Joget Dangdut KH Ma’ruf Amin, Blunder Bagi Jokowi

5 3.552

Oleh : KH. Umar Sanusi.

Kampanye pilpres 2019 mempertaruhkan segalanya. Keterlibatan ulama dianggap memiliki nilai strategis yang mampu mendongkrak suara. Kubu Prabowo menggunakan Ijtima Ulama. Sedangkan kubu Jokowi, tidak tanggung tanggung, mengusung KH. Maruf Amin sebagai pendamping Jokowi.  Ke-ulama-an KH. Maruf Amin tentu tak diragukan lagi. Di samping beliau sebagai ketua MUI juga sebagai Rois Aam Syuriah PBNU.

Perang opinipun tak terhindarkan. KH. Maruf Amin mempertanyakan ke-ulama-an peserta Ijtima Ulama. Apakah mereka ulama betulan ? punya pondok pesantren di mana ? Kyai siapa ? Intinya ke-ulama-an peserta Ijtima Ulama diragukannya.

Akhirnya ramai dibicarakan di masyarakat. Tentang siapakah yang bisa disebut ulama. Yaitu ulama yang bisa dijadikan panutan dan suri tauladan. Karena bagi masyarakat, ulama adalah jabatan sakral. Kesakralannya terletak pada kedalaman ilmunya serta ketinggian akhlaqnya. Ulama yang sering melakukan riyadloh, puasa, dzikrullah, qiyamul lail serta ibadah-ibadah sunnah lainnya mempunyai kedudukan tinggi di masyarakat. Mereka didatangi untuk dimintai doa, karena dianggap doanya mustajab. Bahkan ulama seperti itu dianggap wali Allah. Menjauhkan diri dari kenikmatan dunia, mengutamakan kehidupan akhirat.Masyarakatpun rela diarahkan oleh ulama seperti itu. Apa kata ulama pasti dianut oleh masyarakat..

Posisi KH. Maruf Amin seharusnya diposisikan sakral seperti itu. Agar kewibawaannya muncul dan daya pikatnya kuat. Akhirnya fatwanya diikuti. Meskipun beliau tidak dalam kapasitas ketua MUI. Kekuatan KH. Maruf Amin justru terletak pada ilmu dan kepribadiannya. Seharusnya KH. Maruf Amin mampu membangun narasi yang tepat, dalil yang kuat serta logika yang cemerlang, mengapa harus memilih Jokowi. Kemaslakhatan apa yang bisa didapat jika presidennya adalah Jokowi.

Inilah yang tidak digarap oleh tim sukses Jokowi. KH. Maruf Amin justru dilemahkan kepribadiannya. Beliau dihadirkan dalam sebuah acara dangdutan. Dengan penyanyi cantik, meliuk liuk, hingar bingar, campur baur laki laki perempuan. Dan tragisnya sang kyai inipun tidak keberatan bahkan turut berjoget. Meski jogetnya kurang kaffah. Tampaknya sang kyai harus mulai membiasakan diri dengan urf PDIP. Di mana ada kampanye, disitu ada joget dangdutnya.

Sampai di sini, tamat sudah KH. Maruf Amin. Siapa yang mempercayainya sebagai ulama? Pantaskah ulama berjoget ria ? Masihkah fatwanya didengar ? Atas dalil apa ulama boleh berjoget ria bersama biduwanita ? Inilah PR yang harus dijawab KH. Maruf Amin.

Demikianlah kebodohan tim sukses Jokowi. Tak mampu mendudukkan KH. Maruf Amin pada posisi terhormat layaknya ulama. Dan inilah kekhilafan KH. Maruf Amin yang tak mampu mengarahkan pendukungnya. Jika terhadap pendukungnya saja beliau tak mampu mengarahkannya pada petunjuk apalagi kepada masyarakat Indonesia secara luas.

Mohon maaf pak kyai.  …. nasib ke-ulama-an Anda sudah tamat. ***

  1. Rambe says

    Videonya mana min ?

    1. admin says

      ada banyak tershare di group wa… tpi kami ngak menampilkan disini kecuali fotonya untuk mengelangkapi tulisan pak KH Umar Sanusi di atas.. Mas Rambe, bisa liat di link ini https://www.youtube.com/watch?v=SU49rOoRtQk salam..

  2. yanto says

    Justru yang blunder yang nulis berita. Tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik. Tulisannya berdasarkan opini sendiri. Bukan dr narasumber tertentu. Kalo mau kritik jgn lucu

    1. admin says

      ini memang tulisan kolom, bukan news… tpi ditulis berdasarkan opini penulisnya… terimakasih..

  3. Resa says

    Pada sistem demokrasi yang selalu mencampuradukan antara yang hak dan yang bathil dan juga tidak jarang menghalalkan segala cara demi menggapai dan mempertahankan kekuasaan ini memang tidak pantas kita jadikan sistem dalam kehidupan ini terutama dikalangan kaum muslim.

    Rusaknya sistem demokrasi ini antara lain, yang berhak membuat hukum adalah manusia sedangkan di dalam Islam, membuat hukum adalah hak Allah.
    sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :
    “Sesungguhnya keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah (TQS.Yusuf[12]:40).
    Demokrasi lahir dari akidah sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kekuasaan/kehidupan. Negara demokrasi tidak memberi ruang kepada agama untuk mengatur pemerintahan. Agama dijauhkan dari pembuatan undang-undang dan peraturan. Rakyat sebagai sumber kedaulatan karenanya rakyatlah yang berhak membuat undang-undang, diwakili oleh anggota legislatif yang dipilih berdasarkan suara mayoritas. Tuhan tidak mempunyai hak untuk membuat undang-undang dan peraturan. Sekalipun undang-undang/peraturan itu bertentangan dengan agama manapun tetap bisa disahkan asal didukung suara mayoritas rakyat, seperti undang-undang/peraturan yang melegalkan zina, judi, narkoba, dan perbuatan-perbuatan maksiat lain. Bahkan suatu kemaksiatan yang tidak pernah dilakukan oleh binatang sekalipun dilegalkan oleh negara demokrasi.

    Masuknya sosok ulama kedalam sistem Demokrasi ini justru menjadi pelegitimasi kebatilan. Islam menempatkan ulama sebagai sosok mulia. Seperti yang kita ketahui bahwa para ulama itu mempunyai peranan penting yang diwarisi oleh Nabi untuk mengajak umat Islam agar senantiasa menjalankan kehidupannya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunah. Ulama berperan menjaga umat dari kemunkaran, dan sosok yang ada di baris terdepan dalam aktivitas dakwah dan amar makruf nahi munkar. Allah mewajibkan kepada seluruh kaum muslimin untuk mendakwahkan ajaran Islam/amar makruf nahi munkar. Tentu lebih-lebih lagi para ulamanya. Karenanya ulamalah seharusnya memimpin mengajak kepada yang makruf (ketaatan kepada Allah) dan memimpin mencegah kemungkaran (kemaksiatan). Tidak dibenarkan sama sekali duduk berbarengan menyaksikan kemaksiatan.

    Wallahu a’lam

Leave A Reply

Your email address will not be published.