Beton Proyek Tol Becakayu Ambruk, 7 Orang Terluka

0 77

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Sebuah breket timber yang digunakan penyangga beton girder proyek tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jalan DI Panjaitan, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur ambruk, Selasa (20/2/2018). Akibat peristiwa itu, tujuh pekerja mengalami luka-luka.

Informasi yang berhasil dihimpun, sekitar pukul 03.00 WIB, peristiwa itu terjadi saat sejumlah pekerja tengah melakukan pengecoran pada sayap jalur yang berada di atas tiang pancang. Tanpa diduga, kedua sayap atau boks girder itu tiba-tiba ambruk.

Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Tony Yoyon Surya Putra mengatakan, korban luka umumnya akibat tertimpa bahan material coran. Tujuh korban ini masing-masing Joni Arisman, Rusman, Supri, Kirpan, Sarmin, Agus.

Mereka dilarikan ke RS UKI Cawang. Sedangkan korban atas nama Waldi dirujuk ke RS Polri Kramatjati.

“Jadi breket timber yang digunakan untuk menyangga tiang cor ini terlepas. Material coran yang di atas jatuh ke bawah menimpa pekerja,” ujar Kombes Pol Tony Yoyon Surya Putra di lokasi kejadian.

Menurut Tony, pihaknya masih terus menyelidiki penyebab kejadian tersebut. Operator proyek juga sudah dimintai keterangan.

“Seluruh korban sudah kita evakuasi ke RS UKI dan RS Polri Kramat Jati. Kita sedang dalami penyebabnya dan sedang kita mintai keterangan para saksi,” tandasnya.

Pantauan di lokasi kejadian, material puing yang ambruk sudah ditutupi terpal biru. Pagar seng penutup proyek juga dipasangi garis polisi. Sejumlah anggota Puslabfor Mabes Polri terlihat mengamati puing yang ambruk dan mengamati di sekitar lokasi kejadian.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meminta semua pengerjaan proyek tol layang yang sedang berlangsung saat ini dihentikan sementara. Langkah pemberlakuan moratorium tersebut diambil lantaran terjadinya rentetan kecelakaan konstruksi pada proyek jalan tol dalam kurun waktu setengah tahun terakhir.

“Tadi pagi kami sudah diskusi dengan pak Menteri (PUPR). Perintah pertama adalah moratorium semua pekerjaan yang elevated (melayang), itu akan kita hentikan semuanya,” ujar Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto.

Moratorium sendiri belum diketahui sampai kapan. Namun dalam masa moratorium itu, para pelaksana proyek akan diminta untuk melapor mengenai metode pengerjaan proyek. Dari situ, baru akan dievaluasi untuk mengambil langkah selanjutnya. (BJ/MJ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: