Menyambut Asian Games dan Irasionalitas Masyarakat Yang Terbelah

0 86

Oleh : Geisz Chalifah*

Selayaknya sebuah pesta besar, maka keluarga besar (Masyarakat Indonesia) yang terlibat dalam menyambut tamu adalah saling bersinergi, berkordinasi agar pesta itu berjalan sukses dan lancar. Tamu undangan dari berbagai negara yang hadir terlayani dengan baik dan pulang dengan membawa kenangan yang baik terhadap tuan rumah yang ramah maupun panitia yang telah bekerja secara maksimal.

Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya. Sebagian masyarakat dalam hal ini mereka yang masih menyimpan luka akibat kekalahan 17 % dalam pilkada, tak lagi logis dalam berfikir, tak memberi konstribusi agar pesta berjalan lancar dan panitia penyambutan bisa bekerja maksimal.

Membully dan mencaci adalah ungkapan yang mereka lakukan setiap  saat dan setiap kesempatan.

Ironisnya pula bahkan dari pejabat terkait, Staf Khusus kementerian, ikut memberikan pernyataan tendensius ke publik tanpa memperhitungkan dampat dari statementnya kecuali hanya mencari panggung politik demi pencitraan dirinya yang itupun salah kaprah.

Setelah soal halte bus yang tertutup rumput yang sebenarnya hanya masalah tahapan pekerjaan, namun menjadi bahan bullyan dari hari-kehari tanpa memahami proses kerja.

Dalam hitungan jam saja masalah tersebut langsung terselesaikan, karena memang cuma proses waktu saja untuk menyelesaikannya.

Logika bahwa segala sesuatu ada proses ada tahapan sepertinya sama sekali tidak difahami, kecuali sekedar melampiaskan hasrat untuk mengumpat dan menyalurkan kebencian.

Hari ini kita kembali disuguhi oleh nyinyir massal terkait jalur sepeda yang terdapat tiang listrik ditengahnya yang tentu saja akan segera dipindahkan. Namun bagi mereka yang melihat persoalan itu sebagai kesempatan untuk mencaci, maka jadilah situasi itu menjadi ajang beradu cepat untuk mengungkapkan kebencial lewat akun – akun medsos yang dimiliki.

Namun demikian mari kita lihat faktanya. Ini pernyataan  dari Instansi resmi  PLN yang bertugas:
“Operator PLN yang bertugas, Sukamto, menjelaskan bahwa tiang-tiang di Jalan Gerbang Pemuda sudah lama direncanakan akan dirobohkan untuk kepentingan Asian Games,”

“Ini kerjaannya sudah dimulai lama. Memang beberapa belum diselesaikan,” ujar Sukamto

Operator PLN yang bertugas, Sukamto, menjelaskan bahwa tiang-tiang di Jalan Gerbang Pemuda sudah lama direncanakan akan dirobohkan untuk kepentingan Asian Games.

“Ini kerjaannya sudah dimulai lama. Memang beberapa belum diselesaikan,” ujar Sukamto seperti dikutip Kumparan. https://m.kumparan.com/@kumparannews/melihat-jalur-sepeda-di-depan-gbk-yang-terhalang-tiang-listrik-27431110790557206

Setelah caci maki dan berbagai ungkapan dialamatkan ke Pemrov DKI ternyata salah alamat, krn Tiang listrik di Seputaran GBK Adalah proyek yang menjadi tanggung jawab PUPR.

Namun segala kekesalan telah terkanjur ditujukan kepada Pemrov DKI. Nyinyir massal ini memang sebuah gejala kronis yang agak sulit dicari obatnya.

Namun dengan kesabaran dan kesadaran yang luar biasa,  ada Ikhtiarv dari Pemrov DKI dalam hal ini Anies – Sandi yang tak pernah lelah bekerja juga selalu  menghimbau tanpa mempedulikan semua cacian yang dialmatkan pada mereka berdua;  Agar bangsa ini bersatu untuk menyambut tamu-tamu yang datang, juga memberi semangat kepada para atlit Indonesia yang akan bertanding dan mendapat prestasi yang membanggakan.

Namun Kesadaran kolektif yang demikian semakin jauh dari harapan, walaupun mereka kaum pencaci telah mengalami blunder berkali – kali.

Contoh yang paling terbaru adalah  soal tiang listrik ini yang ternyata merupakan Proyek yang menjadi tanggung  kementrian PUPR, yang bertugas melaksanakan proyek tersebut di seputaran GBK. Sebagaimana penjelasan dibawah ini:

“Kepala Bidang Simpang dan Jalan Tak Sebidang Dinas Bina Marga DKI Heru Suwondo menjelaskan, proyek pembangunan jalur khusus sepeda itu, bukan proyek milik Pemprov DKI.”

“Bukan itu. Itu yang bikin PUPR. Dari (pemerintah) pusat, jadi bukan dari DKI,” tutur Heru seperti dikutip dari Kumparan (31/7).

Perlu kiranya kita bercermin pada  Negara-negara  lain dalam mempersiapkan sebuah perhelatan Olah Raga Internasional.

Mereka fokus pada upaya bersama agar perhelatan itu sukses tanpa menghiraukan setidaknya untuk sementara perbedaan pandangan dalam orientasi politik. ***

*Penulis adalah Alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.