Greenpeace : Kualitas Udara Jakarta Buruk

0 30

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Ditengah momentum pagelaran pesta olahraga ASIAN Games 2018, sebuah kampanye lingkungan dilincurkan oleh Greenpeace Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan.

Kampanye Greenpeace dilakukan dengan cara memasang sebuah pesan pada poster berukuran raksasa di papan iklan yang berlokasi di Jalan Jend. Gatot Soebroto dengan pesan #WeBreatheTheSameAir.

“Pesan yang disampaikan Greenpeace lewat baliho raksasa ini untuk memberikan peringatan kepada publik serta para delegasi ASIAN Games 2018 terkait kualitas udara di Jakarta yang masuk kategori buruk,” terang Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, melalui siaran persnya, Selasa (21/8/2018).

Menurut Bondan, pesan ini disampaikan merujuk pada data kualitas udara Jakarta yang diambil Greenpeace dari pemantauan alat kualitas udara milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, serta tiga alat milik Greenpeace.

Berdasarkan data yang diolah dari stasiun pantau Particular Matter (PM) 2,5, di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan dalam satu bulan terakhir, kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat selama 22 hari.

Bahkan, berdasarkan versi aplikasi pemantauan udara AirVisual dinyatakan bahwa Jakarta menduduki peringkat pertama kota berpredikat kualitas udara buruk di antara kota-kota besar di dunia lain per 11 Agustus 2018.

Kualitas udara di Jakarta berdasarkan alat pemantau BMKG menunjukan angka 87,3 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, data stasiun pemantauan Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) pada tanggal yang sama di Jagakarsa, Kelapa Gading, dan Kebon Jeruk milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menunjukan kategori tidak sehat.

“Mengacu dari data-data ini, Greenpeace meminta pemerintah segera mencari solusi nyata, mengingat mata dunia sedang tertuju pada Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games 2018. Solusi menekan sumber polusi harus dilakukan dalam satu komando yang jelas, karena ini akan mencakup lintas kementerian dan kepentingan, mulai dari permasalahan transportasi, industri, sampai pembangkit yang harus dibatasi dan diatur secara ketat,” imbuh Bondan.

Bondan menegaskan, kualitas udara yang buruk dapat membahayakan kesehatan warga dan meningkatkan risiko kematian dini. Partikel polutan yang paling berbahaya PM 2.5 dapat terhirup dan mengendap di organ pernafasan.

Bahkan, jika terpapar dalam jangka panjang, PM 2.5 dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut terutama bagi anak-anak, hingga kanker paru-paru. Selain itu, PM 2.5 dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang dapat memicu stroke, penyakit kardiovaskular, penyakit jantung lain, serta dapat membahayakan ibu hamil.

“Ini adalah ancaman kesehatan nyata bagi semua orang, mulai dari balita, anak-anak, atlet dunia yang saat ini berkunjung ke Jakarta hingga jutaan pekerja yang setiap harinya hilir mudik di Jakarta. Ini adalah kepentingan kita bersama, akses terhadap udara bersih adalah hak hidup masyarakat”, ujar Bondan.

Dia pun menerangkan tingkat polusi udara yang sangat tinggi telah menimbulkan biaya kesehatan dan kerugian ekonomi yang besar.

Pada 2010, menurutnya, penelitian Kementerian Lingkungan Hidup dan menyatakan bahwa 57,8 persen dari total penduduk Jakarta yang mencapai 9.607.787 jiwa, mengidap penyakit yang ditimbulkan akibat polusi udara.

Dia menambahkan total biaya kesehatan yang harus dibayar warga Jakarta untuk mengobati penyakit tersebut mencapai Rp38,5 triliun. (RIL/MJ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.