Matraman: Jejak Pasukan Sultan Agung yang Menjelma Menjadi Jantung Jakarta

Histori Jakarta News Terkini

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM– Bayangkan Jakarta pada suatu pagi sekitar tahun 1628. Kabut tipis masih menggantung di atas rawa dan hutan yang mengelilingi Batavia.

Dari arah selatan, ribuan prajurit bersenjata tombak, keris, pedang, dan senapan sumbu perlahan bergerak mendekati benteng VOC.

Mereka bukan pasukan sembarangan. Mereka adalah tentara Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar Jawa pada abad ke-17. Misi mereka sangat jelas: mengusir Belanda dari Batavia.

Empat abad kemudian, nama pasukan itu masih hidup—bukan dalam bentuk benteng atau monumen perang, melainkan pada sebuah kawasan padat di Jakarta Timur yang setiap hari dilintasi ratusan ribu orang. Namanya: Matraman.

Dari “Mataram” Menjadi “Matraman”

Banyak sejarawan meyakini nama Matraman berasal dari penyebutan masyarakat Betawi terhadap Mataram.

Lidah lokal secara perlahan mengubah pengucapan “Mataram” menjadi “Matraman”, sebagaimana banyak nama tempat di Batavia yang mengalami perubahan fonetik selama berabad-abad.

Namun nama itu bukan sekadar kebetulan.
Ia diyakini berkaitan langsung dengan keberadaan pasukan Sultan Agung yang pernah bermarkas di kawasan tersebut ketika melakukan dua ekspedisi besar menyerang Batavia pada 1628 dan 1629.

Mataram Dalam: Kampung Para Prajurit Raja

Salah satu petunjuk sejarah paling menarik adalah keberadaan kawasan bernama Mataram Dalam.

Kata “Dalam” dalam tradisi Jawa memiliki makna yang sangat khusus. Ia sering dikaitkan dengan lingkungan istana, keluarga kerajaan, atau kawasan yang diperuntukkan bagi orang-orang dekat raja.

Karena itu, muncul dugaan menarik bahwa Mataram Dalam dahulu merupakan kawasan permukiman bagi pasukan elite atau keluarga prajurit Kesultanan Mataram yang tetap tinggal di sekitar Batavia setelah ekspedisi Sultan Agung berakhir.

Walaupun bukti arkeologis yang memastikan fungsi tersebut masih terbatas, tradisi penamaan ini menjadi jejak budaya yang memperkuat hubungan kawasan itu dengan Kesultanan Mataram.

Mengapa Sultan Agung Memilih Kawasan Ini?

Pada abad ke-17, wilayah Matraman bukanlah kawasan perkotaan. Daerah ini dipenuhi hutan, kebun, sawah, dan sungai-sungai kecil yang terhubung menuju Ciliwung.

Lokasinya cukup dekat dengan Batavia, tetapi masih berada di luar jangkauan langsung meriam VOC. Tempat seperti ini sangat ideal dijadikan: markas logistik, gudang persediaan beras,
tempat merawat prajurit,
titik konsolidasi sebelum menyerang benteng Belanda.

Di sinilah ribuan prajurit Mataram diyakini pernah berkemah sambil menunggu perintah penyerbuan.

Perang Terbesar Melawan VOC

Serangan Sultan Agung menjadi salah satu ancaman terbesar yang pernah dihadapi VOC. Puluhan ribu prajurit dikerahkan dari berbagai wilayah Jawa.

Namun Belanda berhasil bertahan. VOC menghancurkan lumbung pangan Mataram, memutus jalur logistik, serta memanfaatkan wabah penyakit yang melanda pasukan penyerang.

Kekalahan itu mengubah sejarah Nusantara.
Batavia tetap berdiri sebagai pusat kekuasaan Belanda selama lebih dari tiga abad berikutnya.

Namun jejak pasukan Mataram tidak pernah benar-benar hilang. Ia tertinggal dalam nama tempat.

Dari Medan Perang Menjadi Kota Modern

Memasuki abad ke-19, Matraman berkembang menjadi kawasan perkebunan dan permukiman di pinggiran Batavia.

Ketika jalur trem, jalan raya, dan rel kereta dibangun, Matraman berubah menjadi simpul transportasi penting.

Pada masa kemerdekaan hingga sekarang, kawasan ini berkembang menjadi salah satu wilayah paling padat di Jakarta.

Pasar tradisional, sekolah, rumah sakit, pusat perdagangan, hingga jalur TransJakarta dan stasiun kereta bahkan toko buku terbesar di Asia Tenggara, Gramedia juga berada di sini, menjadikan Matraman sebagai denyut kehidupan ibu kota.

Sedikit orang menyadari bahwa jalan-jalan yang mereka lalui setiap hari dahulu mungkin pernah diinjak ribuan prajurit Sultan Agung.

Nama yang Menjadi Penjaga Ingatan

Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk candi atau benteng. Kadang ia bertahan melalui nama. Matraman adalah salah satunya.

Setiap papan penunjuk jalan bertuliskan “Matraman” sesungguhnya mengingatkan Jakarta pada babak penting ketika sebuah kerajaan besar dari pedalaman Jawa pernah berusaha mengakhiri kekuasaan VOC di Batavia.

Mungkin benteng-benteng itu telah hilang.
Kemah-kemah prajurit telah lama menjadi deretan rumah dan pertokoan.

Namun nama Matraman tetap menjadi saksi bisu bahwa kawasan ini pernah berada di garis depan salah satu perang terbesar dalam sejarah Nusantara.

Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan gedung-gedung modern, gema langkah pasukan Sultan Agung seolah masih berbisik dari masa lalu—mengingatkan bahwa setiap sudut Jakarta menyimpan kisah yang jauh lebih tua daripada yang tampak di permukaan (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *