Pesta Rakyat di Monas meninggalkan cerita kelam

0 1.450

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Acara di Lapangan Monas Sabtu (28/4/2018) akhir pekan kemarin, menyisahkan cerita kelam tentang bagaimana kesulitan rakyat tergambar secara nyata pada suatu peristiwa.

Acara yang bertajuk ‘Untukmu Indonesia-Berkarya Dalam Harmoni’ untuk menyambut kegiatan perayaan paskah dan doa lintas agama oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI) pada Sabtu 28 Maret 2018, menyisakan kepedihan. Acara tersebut juga mengadakan pembagian paket sembako kepada warga masyarakat DKI Jakarta.

Selain berseraknya sampah di lapangan Monas seusai acara. Ternyata ada kejadian yang luput dari pemberitaan dan merupakan tragedi kemanusiaan di Jakarta sebagai realitas kondisi masyarakat hari ini. Adalah, Muhammad Mahesa Junaedi, Usia 12 tahun, warga RT 004 RW 11, Kelurahan Pademangan Barat, Jakarta Utara telah meninggal dunia, akibat kehabisan oksigen karena terlalu lama terjebak dalam kerumunan massa di monas siang tadi.

Menurut keluarga korban, Muhammad Mahesa Junaedi ditemukan pihak keluarga, di RSUD Tarakan, dengan kondisi sudah tidak bernyawa, sebelumnya keluarga korban sudah mencari disekitar monas namun tidak ditemui. Sementara itu disaat mencari anaknya, Junaedi ayah Almarhum juga kehilangan dompet dan sepeda motor.

“Kronologisnya saya sedang bekerja dan istri juga tidak di rumah. Jadi anak saya itu datang ke lokasi acara bersama rombongan warga yang juga mendapatkan kupon sembako. Ini memang penyebaran kupon sembakonya tidak ada koordinasi, asal sebar begitu saja. Itupun yang datang kesana bersama anak saya juga kelompok anak-anak di lingkungan rumah saya,” dituturkan Junaedi seperti dikutip dari laman demokratdki.or.id di Jakarta (29/4).

“Lalu ternyata sampai jam 3 sore itu rombongan anak-anak dari rumah saya sudah sampai, tapi anak saya tidak kunjung pulang. Saya putuskan bersama istri untuk mencari ke Monas, saya tanya panitia dan petugas yang ada disana, katanya ada anak-anak yang sesak nafas karena terhimpit kerumunan dibawa ke rumah sakit katanya di RSUD Tarakan. Kesanalah saya. Saya dapati di RSUD Tarakan, kondisinya sudah tidak tertolong. Sudah tidak bernyawa. Saya juga malah sudah kehilangan dompet pada saat mencari anak saya tadi di Monas,” ditambahkan Junaedi.

Dalam kesempatan ini, Andi Pane selaku ketua RW di tempat domisili korban yang juga merupakan Sekjen Forum RT RW DKI Jakarta, menyayangkan kejadian ini dialami warganya, padahal himbauan kepada para Ketua RT sudah diberikan, agar bisa menjaga warganya untuk tidak ke Monas.

Tetapi di sisi lain, ketika para pengurus RT menolak pembagian kupon tersebut, menurut informasi yang beredar justru panitia menyebarkan kesembarang orang termasuk anak-anak yang ikut dalam antrean pembagian sembako, sehingga kordinator lapangan yang memobilisasi massa terlihat lepas tangan. Menurut Andi Pane, ini murni kesalahan panitia penyelenggara dan harus bertanggung jawab.

“Mereka tidak bisa seenaknya lepas tanggung jawab ketika musibah itu terjadi. Mereka menyebarkan kupon juga tanpa ada koordinasi dari kami. Kemudian pada saat acara juga ternyata perencanaan dari massa yang tumpah ruah tidak bisa ditangani dengan baik. Terjadilah kejadian begitu. Panitia hanya memberikan uang 350 ribu untuk biaya medis katanya, namun pihak keluarga juga butuh biaya pemakaman dan lain-lain kan. Ini kecelakaan kemanusiaan dan tidak boleh dibiarkan,” ditegaskan Andi Pane melalui sambungan telefon (29/4).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta yang juga anggota Komisi E bidang Kesra, Taufiqurrahman, SH menyampaikan rasa prihatin dan berharap kejadian ini tidak berulang kembali. Dirinya juga meminta panitia menyampaikan pertanggung jawaban secara materiil maupun non materiil.

“Kami prihatin ya, ini bukti buruknya kondisi ekonomi masyarakat di era sekarang. Untuk pembagian sembako mereka rela berdesakan begitu dengan ribuan orang lainnya. Panitia juga sepertinya kurang perencanaan dan terkesan amatiran, tidak persiapkan alat medis di tempat acara, kemudian tidak diatur mekanisme pembagian. Ini pesta rakyat yang membunuhi rakyat kalau gitu caranya. Saya minta panitia bertanggung jawab secara materiil dan non materiil kepada keluarga korban dan berharap tidak ada lagi hal seperti ini terjadi,” dituturkan Taufiq).

“Kami juga sudah memegang surat pernyataan dari panitia terkait akan bertanggung jawabnya panitia terhadap resiko buruk saat acara. Surat ini ditandatangani oleh ketua penyelenggara langsung di atas materai pada tanggal 25 April 2018. Maka sesuai surat ini, jika panitia tidak bertanggung jawab, kami akan memberikan pendampingan secara hukum kepada korban agar diselesaikan dalam perkara peradilan,” ditambahkan Taufiq.

Sementara di lain tempat, masih di kelurahan pademangan barat juga, tepatnya di RT 12 RW 13. Juga telah meninggal dunia, Anak berusia 10 tahun bernama M. Rizki Saputra putra Bapak almarhum Saprudin dan Ibu Komariyah. Perihal ini juga didapat dari keterangan Pak Andi Pane. Kondisi yang terjadi serupa, terhimpit dalam antrean di antara ribuan rakyat yang kesulitan memenuhi perekonomian keluarganya sehingga rela berdesakan untuk sebuah paket sembako. (DDKI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.