“Zaadit…Jangan ke Papua, Kau Tak Akan Kuat…”

1 1.557

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Aksi kartu kuning Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa kepada Presiden Joko Widodo terus menjadi perbincangan publik di tanah air.

Selain berbagai komentar, sebuah surat terbuka juga muncul dari seorang dokter yang sementara melakukan tugas kemanusiaan di wilayah Kabupaten Asmat menangani KLB Campak dan gizi buruk di wilayah itu.

Surat ditulis oleh dr. Yafet Yanri Sirupang melalui akun Facebooknya tertanggal 4 Februari 2018 dan kini telah beredar luas di jagad media sosial.

Surat sang dokter itu ditulis sekitar 11 paragraf dan melukiskan potret pelayanan kesehatan di pedalaman Papua yang dialami langsung oleh sang dokter.

Isi surat tersebut ditujukan langsung kepada ketua BEM UI, Zaadit Taqwa yang dinilai berkoar hingga berani memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi tanpa turun langsung ke Papua.

Surat yang kini telah dihapus dari wall FB sang dokter tersebut menuai banyak pujian. Berikut bunyi surat tersebut.

 

(BUKAN) SURAT CINTA UNTUK ZAADIT TAQWA.

Yang saya kasihi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa, gimana kabarnya Dit, sehat?

Cieee Katanya mau dikirim ke Asmat sama Pak Jokowi, makin sehat lah ya..

Gini Dit…

Melihat aksi dan tingkah anda meng ’kartu kuning’ orang nomor satu di Republik ini selama beberapa hari di berbagai media sosial dan elektronik membuat banyak orang geram dan terusik, saya salah satunya (yang tertawa). Namun secara pribadi saya bersyukur. Hal ini membuat saya ingin memberikan gambaran kepada anda mengenai kondisi sesungguhnya di pedalaman Papua itu seperti apa. Hal yang sebenarnya malas untuk saya lakukan, tapi demi lo dit…

Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa hal ini bukan karena unsur politik dan lain sebagainya, tetapi atas dasar apa yang saya rasakan (dan saya yakin sebagian besar masyarakat di Papua rasakan) atas kinerja yang telah dan yang sementara dikerjakan pak presiden di bumi cendrawasih (walapun sebagai manusia tentu masih ada kekurangan). Karena terus terang dit, saya bahkan tidak mencoblos beliau saat pilpres 2014 kemarin, hal yang kemudian saya sesali dan menjadi aib seumur hidup hehe.

Ngomong-ngomong salah satu poin aksi yang disampaikan saat Dies Natalis UI adalah menuntut persoalan gizi buruk di Asmat. Namun tahu gak dit, secara umum bagaimana bisa kasus gizi buruk bisa terjadi?

Menurut UNICEF secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh ketidak cukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung karena kurangnya ketersediaan pangan pada tingkat rumah tangga, pola asuh yang tidak memadai serta masih rendahnya akses pada kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah dan minimnya kesempatan kerja.

Di sini bisa dilihat bahwa munculnya kasus gizi buruk ini merupakan tanggung jawab dari multi/lintas sektor. Namun sialnya yang selalu menjadi kambing hitam adalah sektor kesehatan dengan mengabaikan peran sektor lain. Memang benar bahwa tenaga kesehatan di Papua sangatlah kurang, namun bukan hanya itu, tenaga-tenaga ahli lainnya seperti insinyur, guru, dll juga masih sangat kurang. Itu kendala yang pertama.

Kendala terbesar lain yang ditemui di papua adalah kondisi medan dan geografisnya. Lokasi untuk menjangkau masyarakat di kampung-kampung dan dusun sangat sulit sekali, di mana harus melewati gunung-lembah, melintasi laut, sungai bahkan rawa-rawa. Makanya kasus gizi buruk sendiri di Papua sebenarnya sudah dari dulu terjadi, bukan hanya pada saat era Pak Jokowi. Hal yang tentunya secara tidak langsung coba diatasi saat ini dengan pembangunan infrastruktur guna membuka akses daerah sulit, bandara-bandara dan pelabuhan yang terus dibangun dan diperbesar, harga BBM satu harga (asal mafia diberantas), tol laut, proyek indonesia terang (tempat tugas saya puskesmas Kota 1 Kabupaten Mappi tahun 2017 akhirnya dialiri listrik setelah 72 tahun Republik ini merdeka), 10% saham Freeport ke pemerintah propinsi dll. Fyi, akses internet di Merauke sekarang ga kalah kenceng sama Depok Dit…

Sebagai mahasiswa sebaiknya jangan berkoar-koar yang berlebihan apalagi tanpa mengetahui realita di lapangan. Sementara faktanya bahkan di Depok dan Jakarta saat ini juga masih ditemukan kasus gizi buruk, apalagi Papua? Lantas salah siapa?

Mungkin lebih elok kalau mas kuliah dulu yang benar jadilah orang yang ahli dan berkompeten di bidangnya, nanti klo sudah lulus ajak teman-teman yang lain ramai-ramai datang ke papua dan tunjukkan secara nyata kontribusi kalian sesuai kompetensi yang dimiliki. Bukan hanya Raja Ampat doang taunya.

Melayani di Papua itu kalau gak pake hati sulit dit, apalagi kalau sekedar money oriented. Pasti bakalan dongkol dan menggerutu dalam bekerja sehari-hari. Terutama bagi tenaga medis yang melayani di pedalaman-pedalaman terpencil Papua, makanya tidak jarang ditemui banyak teman-teman yang tidak betah untuk bekerja dan memilih untuk secepatnya pulang, namun tidak sedikit juga yang bertahan dan akhirnya mencintai Papua.

Bukan menakut-nakuti dit, tapi bekerja di pedalaman Papua itu risikonya berat bahkan bisa nyawa taruhannya. Apalagi buat lo yang kulitnya putih dan sedikit berlebih gizinya kalau dilihat di TV. Pelayanan kesehatan dari kampung ke kampung yang jauh jaraknya menggunakan speed boat, long boat, atau perahu sampan di tengah teriknya matahari, derasnya hujan, apalagi ombak. Bahkan kadang berjalan kaki berjam-jam sambil memikul obat dan perlengkapan medis lainnya. Hidup dengan ketiadaan akses sinyal, tanpa listrik PLN, transportasi ke kota yang sulit, BBM seharga kopi setarbak.. Bah lengkap sudah penderitaan, tapi entah kenapa nikmat dit (untuk dikenang).. Dan satu lagi, akses air bersih yang sulit terutama Papua Selatan (Asmat, Mappi, Merauke). Makanya biaya yang digelontorkan baik dari pusat maupun daerah bisa saja kebanyakan habis hanya untuk transportasi. Jangan kaget klo di beberapa pedalaman Papua, mata uang paling kecil itu goceng.

Pernah kebayang ga Dit ga mandi air bersih selama berhari-hari? Atau pernah dengar gak sebagian masyarakat di Asmat pada saat kemarau mandinya air aqua?? Hanya di Asmat dit mineral water yang biasa lo minum itu dipake buat ngebilas daki.

Oya biar gak stres sekali-kali dengarin lagu karya anak Merauke “Turun Naik” (searching di youtube gih) sekalian belajar cara goyangnya, asik lho.

Doain gw dit Maret ini bisa lanjut spesialis di UI, supaya nanti kita bisa santai ngobrol-ngobrol di kantin sambil minum ale-ale atau jas-jus. Kita bisa sharing pengalaman gw di Papua, sambil liat-liat foto di laptop, banyak tuh di hardisk. Pengalaman 5 tahun jadi dokter di pedalaman Papua cukuplah gue rasa buat diceritain. Tapi doain dulu gw bisa keterima, biar nanti klo dah selesai sekolah gw bisa balik lagi ke Papua. Sapa tau lo mau ngikut. Kan dah gak pusing lagi mau tinggal di mana, mau makan apa, mau jalan2 kemana secara udah punya temen.

Mau ga dit gw ajarin istilah-istilah bahasa di papua? Satu aja dulu ya dit nanti lo pakai klo seandainya udah sadar dan berubah pikiran, trus mau ketemu pak dhe buat sungkeman. Nanti lo bilang aja ke beliau…. “Pak dhe Jokowi, ko tra kosong….”

Udahan dulu ya dit….

“SEKARANG KO TIDUR SUDAH. JANGAN TAHAN-TAHAN MATA EE… DAN JANG KO KE PAPUA….

KENAPA?? ZAADIT DE TANYA.

BERAT…. KO TRA AKAN KUAT. BIAR SA SAJA……….”

Diakhir surat dr. Yafet Yanri Sirupang juga memberikan dukungan moril kepada rekan sejawatnya yang juga sementara memberikan pelayanan kesehatan di pedalaman Papua termasuk Asmat.

“Tetap semangat buat rekan yang bertugas di Asmat (dr. Fey Rebriyani, dr. Desi Irene, dr. Ziona, dkk) semoga KLB campak dan gizi buruk dapat segera teratasi,”ucapnya.

“Salam hangat dari Papua. Gbu,” sambungnya. (MD)

  1. yulius alvian says

    Selamat melayani dengan penuh cinta kasih!! Tuhan memberkati semua pelayanan yg dr.Yafet danteman-teman semua.
    Salam hangat
    vian
    Sangatta-Kutai Timur

Leave A Reply

Your email address will not be published.