Batavia (1619–1942)

0 27

Pasukan Pangeran Jayakarta menyerahkan tawanan Belanda kepada Pangeran Jayakarta.

Orang Belanda
datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada
tahun 1596.
Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan
Banten
. Pada 1619,
VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta
setelah mengalahkan pasukan Kesultanan
Banten
dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia.

Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan
penting. (Lihat Batavia). Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor
budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi,
Maluku,
Tiongkok, dan pesisir Malabar, India.
Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang
dikenal dengan nama suku Betawi.

Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua
di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat
Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan
suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme Belanda, membentuk
wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas
komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung
Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di
Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan
ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan
terhadap Belanda.

Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada
tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 di Ibukota
Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente Batavia dan
Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah
ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di
utara. Pada tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara)
telah terintegrasi menjadi sebuah wilayah Jakarta Raya.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk
pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau
Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie
West Java
adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Jawa yang
diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam
Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438,
dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West
Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.(Wikipedia).

Leave A Reply

Your email address will not be published.