Catatan dari Temu Kangen Aktivis Era 1980-1990

"Menuju Indonesia Berkeadilan Sosial"

0 91

Oleh : Jacob Ereste*

Acara temu kangen aktivis era 1980–1990 pada Jum’at 2 Maret 2018 sungguh fenomenal, setidaknya sangat mengesankan.

Acara yang dikomando langsung Dr. Syahganda Nainggolan dihadiri berbagai kalangan yang sudah menduduki jabatan penting di negeri ini hingga mereka yang masih meneguhi sikapnya sebagai kaum pergerakan.

Dokter Hariman Siregar misalnya selaku tokoh pergerakan mahasiswa yang dikenal dengan sebutan Malari (Malapetaka ,15 Januari 1974) pun masih tegar mengkritisi pemerintah dengan ikut memapar sekilas sengkarut politik di Indonesia menjelang Pelkada 2018 dan Pilpres 2019 yang telah terasa semakin memanas.

Penulis Jacob Ereste

Bang Hariman Siregar pun sempat melontarkan kegundahannya mengenai aturan Pilpres mendatang dengan masa kampanye selama enam bulan waktunya.

Doktor Syahganda Nainggolan, selaku penggagas acara temu kangen cukup jenaka mengurai peran dari masing-masing mahasiswa angkatan 1980 dan angkatan 1990 yang saling terkait dengan gerakan mahasiswa angkatan sebelumnya maupun angkatan berikutnya yang telah melahirkan reformasi dengan lebih tumbangnya Orde Batu.

Fachri Hamzah pun ikut mengungkap persepsinya tentang gelombang gerakan kalangan aktivis hingga pada babak reformasi yang memposisikan dirinya sebagai aktivis dari rangkaian panjang kaum pergerakan terakhir di negeri ini, dan belum juga mampu mendorong bangkitnya gairah pergerakan yang dimotori angkatan mahasiswa tahun 2000-an, pasca refirmasi sampai laporan ini ditulis.

Yang menarik tentu saja pengakuan Syahganda Nainggolan selaku aktivis pada era Orde Baru justru lebih dominan bersama kaum buruh.

Meski dia akui ada peranan kaum buruh pada masa sepuluh tahun terakhir kekuasan Orde Baru, namun penilaiannya yang sangat subyrktif, tentu menjadi kurang obyektif. Apalagi misalnya hanya memakai referensi sepihak, misalnya dari kaca mata organisasi buruh yang tidak berdarah-darah seperti SBSI.

Padahal, hingga puncak gerakan reformasi pada 1998 itu tidak sedikit aktivis buruh yang masih dikerangkeng rezim otoritarian Presiden Soeharto.

Pada akhirnya memang peranan besar serikat buruh pasca tumbangnya Orde Baru memang sungguh memprihatinkan.

Padahal, keterlibatan langsung serikat buruh dalam melakukan perlawan bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ketika dikuyo-kuyo penguasa, justru merupakan satu-satunya ormas yang pasang badan ikut mendirikan posko bersama perwakilan daerah dari partai yang bersangkutan.

Penulis menjadi saksi hidup bersama Tohap Simanungkalit almarhum, Dhea Prakesha Yudha, dan Ir. Satrio Arismunandar dan kawan-kawan serta aktivis mahasiswa menyelamatkan SBSI yang terancam bubar akibat Ketua Umum dan sejumlah aktivis serta pengurus di berbagai daerah yang ditangkap. Utamanya dari Cabang SBSI Medan dan Pematang Siantar.

Akibat penangkap aktivis SBSI terus berlanjut di berbagai daerah, menyusul kemudian sejumlah aktivis SBSI yang melarikan diri, organisasi buruh satu-satunya yang membuka front perlawanan terbuka menghadapi rezim penguasa, sepatutnya tidak duavsikan.

Penulis perlu menyebut nama Tohap Simanungkalit, karena almarhum adalah pejuang gigih bersama kami menggelindingkan reformasi bersama sejumlah aktivis buruh lainnya.

Sungguh, penulis cemburu ketika panitia menyebut sejumlah nama kawan-kawan aktivis yang telah tiada itu, tanpa menyebut Tohap Simanungkalit yang tidak kalah daksyat kegigihannya. Setidaknya, ketika almarhum mengambil alih kepemimpinan SBSI bersama kawan-kawan-kawan dan penulis sendiri, saat organisasi buruh satu-satu yang mengacungkan tinju perlawanan secara terbuka di era rezim Orde Baru pada puncak galak-galak. Bahkan kemudian, almarhum Tohap Simanungkalit sempat ikut merintis berdirinya KIPP bersama Mulyana Wira Kusuma dan kawan-kawan.

Penulis ungkapkan ini semua, agar pembaca bisa ikut jernih memahami sejarah, apalagi kemudian hendak mencatatkannya dalam kitab kejujuran kita. Agaknya, peringatan dari Soekarno agar jangan melupakan sejarah relevan juga dinuktilkan dalam kesaksian saya ini.

* Penulis adalah Wakil Ketua Umum SBSI semasa darurat 1994-1996 bersama Tohap Simanungkalit, Drs. Dhea Prakhesa Yudha, (Dr) Ir. Satrio Arismunandar, Sunarty)

Leave A Reply

Your email address will not be published.