Apa yang Bisa Investor Saham di Jakarta Pelajari dari 60 Tahun Kesabaran Warren Buffett

Bisnis News Terkini

Warren Buffett. Foto : Ist.

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Di Jakarta, layar ponsel jarang benar-benar mati. Grafik saham bergerak cepat, notifikasi rekomendasi berdenting, grup Telegram dan WhatsApp penuh bisikan: “gorengan hari ini”, “siap terbang”, atau “cut loss sekarang!”.

Di tengah hiruk-pikuk itu, kisah Warren Buffett terasa seperti suara dari dunia lain.

Selama lebih dari 60 tahun, pria yang kini resmi lengser dari pucuk Berkshire Hathaway itu justru membangun kekayaan dengan satu kebiasaan yang jarang dipraktikkan investor modern: menunggu.
Bukan menunggu sinyal teknikal.
Bukan menunggu rumor.
Tapi menunggu waktu bekerja.

Kesabaran yang Mengalahkan Kecepatan

Sejak 1965, Buffett mencatatkan return sekitar 6,1 juta persen—angka yang terdengar hampir tidak masuk akal.

Ia melakukannya bukan dengan ratusan transaksi per hari, melainkan dengan sedikit keputusan, tapi sangat panjang napasnya.

Pelajaran pertama untuk investor Jakarta jelas:Kecepatan bukan selalu keunggulan.
Di pasar seperti BEI, banyak investor ritel terjebak dalam ilusi bahwa semakin sering transaksi, semakin besar peluang untung.

Padahal, Buffett justru percaya bahwa kesalahan terbesar datang dari terlalu banyak bertindak, bukan terlalu sedikit.

Beli Bisnis, Bukan Kode Saham

Buffett terkenal dengan kalimatnya: “I don’t buy stocks, I buy businesses.”

Ia mempelajari model bisnis, keunggulan kompetitif, manajemen, dan ketahanan jangka panjang—lalu menahan saham itu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Di Jakarta, saham sering diperlakukan seperti:tiket undian, alat spekulasi jangka pendek, atau sekadar kode empat huruf di layar.

Padahal pelajaran Buffett mengajak investor bertanya lebih dalam:
– Apakah bisnis ini masih relevan 10–20 tahun ke depan?

– Apakah produknya benar-benar dibutuhkan masyarakat?
– Apakah manajemennya bisa dipercaya?
Jika jawabannya tidak jelas, Buffett memilih tidak ikut, meski semua orang sedang euforia.

Tidak Semua Peluang Harus Diambil

Buffett juga terkenal karena sering melewatkan peluang. Ia tidak ikut saham teknologi di era awal jika tidak memahami bisnisnya. Ia tidak takut terlihat “ketinggalan”.

Bagi investor Jakarta—terutama generasi muda—ini pelajaran penting. FOMO (fear of missing out) sering kali lebih mahal daripada rugi sesaat.

Buffett mengajarkan bahwa:
Tidak kehilangan uang jauh lebih penting daripada cepat mendapat uang.

Pasar Boleh Panik, Investor Jangan

Selama 60 tahun, Buffett melewati:
krisis minyak, crash 1987,dot-com bubble,
krisis finansial global 2008, hingga pandemi.

Pasar panik berkali-kali. Buffett tetap dengan prinsipnya. Ia bahkan sering membeli saat orang lain ketakutan.

Untuk investor Jakarta, yang kerap cemas saat IHSG merah: Volatilitas adalah harga yang harus dibayar untuk hasil jangka panjang.

Pasar naik-turun itu normal. Yang tidak normal adalah menjual aset bagus hanya karena takut sehari-dua hari.

Jakarta, Kesabaran, dan Masa Depan

Jakarta adalah kota yang bergerak cepat. Namun justru di kota seperti inilah filosofi Buffett paling relevan.

Ia membuktikan bahwa: konsistensi mengalahkan sensasi, disiplin mengalahkan rumor,dan kesabaran mengalahkan hampir semua strategi jangka pendek.

Saat Buffett lengser, ia meninggalkan lebih dari sekadar angka. Ia meninggalkan cara berpikir—bahwa kekayaan sejati dibangun bukan dengan tergesa-gesa, tapi dengan keyakinan jangka panjang.

Bagi investor saham di Jakarta, mungkin inilah pelajaran terpenting dari 60 tahun perjalanan Warren Buffett: Pasar bisa berubah setiap hari. Prinsip yang benar, jika dijaga, bisa bekerja seumur hidup (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *