Prabowo dan Strategi Sun Tzu

Oleh: Sumaryoto Padmodiningrat, Chief Executive Officer (CEO) Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

0 499

“Senjata paling ampuh dalam sebuah perang adalah strategi.” (Sun Tzu, 544-470 SM). “Strategi”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti “rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.”

Sebagai mantan Komandan Jenderal Kopassus, sudah barang tentu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah “khatam” akan strategi perang, tak terkecuali strategi perang ala Sun Tzu, seorang jenderal, ahli strategi militer, dan filsuf dari zaman Tiongkok kuno.

“Pertahanan terbaik adalah menyerang,” demikian salah satu strategi Sun Tzu yang sangat populer. Strategi ini pula yang kini diterapkan Prabowo Subianto menghadapi kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Apalagi Prabowo adalah seorang penantang yang akan mengalahkan petahana Presiden Joko Widodo.

Serangan demi serangan pun gencar dilancarkan kubu Prabowo, salah satunya melalui gerakan tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden yang akan berlanjut dan bersinergi dengan #2019PrabowoPre Siden.

Terlepas ada pro-kontra, #2019GantiPresiden yang diinisiasi politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera, dan #2019PrabowoPre Siden yang diinisiasi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, yang diimplementasikan di daerah-daerah dengan aksi gerak jalan dan sejenisnya, adalah ide cerdik.

Terbukti, bukan hanya pemerintah yang dibuat kebakaran jenggot, aparat keamanan pun dibuat repot, sehingga energi petahana akan terkuras.

Tak mau ambil risiko, aparat keamanan kemudian mengeluarkan larangan aksi #2019GantiPresiden di sejumlah daerah. Larangan ini tentu kontraproduktif, mengingat aksi tersebut merupakan hak konstitusional warga di negara demokrasi seperti Indonesia.

Bahkan kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat dijamin oleh konstitusi, khususnya Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Hal tersebut juga diatur dalam UU No 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Mengemukakan Pendapat di Muka Umum. Di sinilah kubu Prabowo bisa “mencuri” poin dari pihak lawan.

Teranyar adalah aksi jalan sehat di Solo, Jawa Tengah, kampung halaman Presiden Jokowi, Minggu (9/9/2018), yang bertepatan dengan Hari Olah Raga Nasional (Haornas), sehingga lokasinya sempat berpindah dari Kota Barat ke Gladak demi tidak menimbulkan gesekan dengan pihak lain yang juga menyelenggarakan acara serupa untuk memperingati Haornas.

Di luar dugaan, acara jalan sehat tersebut menurut klaim Amien Rais diikuti 90 ribu orang.

Ini merupakan pukulan telak bagi petahana Presiden Jokowi yang akan maju kembali pada Pilpres 2019. Prabowo melancarkan serangan tepat di jantung Jokowi.

Langkah Prabowo melancarkan serangan di jantung pertahanan lawan ini selaras dengan Strategi ke-2 dari 36 Strategi Sun Tzu, yakni “Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao”.

Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Ketahuilah bahwa musuh tidak selalu kuat di semua lini.

Entah di mana, pasti ada celah kelemahan di antara kekuatannya, yang dapat diserang. Dengan kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis. Secara psikologis, Jokowi pasti terpukul.

Hal tersebut juga sejalan dengan Strategi ke-19 dari 36 Strategi Sun Tzu, yakni, “Jauhkan kayu bakar dari tungku masak.”

Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung, anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan pondasinya dan menyerang sumber dayanya.

Langkah Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden (cawapres) juga sejurus dengan Strategi ke-6 dari 36 Strategi Sun Tzu, yakni, “Berpura-pura menyerang dari timur tapi menyeranglah dari barat.”

Pada setiap pertempuran, elemen dari sebuah kejutan dapat menghasilkan keuntungan ganda. Bahkan ketika berhadapan langsung dengan musuh, kejutan masih dapat digunakan dengan melakukan penyerangan saat mereka lengah. Untuk melakukannya, anda harus membuat perkiraan akan apa yang ada dalam benak musuh melalui sebuah tipu daya.

Publik, terutama lawan-lawan politiknya, semula mengira Prabowo akan mengambil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Komando Satgas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, atau salah satu dari dua nama yang direkomendasikan Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), yakni Ustaz Abdul Somad dan Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri, sebagai cawapresnya. Namun di luar dugaan, Prabowo justru memilih Sandi yang saat itu menjabat Wakil Gubernur DKI.

Pilihan Prabowo ini tepat. Terbukti, hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi meroket tajam, mendekati elektabilitas Jokowi-KH Maruf Amin. Hasil survei ini jauh berbeda dengan survei-survei sebelum Prabowo memilih Sandi sebagai cawapres.

Akankah Prabowo-Sandi mengalahkan Jokowi-Maruf? Di dunia politik, tak ada yang tak mungkin. Semua serba mungkin.

Politik adalah seni menjajaki kemungkinan-kemungkinan. Bahkan bila berkaca dari kemenangan Khofifah Indar Parawansa dalam Pilkada Jawa Timur 2018, kemungkinan Prabowo mengalahkan Jokowi sangat besar.

Khofifah baru menang setelah tiga kali ikut Pilkada Jatim, dan Prabowo pun kemungkinan akan menang setelah tiga kali ikut pilpres. Wallahu a’lam! (***)

Leave A Reply

Your email address will not be published.