Pesan Toleransi dari Kota Ambon Manise

Catatan tersisa dari Kongres HMI

0 170

Oleh : Miftahul Arifin*

Entah dari mana saya harus bicara tentang Ambon karena selama ini Ambon yang kita dengar adalah Kota dengan sejuta problem ke Bhinekaan di dalamnya. Tidak hanya itu, konflik etnis dan agama yang pernah terjadi di Ambon telah menggiring kita pada opini-opini negatif sehingga yang terisi di benak kita semua tentang keburukan Kota Ambon. Hal inilah yang menjadi image buram kota Ambon selama ini.

Lain dulu lain sekarang, Ambon yang dulu pernah didera konflik etnis luar biasa, akhirnya dalam kurun waktu yang relatif singkat telah menjelma menjadi kota ramah, santun, beradab dan toleran. Kini Ambon telah lahir dengan wajah peradaban baru, peradaban kemanusian yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila.

Jika di daerah lain marak isu-isu toleransi dan kebhinekaan, seolah Bangsa ini diambang perpecahan etnis dan agama yang luar biasa. Saling hujat satu sama lain dianggap hal yang lumrah bahkan saling viralkan di media sosial. Melihat fenomena ini tentu sangat miris seakan Bangsa Indonesia sudah hilang akar budayanya.

Tetapi di Ambon justru kita menemukan hal yang berbeda dimana di dalamnya saling bergandeng tangan, misalnya jika Gubernurnya beragama Islam Wakilnya beragama Kristen, Wali Kotanya beragama Kristen Wakilnya beragama Islam, demikian sebaliknya. Tidak hanya itu masyarakat Ambon juga guyub rukun dan saling bantu tanpa harus membedakan suku dan agama. Ini mencerminkan dan memberikan pesan pada kita semua bahwa persaudaraan adalah nilai universal. Pancasila bukan hanya sebatas pajangan di buku-buku pelajaran tetapi harus tercermin dalam kehidupan masyarakatnya.

Ambon memberikan pelajaran yang berharga buat Bangsa Indonesia bahwa keterpurukan bukanlah suatu yang harus disesali berkepanjangan tapi justru harus keluar dan menyadari untuk segera berbenah. Konflik yang disebabkan karena perbedaan segera diatasi karena problem utamanya bukan terletak pada perbedaan. Perbedaan bukanlah hal yang harus ditakuti atau dihindari karena perbedaan adalah Sunnatullah. Berbeda bukan berarti bertikai tapi carikan titik persamaan untuk merajut persaudaraan sesama manusia.

*Penulis adalah Ketua HMI Cabang Malang Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.