebuah perang yang mudah dimulai namun sulit diakhiri.
The Washington Post menulis bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan memperingatkan risiko besar serangan terhadap Iran, mulai dari kekurangan amunisi penting hingga minimnya dukungan sekutu yang dapat menciptakan ancaman signifikan bagi operasi dan pasukan AS.
Jenderal Dan Kane disebut menyampaikan bahwa stok persenjataan Amerika menyusut signifikan akibat dukungan berkelanjutan kepada Israel serta bantuan militer ke Ukraina. Kondisi ini dinilai membuat opsi perang besar menjadi jauh lebih berisiko dibandingkan kalkulasi politik di Gedung Putih.
Siapa Membocorkan?
Kebocoran “laporan rahasia Jenderal Kane kepada Trump di Gedung Putih” bukan dianggap peristiwa biasa. Sejumlah analis menilai informasi sensitif itu kemungkinan berasal dari kalangan markas besar militer dan Pentagon, pejabat tinggi Gedung Putih, atau kombinasi keduanya—yang sama-sama khawatir dan menolak opsi perang.
Dampaknya langsung terasa. Setelah kebocoran tersebut, manuver serangan terhadap Iran disebut makin sulit dilakukan. Presiden Donald Trump kini menghadapi tiga tantangan besar: perbedaan pendapat serius di kabinet, kecurigaan adanya kebocoran internal, serta melemahnya kredibilitas ancaman militer AS di mata publik internasional.
Tanpa satu pun peluru ditembakkan, perang melawan Iran disebut telah menjadi bumerang politik di dalam negeri Amerika.
Simbol Retaknya Moral?
Di tengah memanasnya isu tersebut, muncul pula laporan simbolik dari kapal induk USS Gerald R. Ford. Beberapa media menyebut para pelaut sengaja menyumbat sistem saluran pembuangan dengan kaos dan kaus kaki—sebuah bentuk protes diam-diam yang ditafsirkan sebagai tanda rendahnya kesiapan moral menghadapi konflik baru.
Meski belum ada konfirmasi resmi bahwa tindakan itu terkait langsung dengan isu Iran, narasi tersebut memperkuat gambaran keraguan internal dalam tubuh militer.
“Tekanan Maksimum” yang Retak
Mantan perwakilan Departemen Luar Negeri AS, Alan Eyre, menulis di platform X bahwa ketika utusan khusus AS mengakui “kejutan Trump atas ketahanan Iran”, maka pilar utama strategi tekanan maksimum pada dasarnya runtuh.
Sementara itu, mantan penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, menilai pendekatan pengerahan kekuatan untuk mengintimidasi Teheran tidak efektif.
“Trump berharap pengerahan kekuatan akan mengintimidasi para ayatollah. Tetapi itu tidak berhasil. Mereka tidak akan terintimidasi. Trump tidak berpikir secara strategis,” kata Bolton seperti dikutip Mediajakarta.com dari Sprinter Press (26/02/2026).
Iran Tak Lagi Takut Perang?
Situs analisis kebijakan luar negeri Responsible Statecraft menulis bahwa Teheran awalnya berusaha menghindari konflik terbuka. Namun setelah rangkaian eskalasi dan keterlibatan langsung AS dalam dinamika kawasan, kehati-hatian itu disebut mulai memudar.
Iran kini disebut tak lagi merasa berada di ambang perang yang bisa dicegah, melainkan sudah berada dalam siklus konflik. Untuk memutus siklus itu, Teheran diyakini tengah mempertimbangkan perubahan medan pertempuran—baik secara taktis maupun strategis.
Lebih jauh, analisis tersebut menyebut potensi militer Iran dapat mempercepat penurunan hegemoni global AS. Yang menahan Washington bukan semata pertimbangan politik, melainkan kemampuan nyata Iran menyeret Amerika ke dalam perang gesekan yang berat dan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Di tengah tarik-menarik kepentingan itu, satu hal menjadi jelas: bahkan sebelum perang dimulai, bayang-bayangnya sudah mengguncang fondasi politik dan militer Amerika Serikat (Wan)

