Skybridge segera Dibangun di Tanah Abang

0 229

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan segera merilis rencana pembangunan jembatan udara berskala besar atau Skybridge di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada akhir bulan Februari ini. Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno, mengungkapkan hal itu di Jakarta, Senin (5/2/2018).

Menurut Sandi, program ini diproyeksi sebagai solusi jangka menengah dalam menata kawasan Tanah Abang. Nantinya, proyek itu akan mengakomodasi pedagang kaki lima (PKL), sopir angkuta umum, pengguna jalan raya, pengguna kereta api, dan pejalan kaki.

“Sesuai rencana, proyek ini akan kami rilis akhir bulan ini dan kami perkirakan 4-5 bulan selesai,” terangnya.

Sandiaga mengungkapkan, proyek ini mengadopsi proyek Skybridge di kawasan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat yang diinisiasi oleh Walikota Ridwan Kamil.

“Inspirasinya dari sana. Mudah-mudahan mirip dengan di Bandung dimana moda transportasi terintegrasi dengan Skybridge,” paparnya.

Sandi menambahkan, proyek Skybridge diharapkan bisa menjadi solusi yang bisa mengakomodasi kepentingan berbagai stakeholder di tanah abang.

“Riset kami menunjukkan aktivitas ekonomi di kawasan Tanah Abang terus berkembang dan 170 ribu orang berlalu lalang di sana. Skybridge itu sebagai usaha kita untuk mengakomodasi PKL supaya aktivitas ekonomi di sana makin berkembang,” tandasnya.

Pemikiran serupa juga pernah dilontarkan oleh Djoko Setijowarno, akademisi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

Menurut dia, dibanding menjadikan jalan raya sebagai tempat berjualan para pedagang kaki lima (PKL), Pemrov DKI sudah saatnya memikirkan opsi lain dengan cara membangun Skybridge dan Skywalk terpadu yang terintegrasi antara stasiun Tanah Abang dengan Pasar Tanah Abang.

“Pemikiran saya, ada baiknya Pemrov membuat bangunan penghubung antara Stasiun Tanah Abang dengan pasar Tanah Abang. Gabungan skybridge dan skywalk,” terang Djoko, melalui keterangan persnya di Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Agar nyaman kata dia, bangunan penghubung yang akan dibangun harus tertutup sehingga tidak ada yang kehujanan dan kepanasan. Kemudian, bangunan penghubung itu juga harus dibangun dengan lebar dan rapi agar terdapat ruang buat pedagang berjualan.

“Kalau langkah ini ditempuh oleh Pemrov, maka jalan raya di bawah tidak akan terganggu sehingga dapat digunakan oleh publik,” imbuhnya.

Djoko memandang, untuk angkutan perkotaan tidak sulit menatanya, hanya butuh manajemen baru. Pemrov bersama kepolisian hanya perlu merapikannya agar tidak berhenti lama menunggu penumpang secara sembarangan dan serampangan.

“Jadi clear, angkot-angkot yang ada harus berbadan hukum, tidak boleh perorangan seperti saat ini. Terus, pengemudi angkutan umum juga mendapatkan gaji tetap setiap bulan karena pemerintah daerah membeli pelayanan angkot-angkot yang ada,” paparnya.

Selain itu lanjut Djoko, pemerintah juga perlu membangun halte sebagai tempat angkutan perkotaan mengangkut penumpang dengan jarak antara 200 hingga 500 meter dari Stasiun Tanah Abang.

“Saya pikir, solusi ini akan menjawab problem tanah abang dan ini jangka panjang,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Priharto. Ia memandang, diperlukan sky bridge atau pedestrian bridge di kawasan Tanah Abang. Ini supaya pejalan kaki semakin nyaman pascapenutupan Jalan Jati Baru Raya.

“Berdasarkan quick assessment pergerakan orang di sekitaran Tanah Abang maka diperlukan pedestrian bridge,” terangnya.

Berdasarkan data yang didapatkan BPTJ, tujuan penumpang KRL tertinggi adalah Pasar Tanah Abang dengan persentase 35,59 persen dari jumlah total populasi penumpang KRL sebanyak 7.748 penumpang. Para penumpang tersebut kemudian menempuh jarak dengan berjalan kaki.

“Nantinya jembatan itu langsung menghubungkan pintu selatan Stasiun Tanah Abang dengan area Pasar Tanah Abang,” imbuhnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.