Koalisi Prabowo Diacak-acak Lawan

0 52

Oleh: Tengku Zulkifli Usman*

Ketegangan politik antara Prabowo-SBY atau gerindra-demokrat yang diuntungkan adalah blok jokowi. Tidak adanya titik temu antara PKS-PAN dengan Prabowo, yang dirugikan adalah prabowo dan semua anggota koalisi oposisi.

Dalam hal ijtima’ ulama, tidak ada yang salah dengan ijtima’ itu, yang salah adalah sikap umat dalam menyikapi ijtima’ dan berlebihan memaksa prabowo untuk ikut ijtima’. Secara fikih politik sikap umat ini salah fatal dengan fikih realitas yang ada.

Alhamdulillah sudah hampir 100% cawapres prabowo bukan hasil ijtima’ ulama, hanya sisa AHY dan Sandiaga, saya dari awal menolak rekomendasi ulama karena kita akan memudahkan kemenangan jokowi.

UAS dan SSA sudah final bukan cawapres prabowo, maka umat segera harus fokus dengan sandiaga dan AHY, tidak lagi berpolemik macam macam.

Karena memang, koalisi prabowo jika bergandengan tangan dengan demokrat plus PAN-PKS adalah koalisi yang cukup kuat, makanya sebisa mungkin dipecah.

Komposisi diatas secara otomatis akan menarik gerbong lain semisal Yusril dan Tommy Seoharto untuk menguatkan barisan prabowo, kita butuh tambahan logistik, ini yang tidak dikehendaki oleh lawan.

Yusril lebih tertarik dengan ajakan SBY dan Tommy lebih tertarik dengan ajakan prabowo, tapi jika salah satunya bubar maka akan buyar kembali.

Koalisi jokowi diakhir akhir ini juga mengalami goncangan, PKB masih wait and see meskipun sangat kecil kemungkinan PKB keluar dari barisan jokowi.

Antara Sandiaga dan AHY sama sama bernilai jual bagus, namun minusnya adalah Sandiaga masuk di detik detik akhir, akan lain ceritanya jika nama sandiaga masuk sejak awal.

Masuknya nama Sandiaga di akhir-akhir masa pendaftaran capres beresiko negatif terhadap koalisi Prabowo, terutama setelah mencuat isu sandiaga bayar mahar 500M.

Terlepas dari benar tidaknya mahar 500M tersebut, koalisi Prabowo akan menanggung resiko politik yang tidak kecil selama masa kampanye, isu 500M itu benar-benar akan menghantam Prabowo jika benar akhirnya sandiaga yang dipilih.

Isu mahar 500M ini akan sangat menguat nantinya sebagai bahan pihak lawan, karena akan mudah diserang bahwa koalisi Prabowo adalah koalisi fulus, fulus mengalahkan ulama, meskipun faktanya tidak demikian.

Akan lebih aman jika Prabowo memilih AHY jika pilihannya hanya dua calon tersebut, ini bukan soal like atau dislike, ini soal beban politik koalisi keummatan yang akan kena getah isu mahar 500M sepanjang proses Pilpres.

Tudingan Andi Arief soal mahar 500M ke PKS dan PAN tidak bisa begitu saja ditepis apalagi jika di last minutes Sandiaga firm dipilih menyisihkan AHY.

Apalagi jika PAN dan PKS juga Gerindra tidak benar-benar melaporkan ke polisi tentang tudingan Andi Arief tersebut, kalau hanya gertak saja maka publik akan menilai mahar 500M itu benar adanya.

Ini bukan murni kesalahan fatal Prabowo ketika memunculkan nama Sandiaga di detik akhir, ini lebih karena buntunya kompromi antara Prabowo dengan partai koalisi yang sangat ngotot rebutan jatah cawapres.

PKS ngotot ajukan Salim Segaf, PAN ngotot usung UAS, dan PKS-PAN bersikukuh menolak AHY sebagai cawapres Prabowo, nama Sandiaga muncul karena kengototan itu.

Jika PKS dan PAN tidak ngotot dan memilih rasional dan realistis bahwa mereka memang berada di bawah level Demokrat, maka hampir 100% nama Sandiaga gak akan muncul dan “fitnah” 500M itu gak akan ada.

Prabowo sejak awal sebenarnya sudah memilih nama AHY sebagai cawapres nya, PAN-PKS ngancam ngancam, lalu Prabowo ikut goyang.

Kalau saja Sandiaga yang dipilih Prabowo lalu Demokrat angkat kaki dari koalisi Prabowo, maka hitungan hasil Pilpres mudah ditebak, 9 partai blok Jokowi lawan sisa 3 partai di blok Prabowo.

Disini butuh kerja ekstra keras bagi Prabowo untuk meyakinkan Demokrat agar tidak angkat kaki jika Sandiaga yang akhirnya dipilih, tapi kecil kemungkinan Demokrat akan terima begitu saja AHY disisihkan di detik akhir.

Akan ada konsekuensi serius buat Prabowo jika mendepak AHY hanya karena 500M. Ingat, Prabowo butuh 10 T minimal buat Pilpres bukan 500M. Prabowo pasti sudah menghitung bahwa resiko ditinggal Demokrat itu bukan resiko yang ringan.

Disini juga dibutuhkan jiwa kenegarawanan semua anggota koalisi Prabowo agar mencari jalan tengah yang terbaik agar tidak ada satupun yang bercerai dari 4 partai tersebut, karena sejatinya saat ini, koalisi Prabowo sedang di acak-acak maksimal oleh lawan tanpa sadar. (***)

*Penulis adalah Analis Politik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.