Sumpah Palapa

0 70

Oleh: Mappajarungi Manan*

Pada zaman dahulu Kala, tersebutlah seorang pemuda bernama La Mada, ia tak ganteng. Kulit kecoklatan, hidungnya pesek. Tapi tubuhnya kekar. Ia pemuda tangguh tak tertandingi di zamannya. Merantau ke Pulau Jawa dari Pulau Buton, kunae.

Karena kelihaiannya, ia diterima jadi prajurit Majapahit. Berbekal kemampuan berkelahi dan kebal senjata. Bukan berbekal banyaknya isi rekening di bank.

Singkat cerita. Karena unggul dalam berbagai peperangan. Oleh Raja Hayam Wuruk, penguasa Majapahit yang ganteng, kulit putih , hidung mancung sangat jauh berbeda dengan La Mada. Maklum raja raja di jawa semua ganteng ganteng!

La Mada diangkat jadi Patih Majapahit. Ketika diangkat, untuk meyakinkan Hayam wuruk, ia mengucapkan Sumpah:

“Saya, Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Saya Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”..

Apa yang terjadi usai mengucapkan sumpah itu?.. geger Keraton Majapahit beserta seluruh rakyatnya. Bukan memuji, tapi sebaliknya. La Mads jadi bahan tertawaan, ia dibully habis habisan.

Media media di zaman itu, bahan tulisan dari daun lontar grasa grusu menulis dan mencibir La Mada. Demikian pula media sosial di warung warung kopi, berbagai status menulis tentang sumpah sang patih yang baru dilantik sebagai maha patih.

Tak urung, para cerdik pandai, professor, pedagang juga meremehkan sumpah palapa anak seberang itu.

Andai saat itu, La Mada mengingatkan bahwa Majapahit tak lama lagi bubar, mungkin lain cerita. Ia akan dipuja puji bahwa saatnya kita bergandeng tangan bersatu padu mempertahankan Majapahit. Tapi, ia menentang arus politik saat itu. Ia bersumpah menyatukan Nusantara.

Walaupun, sumpah La Mada tidak bisa direalisasikan pada zamannya itu, karena intrik intrik ketidak senangan sebagian petinggi negara, ketidak puasan, tapi Sumpah La Mada itu kini terasa.

Wujud sumpah La Mada, tidak terwujud dalam waktu singkat, tapi ratusan tahun kemudian Sumpah anak Muda dari Butung itu terwujud, walau bukan Republik Majapahit tapi Republik Indonesia yang kita rasakan sekarang.

Merdeka!.,

*Penulis adalah jurnalis senior yang domisili di Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: