Sejarah Perkembangan Jalur Sutera Dikupas di Museum Tekstil Jakarta

0 132

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM– Sejarah Perkembangan Sutera Cina dan Jalur Sutera dikupas dalam acara diskusi yang digelar Museum Tekstil Jakarta Barat di Aula Museum Tekstil, Jl KS.Tubun Raya, Jakarta Barat hari ini.

“Diskusi ini untuk menambah wawasan kita terkait pengaruh motif dan corak batik China dahulu ke motif dan corak batik Indonesia saat ini,” kata Kepala Museum Seni, Esti Utami (28/3/2018). Menurut Esti, diskusi tersebut dihadiri oleh lebih dari 40 peserta dari berbagai kalangan mulai dari pecinta kain batik, hingga pengunjung museum.

Ia menambahkan, diskusi ini juga merupakan salah satu cara yang kami lakukan untuk menambah daya tarik pengunjung agar datang ke Museum Tekstil.

“Pengunjung yang datang diharapkan dapat mendapatkan informasi lebih luas terkait sejarah dari batik dan kain sutera,” pungkasnya.

Histori Jalur Sultra

Jalur Sutera kembali terangkat saat Cina membuka kembali jalur sutra modern menuju Inggris. Jalur ini dibuka untuk pengiriman barang dari kota Yiwu yang menjadi pusat industri menuju kota London di Inggris. Sebenarnya pembukaan jalur sutra modern ini untuk mengingatkan dan membuka kembali jalur sutra lama yang sudah ditinggalkan.

Dikutip dari berbagai sumber, nama Jalur Sutra awalnya diberikan oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Ferdinan von Richtofen untuk jalur perdaganagn darat yang menghubungkan daratan Asia dengan Eropa pada abad ke 3 sebelum masehi. Jalur ini menjadi jalur utama dalam pengembangan kebudayaan Asia Selatan, Cina, Timur Tengah dan Eropa.

Tak hanya menjadi jalur pertukaran ilmu pengetahuan, Cina juga menambah ilmu tentang obat-obatan negara barat dan Eropa mempelajari teknik pembuatan kertas serta penggunaan bubuk mesiu. Sayangnya, jalur sutera ini sangat rawan oleh para perampok dan penyamun.

Jalur sutra dulu di bagi menjadi dua yakni utara dan selatan. Jalur utara melewati Bulgar-Kypchak ke Eropa Timur dan semenanjung Crimea dan kemudian menuju laut hitam, laut Marmara, serta Balkan ke Venezia. Sedangkan jalur selatan melewati Turkestan – Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia dilanjutkan ke Anlokla di selatan Anatolia untuk selanjutnya ke Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara.

Komoditi yang dibawa melalui jalur sutera biasanya rempah-rempah, barang kerajinan dari Cina serta dari Timur Tengah. Sebenarnya dengan adanya jalur sutra sendiri sangat penting dan merubah sejarah dunia dalam bidang rempah-rempah. Sebab, bagi orang Eropa, rempah-rempah merupakan penghangat tubuh di saat musim dingin.

Sayangnya, jalur sutra lama sudah tak lagi dipergunakan sejak adanya kapal laut dan pesawat yang membantu mengirimkan barang-barang dari Cina menuju Eropa atau sebaliknya. Namun, dengan adanya kereta kargo East Wind baru-baru ini, jalur sutra modern bisa membawa angin baru untuk memudahkan pengiriman barang dari daratan Asia menuju Eropa melalui darat dengan jalur kereta api.

Tetapi sebelum adanya jalur dari Cina menuju Inggris, tahun 2014 sudah ada perjalanan bisnis komoditi dari Cina menuju Madrid 2014 lalu. Jalur ini adalah sebagai awal masuknya jalur sutra modern yang diperkirakan tahun 2020 memiliki pelayanan yang bisa lebih dari 5000 pengiriman pertahunnya. (BJ/MJ/KP)

Leave A Reply

Your email address will not be published.