Mengapa Gempa NTB Berpotensi Tsunami, Begini Penjelasannya

0 140

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami menyusul gempa dengan kekuatan 7 SR di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Minggu pukul 18.46 WIB.

Potensi tsunami terjadi di pantai Lombok Barat bagian utara dengan status waspada dan pantai Lombok Timur bagian utara dengan status waspada. Waktu kedatangan tsunami diperkirakan pada pukul 18.48 WIB.

“Status waspada artinya pemda yang berada di status waspada memperhatikan peringatan dini dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai. Kemungkinan air laut akan naik ke daratan tetapi kedalaman berkisar kurang dari 0,5 meter,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Terkait hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan mengapa gempa bumi yang terjadi di Lombok berpotensi menimbulkan tsunami.

Salah satu karakteristik gempa yang dapat memicu tsunami adalah titik pusat gempa (episenter) yang berada di bawah laut. Sedangkan, episenter gempa kemarin terletak di darat.

Menurut Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati,  sumber gempa bukan satu titik saja, melainkan bidang patahan lempeng tektonik yamg memanjang hingga masuk ke dasar laut, dekat pantai di Lombok Utara. Oleh karenanya, gempa itu berpotensi memicu tsunami.

Ia juga mengatakan setelah BMKG mengeluarkan peringatan waspada tsunami, terjadi tsunami-tsunami kecil di empat titik.

“Masing-masing di Desa Carik setinggi 13,5 cm, Desa Badas 10 cm, Desa Lembar 9 cm, dan Benoa (Pukul 19.58 WIB) 2 cm. Kemudian peringatan dini tersebut diakhiri pukul 20.25 WIB pada malam yang sama, 5 Agustus lalu,” terang dia melalui keterangan tertulisnya, Senin (6/8/2018).

Dwikorita mengungkapkan, bahwa status ancaman tsunami pada tingkat waspada artinya akan terjadi tsunami dengan ketinggian kurang dari 0,5 meter.

“Prediksi status ancaman yang dibuat oleh BMKG dipandang cukup akurat karena ketinggian tsunami berdasarkan monitoring tide gauge ternyata memang mencapai kurang dari 0,5 meter,” terangnya.

Selain sejumlah tsunami kecil, gempa berkekuatan 7 skala Richter kemarin (5/8) malam juga menyebabkan terjadinya gempa-gempa susulan. Berdasarkan pantauan BMKG hingga pukul 15.00 WIB tercatat sebanyak 170 gempa bumi susulan. Namun, yang dirasakan oleh masyarakat hanya sebanyak 13 gempa.

“Gempa bumi susulan merupakan mekanisme alam untuk menghabiskan sisa energi gempa sebelum batuan atau lempeng bumi kembali ke kondisi stabil,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan BMKG hingga pukul 17.00 WIB tercatat sebanyak 176 gempa bumi susulan. Namun, yang dirasakan oleh masyarakat hanya sebanyak 13 gempa. (MJ Network)

Leave A Reply

Your email address will not be published.