Proposal Perubahan Untuk Militer

0 48

Oleh: Nasrudin Joha*

Sesungguhnya pilar perubahan hanya akan tegak diatas dua penyangga utama: Umat dan Militer. Meskipun umat menghendaki perubahan, betapapun kuat hasyrat dan keinginan itu -sepanjang militer belum meluluskannya- maka perubahan itu tidak akan pernah terjadi.

Sebaliknya, jika militer menghendaki perubahan -meskipun umat enggan- militer dapat memaksanya. Militer, memiliki kekuatan untuk memaksakan perubahan, melalui Jalan kudeta.

Hanya saja perubahan melalui jalan kudeta akan menghadapi dua tantangan: pertama, penentangan dari umat, dimana sesungguhnya kekuasaan itu tegak tanpa legitimasi umat. Tanpa dukungan umat, perubahan yang dipaksakan melalui jalan kudeta tidak akan langgeng bahkan cenderung menghasilkan musibah.

Kedua, penentangan dari penguasa eksisting yang tentu saja dengan dalih masih didukung umat, akan mampu mengajukan perlawanan sengit terhadap militer. Bahkan, sebagian militer dibawah kendali penguasa eksisting mampu digerakkan untuk dibenturkan dengan militer yang melakukan kudeta.

Karenanya, sedikitpun militer tidak boleh dan jangan pernah terperosok pada jurang kudeta politik, sebagaimana hal ini pernah dan telah dilakukan Partai Komunis Indonesia yang mengambil jalan kekerasan dan kudeta, untuk mewujudkan mimpi perubahan.

Perubahan yang harus ditempuh militer adalah perubahan yang memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Perubahan itu merupakan perubahan yang dikehendaki umat, perubahan yang merupakan aspirasi dan keinginan umat, sehingga ketika militer mewujudkannya, umat akan lega, bergembira, dan berdiri disamping bahu kanan dan kiri militer, memberikan dukungan dan perlindungan.

2. Perubahan itu harus ditopang oleh sekelompok gerakan politik yang benar-benar didukung umat, mampu menjadi penyambung kepentingan umat, menjadi media antara umat dengan militer, yang akan memimpin arus perubahan politik yang hendak diwujudkan.

3. Perubahan yang diusung kelompok politik itu harus mampu meyakinkan umat dan militer, tentang substansi perubahan, yakni: mampu menjelaskan secara tuntas realitas kerusakan, mampu menjelaskan arah dan arus (goal) perubahan, mampu dan rinci memberikan gambaran jalan perubahan dari realitas rusak menuju idealita yang dicitakan.

4. Kelompok politik itu harus mampu menunjukan sosok atau Vigour pemimpin politik yang akan memandu jalannya perubahan, dan mampu menjadi komandan kepemimpinan politik saat perubahan diwujudkan.

5. Kekuatan politik itu -baik dukungan umat dan kesiapan kelompok politik sebagai pemimpin perubahan- telah mencapai ukuran tertentu yang menjadikan militer “Merasa Yakin” untuk memberikan pertolongan, sehingga ketika loyalitas militer diberikan maka perubahan dapat diwujudkan tanpa ada hambatan yang berarti.

6. Untuk mengukur peta kekuatan politik sebagaimana poin 5 diatas, militer wajib memastikan dua komponen dapat disatukan. Pertama, simpul umat : terdiri dari para ulama, tokoh, pejabat, birokrat, pengusaha, dll. Kedua, umat itu sendiri.

7. Cara untuk mengukur tingkat dukungan adalah melalui penegasan Mafahim (pemikiran), Maqayis (Stabdarisasi) dan Qonaat (Tujuan) dari tokoh simpul umat dan umat. Jika mayoritas tokoh simpul umat dan umat telah memiliki pemikiran Islami, standar hidup Islami, dan tujuan hidup hanya ingin meraih ridlo Allah, realitas politik yang demikian bisa dikatakan “mencapai taraf kematangan politik” untuk dilakukan perubahan.

Proposal politik bagi militer realitasnya sama persis ketika Mus’ab Bin Umair menawarkan perubahan politik di kota Madinah kepada militer ketika itu. Adalah Sa’ad Bin Mu’adz dan As’ad bin Zuroroh, mereka berdua adalah Jenderal Militer ahli perang Madinah, yang setelah dipahamkan kemudian menerima proposal Mus’ab bin Umair yang menawarkan pendirian negara Islam Madinah.

Saat itu, setelah Madinah dikondisikan dengan dakwah Islam sehingga persepsi, pemikiran dan perasaan penduduk Madinah telah mampu disandarkan hanya kepada Islam, sosok Rasulullah SAW juga dikenal dan dipercaya akan memimpin daulah Islam pertama kali (meskipun mereka belum pernah bertemu rasul), maka militer ketika itu menerima proposal perubahan yang dibawa Mus’ab bin Umair dan memimpin perubahan untuk mengalihkan loyalitas pada kekufuran dan memberikannya hanya kepada Islam.

Pemindahan loyalitas itu ditandai dengan datangnya representasi tokoh penduduk Madinah yang pergi ke Mekah menemui Nabi dan memberikan Bai’at Nabi. Selanjutnya, Bai’at itu ditindaklanjuti dengan hijrahnya Nabi ke Madinah, dan militer bersama Nabi mengumumkan Proklamasi Negara Islam yang pertama kali di Madinah.

Perubahan seperti ini tidak akan berdarah-darah, disebabkan beberapa hal. Pertama, operasi politik yang dilakukan militer Madinah yang memberikan loyalitas (kekuasaan) kepada Nabi didahului dengan penyadaran kepada masyarakat Madinah. Sehingga, ketika proklamasi diumumkan penduduk Madinah justru mendukung dan bergembira karenanya.

Tidak ada entitas massa yang menentang, karena mayoritas penduduk Madinah telah rindu dan ingin diterapkan syariat Islam secara kaffah. Kondisi ini hanya memerlukan dukungan yang cukup, bukan dukungan penuh.

Sebab, meskipun di Madinah ada tiga Suku Yahudi besar (Bani Qainuqo, Bani Quraizhoh dan Bani Nadhir), tetapi angka dukung umat ketika itu telah memenuhi bobot yang cukup sehingga kaum Yahudi tidak berani menentang perubahan yang dipimpin militer.

Kedua, pasca perubahan militer mempercayakan langsung kepemimpinan politik kepada Nabi dan kelompok politik yang berada bersama nabi, yakni para sahabat.

Ketiga, Nabi memimpin kepemimpinan politik sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan di Madinah, dengan menerapkan hukum Islam yang diterimanya sebagai wahyu.

Keempat, Nabi telah langsung memimpin proses perubahan dengan menentukan struktur dan tugas-tugas Pemerintahan untuk segera menerapkan hukum Islam dan serta merta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam.

Saat ini, militer harus melihat realitas politik yang ada ditengah-tengah umat, dan mencari adakah kelompok politik yang mampu memberikan keyakinan dan membawa perubahan untuk menyelamatkan umat dari keterpurukan.

Kelompok politik itu harus bersih dari ikatan politik sekuler dan memperoleh dukungan umat. Kelompok politik tersebut juga harus mampu untuk memberikan rincian penjelasan mengenai perubahan, sampai pada batas yang tidak ada tanda tanya lagi, sampai maknanya benar-benar dapat ditunjuk dengan jari.

Kelompok politik tersebut harus seperti kelompok sahabat yang dipimpin rasul, benar-benar murni memperjuangkan Islam, sosok pengembannya adalah orang yang amanah dan terpercaya serta mampu mengemban tugas dan misi memimpin perubahan.

Pimpinan kelompok politik tadi juga harus memenuhi kriteria yang secara substansial seperti kriteria Nabi, meskipun militer belum pernah berjumpa dengannya.

Militer dapat mengindera aktivis kelompok politik, karakternya, kepribadiannya, kemampuannya, kesabaran dan keikhlasannya, yang dengan itu militer mampu menjangkau kualitas dan kemampuan pimpinan kelompok politik itu, meskipun belum berjumpa dengannya.

Militer juga harus melihat, arah perubahan itu sampai pada batas yang mungkin, diantaranya adalah dengan memeriksa konstitusinya, Qanunnya (UU nya), serta sekumpulan konsep bersistem yang akan diterapkan pasca perubahan.

Akhirnya, setelah mempelajari proposal itu militer dapat menetapkan rencana, menghitung kekuatan, menentukan waktu, kapan dan dimana saat akan mengumumkan perubahan -setelah militer yakin dengan proposal perubahan- dan kemudian segera mengalihkan loyalitas dari kekuasaan dzalim menuju kekuasaan Islam.

Ingat, kunci perubahan hanya ada pada militer dan umat, bukan yang selainnya. Reformasi 1998, betapapun rakyat menginginkannya namun tanpa dukungan militer nircaya reformasi gagal.

Reformasi hanya terjadi, setelah militer mengumumkan melepaskan loyalitas dari Soeharto dan pada saat yang sama memberikan loyalitas kepada rakyat. Saat militer menyatakan berdiri bersama umat, maka tumbanglah kekuasaan Soeharto.

Wahai militer, wahai umat, bersatulah ! Allahu Akbar !

*Penulis adalah pemerhati sosial politik

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: