Menteri LHK Ajak Masyarakat Lestarikan Keanekaragaman Hayati Lokal

0 37

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengajak seluruh pihak untuk menanamkan arti penting kelestarian keanekaragaman hayati kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

“Kita tanamkan nilai-nilai untuk menjaga, merawat, dan melestarikan keanekaragaman hayati di sekitar kita. Kepada kalangan swasta, agar dapat meningkatkan kualitas program kemitraan dengan masyarakat setempat untuk kelestarian keanekaragaman hayati lokal”, tutur Menteri Siti di Jakarta (22/05).

Berbagai bentuk pemanfaatan alam yang dilakukan oleh masyarakat adat secara tradisional, menurut Menteri Siti, telah terbukti selama ribuan tahun, dapat berlangsung tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan, dan mampu menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.

Sebagaimana tema tahun ini, yang ditetapkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), yaitu “Celebrating the 25th Year of The Implementation of the Convention on Biological Diversity”, Menteri Siti berharap komitmen konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati dapat terus berlanjut.

Sebagai negara mega-biodiversitas, Indonesia memiliki 17% total keanekaragaman hayati di dunia, dan hutan Indonesia merupakan rumah bagi 13 persen mamalia dunia, 14 persen spesies reptil dan amfibi, 17 persen spesies burung, serta lebih dari 10.000 spesies pohon.

“Tercatat kita memiliki  sejumlah 5.319 fauna laut terdiri dari Echinodermata 557, Polychaeta 527, Krustasea 309, karang 450 dan ikan 3.476. Jumlah jenis biota yang terdata di perairan laut Indonesia baru berkisar 6.396 jenis termasuk data tumbuhan seperti mangrove, alga dan lamun”, jelas Menteri Siti.

Pemanfaatan keanekaragaman hayati ini, ditegaskan Menteri Siti, perlu mengedepankan asas manfaat dan lestari, asas kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan, dan asas keterpaduan, yang  dilandasi  tanggungjawab.

Sementara itu, menghadapi berbagai ancaman kelangkaan tumbuhan dan satwa liar di Indonesia, KLHK bersama dengan Bappenas dan LIPI, telah menyusun Indonesian Biodiversity Strategic and Action Plan (IBSAP) 2015-2020, serta mengintegrasikan kedalam RPJMN 2015-2019.

“Implementasi IBSAP 2015-2020 ini akan dilakukan oleh K/L, Pemerintah Daerah, LSM, Swasta dan masyarakat, serta didukung oleh Balai Kliring Keanekaragaman Hayati (Clearing House Mechanism), sebagai instrumen monitoring dan evaluasi”, Menteri Siti menambahkan.

Mendukung implementasi tersebut, Menteri Siti juga berpesan agar dapat dilakukan kegiatan-kegiatan yang lebih konkrit, seperti mengarusutamakan keanekaragaman hayati kedalam kebijakan dan program otonomi daerah, mengembangkan keanekaragaman hayati menjadi produk yang bernilai tambah, membangun tata kelola pemerintah yang baik, mendorong dan memfasilitasi masyarakat adat dan komunitas lokal dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas, serta penyediaan infrastruktur data dan informasi keanekaragaman hayati baik di pusat maupun di daerah.

Semenjak lahirnya Konvensi Keanekaragaman Hayati  (United Nations Convention on Biological Diversity), dalam KTT Bumi di Rio Janeiro, Brazil di tahun 1992, menjadi tonggak sejarah diperingatinya Hari Keanekaragaman Hayati. Memasuki 25 tahun Konvensi Keanekaragaman Hayati, saatnya untuk mengkampanyekan pentingnya keanekaragaman hayati dan penguatan pencapaian Strategic Plan for Biodiversity 2011-2020, yang juga berkontribusi untuk pencapaian Sustainable Development Goals.(Wan/MJ)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: