Bersaing Ketat, Prabowo-AHY vs Jokowi-Mahfud MD

0 2.713

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Lembaga survei Roda Tiga Konsultan (RTK) merilis hasil survei capres-cawapres terkuat pada Pilpres 2019 mendatang. Selain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), beberapa figur juga muncul sebagai sosok yang layak menjadi cawapres.

“Dari pertanyaan tertutup cawapres Jokowi, nama AHY mendapat angka 15,9 %, Sri Mulyani 7,8 %, Mahfud MD 7,5 %, disusul Gatot Nurmantyo 7,1 %, undecided voters 44,4 %” kata Direktur Riset RTK, Rikola Fedri di Cafe Mandailing, Jakarta Selatan, Minggu (5/8/2018).

Begitu pula untuk cawapres Prabowo Subianto, AHY masih mendapat kepercayaan masyarakat sebagai sosok yang pantas mendampingi mantan Danjen Kopassus tersebut.

“Pada pertanyaan tertutup nama AHY mendapatkan angka 34,1 %, disusul Anies Rasyid Baswedan 19,5 %, kemudian Gatot Nurmantyo 14,1 %, dan Ahmad Heryawan 2,9 %, undecided voters 25,4%,” ucapnya.

Berdasarkan tingkat kemungkinan mendukung pasangan capres dan cawapres kata dia, pasangan Jokowi-Mahfud MD (67,4 %) atau Jokowi-AHY (67,3 %) paling tinggi di antara pasangan Jokowi dengan nama alternatif cawapres lainnya. Sementara pasangan Prabowo-AHY (68,4 %) paling tinggi disusul Prabowo-Anies (66,4 %) di antara pasangan Prabowo dengan nama alternatif cawapres yang lainnya.

“Artinya, jika Jokowi memilih Mahfud MD sebagai cawapres dan Prabowo memilih AHY maka kemungkinan Pilpres 2019 akan berimbang,” imbuh Rikola.

Kemudian, dari simulasi head to head, jika Jokowi belum berpasangan dengan beberapa nama, elektabilitasnya bisa melewati 50 %. Tetapi akan turun jika dipasangkan dengan alternatif cawapresnya.

“Sebaliknya, jika Prabowo sendirian belum dipasangkan dengan beberapa alternatif cawapres, dia tidak mampu menahan laju elektabilitas Jokowi menuju 50% + 1. Tetapi ketika berpasangan dengan AHY, elektabilitas Prabowo terangkat dan elektabilitas Jokowi turun dibawah 50%,” paparnya.

Lebih lanjut, untuk awarness masyarakat terhadap isu ganti presiden sudah cukup tinggi yaitu 61,1%. Di mana 42,7% di antaranya menyatakan setuju dengan Gerakan Ganti Presiden, dan 43,4% tidak setuju Gerakan Ganti Presiden.

“Namun pemilih dengan usia 17-40 tahun lebih banyak yang menyatakan setuju ganti presiden,” tandas Rikola.

Survei ini menggunakan metodologi stratified systemic random sampling dengan responden sebanyak 1.610. Margin of Error 2,5% dan Quality Control 20%. Survei dimulai sejak 23 Juli hingga 1 Agustus 2018. (MD/MJ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: