Zaadit Taqwa Buktikan Mahasiswa belum Tamat

0 851

Oleh: Moh. Ilyas*

Zaadit Taqwa adalah nama yang tiba-tiba populer dalam beberapa hari ini. Ini tidak lain karena aksinya yang memberikan peluit dan kartu kuning terhadap Jokowi saat menghadiri Dies Natalis ke-68 UI, 2 Februari lalu.

Apa yang dilakukan Zaadit yang merupakan ketua BEM UI itu telah membuka mata bahwa tak semua mahasiswa sudah mati, bahwa harapan terhadap mahasiswa dalam memimpin perubahan belum pantas dikubur dalam-dalam.

Zaadit membuktikan bahwa masih ada segelintir mahasiswa yang memiliki keberanian dalam memperjuangkan nurani perubahan. Masih ada mahasiswa yang berani mengatakan tidak pada kezaliman penguasa. Zaadit menyadarkan kita bahwa mahasiswa belum habis.

Sepintas, apa yang dilakukan Zaadit tampak tidak terlalu mewah dibanding gerakan-gerakan mahasiswa tempo dulu, saat melakukan aksi protes terhadap rezim Soekarno ataupun saat mereka menggerakkan reformasi yang menggulingkan rezim Orde Baru. Gerakan tiup peluit dengan memberikan kartu kuning juga tak sekeras aksi protes mahasiswa-mahasiswa di Perancis saat melawan rezim otoriter Jenderal de Gaulle pada 1968, atau mahasiswa yang melahirkan Manifesto Cordoba di Argentina pada tahun 1918, yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya berbagai gerakan mahasiswa di Amerika Latin dan belahan dunia lainnya.

Kendati demikian, apa yang dilakukan Zaadit menjadi istimewa di tengah banyaknya mahasiswa Indonesia yang tengah pulas dalam tidur panjangnya. Keberanian Zaadit menjadi wah di tengah tumpulnya nurani mahasiswa, di mana mahasiswa lebih suka berselfie ria dengan penguasa daripada mengkritisi kebijakannya. Mahasiswa lebih “happy” duduk dan makan bareng dibumbui canda tawa dengan penguasa tanpa peduli nasib bangsanya.

Zaadit juga membuktikan bahwa masih ada mahasiswa yang tak mau dibeli atau pun ikut menjilat pada kepentingan tirani. Ia juga perlihatkan bahwa masih ada mahasiswa yang tak mau terkungkung dalam zona nyaman di saat masih mengguritanya rakyat yang menjerit dalam nestapa.

Ia hendak memberi tahu kita bahwa masih ada mahasiswa yang memilih turun ke jalan, bersuara lantang pada penguasa daripada hanya datang di acara-acara talkshow untuk sekadar menjadi pemandu sorak ria.

Inilah sejatinya mahasiswa yang, meminjam istilah Antonio Gramsci, masuk dalam jajaran intellectual organic. Mereka adalah agen yang senantiasa haus perubahan. Mereka tidak ingin terjebak dalam status quo dan juga tidak hanya ingin duduk manis di kampus untuk mengejar target cepat lulus dan dapat kerja. Mereka tak hanya berpikir untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk rakyat dan bangsa ini.

Dengan begitu, mereka tidak boleh pasif melihat ketidakadilan dan kezaliman. Mereka bukan jua penonton perubahan yang akhir-akhir ini justru banyak diperankan ulama.

Maka, ayo bangkitlah mahasiswa. Riwayatmu belum tamat. Sejarah perubahan berada di tanganmu. Dalam dirimulah darah juang perubahan itu mengalir. Engkaulah aktor perubahan itu. Bulatkan tekadmu, langkahkan kakimu, dan kobarkan semangat dan keberanianmu dalam meluruskan kebijakan-kebijakan yang seakan sudah dimakan oleh khayalan.

Mahasiswa harus jadi Zaadit-Zaadit lain yang berani berkata tidak pada kehendak rezim yang menyengsarakan rakyat. Tanpa kehadiran mahasiswa, betapa banyak kehendak rezim ini yang selalu berjalan mulus tanpa ada kendala, meski sebenarnya merugikan rakyat? Wallahu a’lamu bi al-shawab *

*Penulis adalah Eks Aktivis Mahasiswa dan alumni HMI.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: