“Knowledge is Power” Bangun Kemakmuran

Oleh: Fauzi Aziz, Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

0 35

Judul tersebut dikutip dari kalimat pamungkas yang disampaikan oleh Francis Bacon. Dia mengatakan bahwa knowledge is power tidak hanya berlaku untuk penjelajahan, tetapi juga untuk merevolusikan ekonomi. Revolusi ekonomi bisa dimaksudkan pula dalam konteks untuk memajukan sektor pertanian dan/atau sektor industri, serta sektor ekonomi lainnya agar tumbuh spektakuler sebagai penggerak ekonomi. Kemajuan sains dan teknologi menjadi kunci utama yang menentukan untuk meningkatkan produktivitas.

Sains dan teknologi menjadi kekayaan intelektual sebuah bangsa yang harus dikembangkan, didaya gunakan dan dikomersialisasikan untuk menghasilkan produktivitas ekonomi. Knowledge is power bisa menempatkan sebuah bangsa menjadi super power di bidang ekonomi maupun militer. Dalam hubungan ini berarti bahwa proses pembangunan ekonomi hingga menjadi negara adidaya ekonomi pada dasarnya sangat bergantung pada proses bekerjanya sains dan teknologi di negara yang bersangkutan. Ini berarti bicara soal “hidup atau mati” atau bicara soal “kemandirian” versus “ketergantungan”.

Sebagai catatan sejarah dapat disampaikan bahwa Inggris sampai dengan pertengahan abad 18,menjadi salah satu negara miskin di Eropa. Akan tetapi akibat pemikiran Adam Smith, revolosi sains, revolosi industri, produktifitas dan efisiensi ekonominya meningkat drastis.

Pendapatan per kapitanya meningkat tajam jelang akhir abad 18.Revolosi sains dan teknologi terus berkembang, dan dengan ekosistem yang kurang lebih serupa, era keajaiban ekonomi terjadi di AS, jerman dan negara eropa yang lain, menyusul jepang dan korsel. China dan India menyusul kemudian. Kemajuan mereka bahkan bisa mengguncangkan stabilitas negara-negara maju sebelumnya seperti AS, Eropa dan Jepang. India maju karena penguasaan teknologi informasinya

Dari penjelajahan dan penulusuran yang dilakukan, maka penulis mendapatkan satu benang merah bahwa “economic miracle” yang terjadi di dunia hingga kini baik di negara maju maupun di negara emerging economy berjalan melalui jalinan pemikiran yang solid, dan kemudian diejawantahkan ke dalam mix policy process yang diyakini akan membawa keberhasilan dalam pembangunan ekonomi.

Lebih luas dari itu adalah keberhasilan membangun peradaban maju. Benang merah yang paling fondamental dan hakiki untuk meghasilkan lanskap ekonomi yang digdaya dan berdaya saing harus di rancang bangun berdasarkan kombinasi antara penerapan konsep ekonomi pasar, penguasaan sains dan teknologi, serta demokratisasi, yang kini di zaman now terdeklarasi ke dalam konsep ekonomi digital.

Dalam konstruksi economic development, pada kasus Indonesia, di era orde baru pernah terjadi pertarungan pemikiran pada tataran policy yang saat itu dikenal dengan pendekatan “Widjojonomic” dan, “Habibienomic” . Penulis melihat dua-duanya benar karena memiliki landasan pemikiran yang secara ilmu pengetahuan dapat dipertanggung jawabkan. (***)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: