Kongres HMI & YAKUSA, sebuah Muhasabah Pergerakan Mahasiswa

0 87

Oleh: Nasrudin Joha*

HMI mengadakan kongres, reorganisasi menjadi agenda utama. Peremajaan kepemimpinan dilakukan guna memastikan kaderisasi berjalan. Posisi ketum dan pengurus PB, menjadi isu sentral yang akan banyak menghadirkan dinamika perdebatan.

Sejauh tulisan ini diterbitkan, belum terlihat geliat panas adu ide untuk memenangi hati kader dengan buncahan pemikiran dan ide pergerakan. Diskursusnya sepi, nyaris sunyi. Tidak ada Dialektika pemikiran dan perdebatan intelektual, baik dalam diskursus ringan atau opini melalui tulisan.

Tidak ada adu tarfsir Nilai Dasar Perjuangan yang diaktualisasikan dalam konteks kekinian untkk menghadapi tantangan zaman. Tidak ada renstra memukau untuk meraih kepercayaan.

Beberapa simpatisan atau alumni, hanya sibuk dan berbangga menshare foto kegiatan yang dihadiri Jokowi. Virus sosmed nampaknya juga menjangkiti aktivis mahasiswa, hanya narsis untuk eksis. *Eksistensi pemikiran telah dikubur ratusan kilometer didalam tanah*. Eksistensi sebatas aktualisasi wajah, keakuan, simbol-simbol, formalis dan kering substansi.

Kemungkinan besar, dialektika perdebatan adalah hanya untuk meraih kursi kekuasaan organisasi, menjadi ketum, menjadi pengurus PB, atau yang semisalnya. Setelah itu, menjadikan organisasi sebagai jalur titian untuk meniti karier politik.

Yakin Usaha Sampai (yakusa) bisa saja dimaknai yakin sampai menjadi anggota dewan, yakin sampai menjadi gubernur atau bupati, yakin sampai menjadi menteri, dan seterusnya.

Kegalauan rakyat dan visi besar organisasi bukan lagi menjadi prioritas keyakinan, boleh jadi hanya sekedar jualan eksistensi. Merambah ke karier politik, adalah usaha sampai yang ingin diraih.

Maka bangunan politik patron klen, akan terus mentradisi. Kader akan terus menginventarisasi abang-abang mereka, baik yang di parlemen maupun yang ada di eksekutif. Satu sisi sebagai alasan agar roda organisasi tetap tersuplai bensinnya, sisi yang lain selain untuk meniti karier politik juga untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan.

Gawe Pilkada, pemilu bahkan Pilpres akan menjadikan keduanya -abang adik- akan saling mengisi dan melengkapi. *Pemenangan kontestasi politik tidak mungkin mulus, tanpa menyewa agen-agen perubahan*. Dalam situasi ini, boleh jadi kehadiran Jokowi di kongres HMI berujung pada dukungan Aklamasi HMI untuk mendukung pencapresan Jokowi, baik formal maupun substansial. Boleh jadi loh.

Disorientasi kader juga tidak bisa disalahkan semata pada kader, abang-abang senior juga memberi peran. Sangat disayangkan, Pembesar dan senior HMI dalam sebuah diskusi yang disiarkan TV nasional berujar *Beragama yang benar adalah jika dapat menjadikan pemeluknya damai, enak makan enak tidur, tidak dalam kesusahan.*

Boleh jadi ini ditafsirkan kader muda dan akar rumput melakukan reorientasi organisasi, dari ide-ide perubahan, penentangan pada tirani dan kedzaliman, menjadi orientasi pragmatis. Orientasi nasi bungkus, atau hanya untuk mengejar sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan.

Mereka melupakan suri tauladan nabi, yang terseok dan berdarah-darah meniti jalan perjuangan. Mereka tidak lagi melirik generasi sahabat, yang karib dan akrab dengan berbagai ujian dan kesusahan, semata untuk Istiqomah menggenggam misi perjuangan.

*Miris, kondisi ini terjadi menggejala acara umum didalam dunia pergerakan mahasiswa*. Aksi Zadit Taqwa yang meniup peluit dan mengeluarkan kartu kuning sebenarnya cukup memberi penyegaran dan harapan.

Aksi itu seharusnya yang dilakukan dan digaungkan oleh seluruh organ ekstra kampus, tak terkecuali HMI. Publik rindu kiprah HMI sebagaimana era medio 80 an sampai 90 an. Ketika itu, HMI lah yang paling lantang berdiri dihadapan penguasa dzalim menjadi penyambung lidah rakyat.

Kita tidak ingin kongres HMI hanya berakhir dengan restrukturisasi organisasi baik dengan atau tanpa lempar kursi. Kita tidak ingin nama besar HMI hanya dijadikan kendaraan politik segelintir oknum penjaja kekuasaan dan haus kemewahan.

Ala kuli hal, Kita masih tetap berharap, kongres HMI adalah kongres peradaban, kongres pertarungan ide untuk perubahan, kongres refleksi pergerakan untuk menantang tirani dan kedzaliman, kongres yang menjadi titik penanda lonceng kematian rezim Represif anti Islam.

Jayalah HMI, yakin usaha sampai, sampai Allah SWT ridlo kepada kalian. Selamat berkongres, semoga Allah SWT memberi petunjuk jalan, Amien. [].

Leave A Reply

Your email address will not be published.