Ilustrasi anggota dewan meninjau pasar. Dok : Mediajakarta.com/Gemini.
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM — Komisi C DPRD DKI Jakarta menggelar rapat evaluasi bersama Perumda Pasar Jaya untuk membahas rencana revitalisasi pasar.
Dalam rapat tersebut, Komisi C menegaskan revitalisasi tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin, melainkan harus mampu menjawab persoalan nyata yang selama ini dikeluhkan pedagang dan masyarakat.
Sekretaris Komisi C DPRD DKI Jakarta, Ismail, menekankan pentingnya pengelolaan pasar yang lebih baik dan menyeluruh. Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah maraknya pasar tumpah yang dinilai merugikan pedagang resmi.
“Revitalisasi jangan hanya menjadi rutinitas. Harus bisa menjawab persoalan yang selama ini dikeluhkan, salah satunya fenomena pasar tumpah. Pedagang eksisting menjadi sepi dan merugi karena pembeli sudah dicegat di pinggir jalan. Masyarakat pengguna jalan pun merasa terganggu,” ujar Ismail, Rabu (14/1).
Meski demikian, Ismail menegaskan Komisi C tidak menentang program revitalisasi pasar. Ia justru mendorong agar program tersebut memberikan dampak positif bagi seluruh pihak, baik pedagang, pengelola, maupun masyarakat.
Selain aspek penataan, Komisi C juga menyoroti pentingnya optimalisasi aset Pasar Jaya melalui konsep monetizing asset. Ismail mendorong penerapan konsep mixed-use, terutama untuk pasar-pasar yang berada di lokasi strategis dan kawasan berorientasi Transit Oriented Development (TOD).
“Lahan di Jakarta sangat mahal. Jangan sampai aset Pasar Jaya yang berada di kawasan strategis hanya dimanfaatkan sebagai pasar semata. Akan lebih optimal jika dikembangkan dengan konsep mixed-use,” jelasnya.
Tak hanya itu, peningkatan kualitas fasilitas pendukung seperti MCK juga menjadi perhatian. Menurut Ismail, fasilitas tersebut harus menjadi bagian dari supporting system yang dikelola dengan baik agar nyaman dan mampu menarik minat masyarakat datang ke pasar.
“Bukan sekadar ada, tetapi justru bisa menjadi pemikat. Mungkin awalnya masyarakat hanya mampir ke toilet, tetapi akhirnya berbelanja di pasar,” ucapnya.
Dalam rapat tersebut, isu retribusi sampah turut dibahas. Ismail menilai retribusi sampah perlu dikelola secara jelas, apakah sebagai kontribusi kepada Pemprov DKI atau sebagai potensi pendapatan.
“Jika retribusi sampah memiliki potensi meningkatkan pendapatan, maka harus dikelola dengan baik. Kami tidak menolak langkah Pasar Jaya mengelola sampah secara mandiri untuk menghasilkan revenue, tetapi kontribusinya terhadap PAD juga harus dioptimalkan,” katanya.
Komisi C juga menyinggung penurunan dividen Pasar Jaya. Namun, Ismail menyebut hal tersebut masih bersifat sementara karena baru sebatas Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang akan terus dibahas lebih lanjut.
“Ini masih RKA dan tadi juga sudah direvisi. Kami berharap dengan berbagai masukan dan insight dari jajaran direksi baru, Pasar Jaya ke depan bisa semakin optimal,” tandasnya (Wan).

