Komisioner KPI DKI Jakarta: Citra Betawi di Televisi Masih Ditampilkan Negatif

0 51

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) DKI Jakarta Rizky Wahyuni menyatakan, citra masyarakat Betawi di media televisi tidak mengalami kemajuan alias stagnan dan ditampilkan negatif.

“Saat ini Betawi masih dicitrakan media terutama televisi sebagai orang tidak berpendidikan, asal bicara, pelit, terbelakang, dan pembuat kegaduhan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa program terutama sinetron yang menampilkan stereotif Betawi yang negatif tersebut,” kata Rizky yang biasa disapa Kiky ini saat berbicara dalam diskusi “Literasi Media kepada Masyarakat Betawi” di Pasar Seni, Ancol, akhir pekan lalu (29/7).

Padahal lanjut mantan Direktur Bakornas LAPMI ini, banyak orang Betawi yang cerdas, berprinsip, dan berpikiran maju seperti tokoh pers nasional, Mahbub Djunaidi. Hanya saja, sedikit sekali diangkat menjadi ide program siaran. Jika ada, kadang dinilai oleh masyarakat Betawi tidak sesuai penggambarannya.

Menurut Rizky, di tengah arus informasi yang semakin terbuka dan program siaran yang banyak dianggap tidak berkualitas, diperlukan ide dan masukan kepada lembaga penyiaran agar memproduksi tayangan lebih berkualitas, mencerdaskan, dan dibutuhkan masyarakat.

Masyarakat Batawi harus dapat menyumbang ide serta masukan kepada lembaga penyiaran atau production house, agar dapat memproduksi tayangan dan program yang mencitrakan masyarakat Betawi lebih positif, ujarnya.

Selain itu kata mantan aktifis FKKHIMAGRI ini, masyarakat Batawi juga harus menjadi penonton cerdas. Penonton yang dapat memilah dan memilih tayangan berkualitas dan mencerdaskan. Sebab masyarakat merupakan bagian yang dapat menentukan kualitas produk lembaga penyiaran.

“Sehingga yang dapat dilakukan adalah menjadi penonton cerdas. Penonton mesti selektif memilih tayangan sehingga produk siaran tidak berkualitas akan ditinggalkan dan beralih ke program lebih berkulitas dan mencerdaskan. Cerdas penontonnya, berkualitas siarannya,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Roni Adi, Ketua Komunitas Betawi Kita, berpendapat banyak cerita yang diproduksi lembaga penyiaran sering terjebak menceritakan masa lalu semata. Penggambaran orang Betawi pun tidak sesuai.

Ada beberapa tayangan yang disenangi masyakarakat, tapi kadang ada beberapa sisi yang menurut kita tidak pas menggambarkan karakter kebetawiannya. Padahal banyak sekali cerita Betawi yang dapat diangkat dan digemari masyarakat seperti film Benyamin Suaeb dan sinetron Si Doel Anak Betawi, ungkap Roni.

Fadjriah Nurdiarsih, pegiat media online dan pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), mengingatkan sebagai sebuah industri dan entitas bisnis, media seringkali menayangkan suatu acara di media televisi dan media online lebih banyak berdasarkan kepentingan untuk mendapatkan keuntunga, ketimbang melaksanakan fungsi utama pers yakni informasi, edukasi, koreksi, rekreasi, dan mediasi.

Untuk itu, komunitas Betawi sebaiknya membuat jurnalisme warga melalui media online dan media televisi berbasis online agar bisa mengambil alih fungsi utama pers tersebut.

Para narasumber diskusi sepakat bahwa literasi masyarakat Betawi saat ini agak tersendat. Maka diperlukan literasi-literasi media secara terus-menerus kepada masyarakat Betawi Zaman berubah, maka sebaiknya komunitas Betawi dapat juga meningkatkan literasi digital agar orang Betawi mampu menaikkan harkat, derajat, dan kemanusiaannya sendiri.

“Kami berharap komunitas-komunitas Betawi dengan literasi semacam ini kelak melakukan eksplorasi gagasan atau ide lebih banyak, agar menyumbang program-program positif yang menggambarkan masyarakat Betawi dengan baik,”tandas Roni.

Diskusi tersebut digelar untuk mengenang hari lahir tokoh pers nasional asal Betawi, Mahbub Djunaidi, yang jatuh pada 27 Juli. Hadir dalam kesempatan ini H Fadhlan Djunaidi, adik kandung Mahbub Djunaidi.(SYA/MC/MJ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: