Indahnya Ambon dalam Balutan Selimut Toleransi

Sebuah Catatan Perjalanan

0 44

Oleh: Moh. Ilyas*

KONFLIK berbau agama. Itulah yang spontan langsung tergambar dalam benak masyarakat kita setelah mendengar kata “Ambon”.

Ya, Ambon, ibu kota Provinsi Maluku ini memang tidak seperti beberapa provinsi lainnya yang cenderung dilekatkan dengan ‘sesuatu yang khas’, baik dari penganan atau lainnya. Seperti durian misalnya yang melekat dengan Medan, Qonun atau aturan perundang-undangan Islami yang melekat dengan Aceh; Bali yang dilekatkan dengan tarian khasnya, atau wisata pantainya yang dikenal dunia. Sementara Ambon, meskipun sebenarnya sering disebut “negeri raja-raja”, namun yang begitu melekat dalam benak publik adalah kasus ledakan konflik agama di masa lalu.

Jika kita membuka lembaran sejarah, peristiwa kelam itu terjadi pada 19 Januari 1999, masih dalam suasana hari raya Idul Fitri (hari kedua). Saat itu adalah kisah awal perang agama itu dimulai. Konon, penyebabnya cukup sederhana, masalah individual, di mana seorang pemuda muslim asal Bugis, NS berkonflik dengan seorang pemuda Kristen J.L yang bekerja sebagai sopir angkot jurusan Mardika – Batu Merah. Penyebabnya, menurut sebagian cerita bahwa NS meminta uang saat J.L mengendarai angkotnya. Namun permintaan NS tersebut tidak dilayani karena J.L belum mempunyai uang, karena belum ada penumpang yang dapat diangkutnya, karena hari itu hari raya Idul Fitri.

Selanjutnya kedua pemuda ini bertikai hebat. Dan, konflik personal ini pun kemudian menyulut konflik yang lebih luas dan menjadi isu bernuansa SARA. Perang agama meledak. Ribuan nyawa melayang. Ribuan rumah juga hangus terbakar. Para pendatang beramai-ramai eksodus. Peristiwa berkepanjangan ini baru berakhir pada tahun 2002 melalui perjanjian damai yang ditandatangani oleh perwakilan dari kedua belah pihak. Perjanjian damai yang kemudian dikenal dengan istilah perjanjian Malino.

Tentu, peristiwa ini sangat memilukan dan membuat bangsa ini begitu terpukul. Sebab penghargaan terhadap pluralitas dan kemajemukan bangsa ini sudah dibangun secara kokoh oleh para Founding Fathers bangsa ini, terutama ketika mereka merumuskan dasar-dasar dalam Pancasila.

Jika saja para pendiri bangsa tidak memikirkan kemajemukan ini, boleh jadi bangsa ini sudah meletakkan Islam sebagai ideologinya. Tetapi para tokoh-tokoh Islam saat itu mencoba menurunkan tensi dan fanatisme terhadap agamanya demi persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka sadar bangsa ini adalah bangsa yang pluralis, di mana di dalamnya ada berbagai aneka suku dan agama. Sehingga satu sama lain dari elemen bangsa ini harus saling menjaga dan menghormati. Kesadaran Inilah yang akhirnya membuat tokoh-tokoh Islam sepakat menghapus tujuh kata dalam sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan, Dengan Menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya.

Sikap mereka ini pun dipuji dan disebut sebagai ‘gentlement agreement’ dari umat islam, karena bersedia ‘mengalah’ demi terciptanya kesatuan bangsa.

Apalagi saat itu ada rumor yang berkembang bahwa jikalau tujuh kata itu tidak dihapus, maka wilayah Indonesia di bagian timur akan memisahkan diri. Praktis setelah proklamasi dikumandangkan, tanggal 18 Agustus 1945 setelah rapat dan dialog yang alot oleh kelima tokoh yakni, Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikusuma, Kasman Singodimejo, Muhammad Hatta, dan Teokoe Mohammad Hasan akhirnya disetujui penghapusan tujuh kata itu, tapi dengan catatan Ketuhanan ditambahkan dengan kata ‘Yang Maha Esa’ .

Ambon dan Keniscayaan Pluralisme

Sejarah kelam Ambon telah berlalu. Sehingga jika Anda berpikir bahwa Ambon masih terus dihantui kasus intoleransi dan konflik berbau agama, sebaiknya Anda harus segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Sebab saat ini Ambon sudah begitu indah dengan kehidupan toleransi beragamanya.

Jika Anda berkunjung ke Ambon, maka anda akan menemukan batas-batas territory, meskipun belum dibahasakan secara formal, di mana umat Islam bermukim dan di mana umat Kristiani bermukim. Dua pemeluk keyakinan berbeda ini memiliki territory masing-masing yang tujuannya tentu agar gesekan-gesekan berbau agama tak lagi terulang.

Namun meski secara territory pemukiman mereka terpisah, pergaulan mereka patut diacungi jempol. Mereka sudah mampu melepaskan diri dari bayang-bayang kelabu di masa lalu. Sehingga satu sama lain mereka berbaur tanpa saling menyinggung perasaan apalagi menyakiti. Umat Islam menghargai keberadaan umat Kristiani. Begitu pun sebaliknya, umat Kristiani juga menghormati keberadaan umat Islam. Mereka satu sama lain saling melengkapi. Mereka rukun di bawah naungan Pluralisme.

Hubungan persaudaraan antara kampung Islam dan kampung Kristen yang biasa disebut pela-gandong ini merupakan perekat yang kuat dan efektif dalam menjaga hubungan antar sesama di Maluku.

Selain itu, Anda juga akan mudah melihat sebuah gong perdamaian yang dipampang besar di areal kantor Gubernur Maluku yang berlokasi di pusat Kota Ambon.

Salah satu warga Seram Maluku yang juga lulusan Pascasarjana Ilmu Politik Univeraitas Indonesia Moksen Rumalutur menuturkan secara detil tentang bagaimana keindahan toleransi beragama di Ambon ini terbentuk. Menurutnya jika merujuk pada masa lalu, toleransi umat beragama ini seperti akan sulit terbangun karena konflik berdarah itu terjadi hingga bertahun-tahun. Tetapi perlahan tapi pasti masyarakat Ambon secara khusus dan Maluku secara umum, mulai jenuh dengan konflik. Mereka merindukan kedamaian dan perdamaian hidup. Masyarakat Ambon lelah dan tak ingin larut dalam konflik yang membuat mereka mendekam dalam ketakutan (fearness).

Keindahan toleransi ini tentu tidak hanya terjadi di Ambon sebagai ibu kota Maluku, tetapi di kabupaten-kabupaten lainnya di Maluku yang kesemuanya mencapai 11 kabupaten/kota.

Dari jumlah itu, tutur Moksen, sudah diketahui daerah-daerah mana saja yang menjadi kantong pemeluk Islam dan daerah mana saja kantong pemeluk Kristen. Misalnya di Kabupaten Seram bagian timur yang berpenduduk muslim di atas 90 persen, sebuah prosentase yang hampir berbalik 180° dengan daerah lain seperti Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).

Namun demikian, pengetahuan- pengetahuan tentang kantong – kantong agama ini tidak kemudian membuat masyarakat Ambon satu sama lain cemburu apalagi curiga. Mereka belajar menghargai perbedaan-perbedaan itu sehingga tidak jatuh pada lubang konflik yang meruntuhkan kesatuan dan persatuan untuk kedua kalinya.

Masyarakat Maluku, khususnya Ambon sadar bahwa perbedaan itu tak akan mungkin bisa ditolak. Sebab ia merupakan sebuah keniscayaan. Ia given, sesuatu yang sudah diberikan dari sononya. Ia merupakan kehendak Ilahi. Oleh karenanya ia harus dihormati dan dihargai.

Keniscayaan adanya penghargaan terhadap perbedaan dan pluralisme ini sejatinya juga ditegaskan dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an, baik Al-Qur’an dalam posisinya sebagai kitab suci (kitabun muthahharah) maupun sebagai pedoman hidup (hudan linnas).
Misalnya tentang pentingnya mengakui eksistensi agama lain. (QS. An-Nahl: 93), pentingnya memberikan hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk agama lain. (QS. Al-An’am: 198), pentingnya menghindari kekerasan dan memelihara tempat-tempat beribadah umat beragama lain. (QS. Al Hajj: 4), dan tidak memaksakan kehendak kepada penganut agama lain. (QS. Al Baqarah: 229). Islam mengakui umat manusia diatas dunia tidak mungkin semuanya sepakat dalam segala hal itu termasuk hal-hal yang menyangkut keyakinan agama. (QS. Hud: 18-19).

Perbedaan adalah hukum alam (natural of law) , atau bahasa agama menyebutnya “sunatullah”. Perbedaan itu disengaja oleh Allah dan ia pasti ada, sebagai jalan ujian sejauh mana manusia menjalani hidup dengan penuh ketaqwaan dan mereka dapat berlomba-lomba dalam mewujudkan kebajikan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya,

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Penghargaan terhadap perbedaan inilah yang kini terus dirawat di Ambon. Sehingga meskipun pernah didera perseteruan dan konflik besar, kini gairah persatuan di Ambon yang sarat dengan kebersamaan dan keindahan toleransinya patut menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia.

Ambon seolah memberi pesan kepada masyarakat Indonesia bahwa perbedaan itu ada untuk dijaga, bukan untuk saling menganggap tiada. Perbedaan bersemi bukan untuk dibasmi tetapi untuk diselami akan keindahan-keindahannya. Perbedaan bukan untuk melahirkan perseteruan apalagi pertikaian. Perbedaan itu ada untuk menciptakan perdamaian dan keindahan. Dalam konsep kalimah sawa’ (common flatform) dalam Al-Quran, perbedaan hadir bukan untuk dicarikan titik-titik ketidaksamaannya, tetapi untuk dipetik kesamaan dan persamaannya.

Bukankah indahnya Pelangi terlihat karena banyaknya warna yang menyelimutinya. Jika warna yang menyelimuti pelangi itu hanya satu maka keindahan itu tak akan pernah terasa dan terlihat oleh tatapan mata kita.

Wallahu a’lamu bi al-shawab

Ambon 17 Februari 2018

*Penulis adalah alumni HMI yang juga pemerhati sosial politik

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: