AHY Paling Diminati agar Diduetkan dengan Jokowi atau Prabowo

0 19

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Hasil survei Poltracking Indonesia yang terbaru menempatkan figur Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) sebagai kandidat calon wakil presiden yang paling diminati oleh rakyat di tanah air.

Dari survei Poltracking medio 27 Januari-3 Februari dengan melibatkan 1.200 responden yang di seluruh provinsi di Indonesia, AHY mengungguli nama-nama lain, baik saat dipasangkan dengan Joko Widodo maupun Prabowo Subianto.

Saat responden disodorkan 10 nama cawapres untuk Jokowi, AHY unggul dengan mendapat 13,9 persen responden. Di bawah AHY, terdapat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan 10,4 persen, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan 10,1 persen, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan 9,1 persen, dan nama-nama lain.

Pada simulasi lima nama cawapres untuk Jokowi, AHY tetap unggul dengan raihan 14,3 persen, disusul Ridwan Kamil 11,3 persen, Anies Baswedan 11,2 persen, Gatot Nurmantyo 10,7 persen, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 7,1 persen.

AHY juga menjadi kandidat cawapres paling dipilih oleh responden sebagai pendamping Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Hanya saja, dalam simulasi ini, nama AHY ditempel ketat oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Dalam simulasi 10 nama kandidat cawapres, AHY unggul dengan meraup 15,2 persen suara responden. Di bawahnya terdapat Anies Baswedan yang mendapat 14,1 persen, Gatot Nurmantyo 12,7 persen, dan sejumlah nama lain.

Dalam simulasi lima kandidat cawapres untuk Prabowo, AHY tetap menjadi nomor satu dengan 16,5 persen. Di bawahnya, AHY ditempel tipis oleh Anies 16,4 persen, Gatot 13,5 persen, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan 4,7 persen, dan Ketua MPR Zulkifli Hasan 1,6 persen.

Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha mengungkapkan, jika berkaca dari hasil survei itu, maka Partai Demokrat bisa bermain dua kaki pada Pilpres 2019.

“Partai Demokrat bisa menyodorkan AHY ke Jokowi atau Prabowo. Apalagi, Partai Demokrat sendiri selama ini mengambil posisi netral, tidak berpihak pada pemerintah Jokowi, namun tidak juga bergabung ke Prabowo sebagai partai oposisi,” terangnya di Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Menurut dia, dengan modal 10,19 persen suara pada Pileg 2014 lalu, tentu sulit apabila Partai Demokrat harus membuat poros koalisi sendiri. Sementara parpol lain sudah mengarahkan dukungannya ke Jokowi atau Prabowo.

“Parpol yang saat ini paling mungkin untuk diajak bergabung dengan Partai Demokrat untuk membentuk poros baru adalah PKB dan PAN,” imbuhnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: