“Kalahkan Jokowi, Prabowo harus Ubah Strategi’

0 477

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Gonjang ganjing politik menjelang putaran Pilpres 2019 terus mewacana. Proyeksi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, rakyat di tanah air bakal dihadapkan dengan pertarungan ulangan dua kandidat terkemuka, Joko Widodo (Jokowi) melawan Prabowo Subianto.

Jokowi sebagai petahana dinilai akan berjuang untuk melanjutkan periode kedua kepemimpinannya. Sebaliknya, Prabowo Subianto akan menerapkan strategi berbeda agar memenangkan kompetisi.

Menurut Denny JA, untuk mengalahkan Jokowi tentu tidak mudah. Prabowo Subianto sebaiknya mengubah strategi lama seandainya kembali ikut bertarung melawan Jokowi.

“Belajar dari Pemilu Presiden 2014, waktu itu kita tidak tahu sumber isu yang menyerang Jokowi namun kita lihat isu itu terlalu cepat keluar dan diklarifikasi Jokowi,” ujar Denny JA akhir pekan kemarin.

Potensi tanding ulang antara Jokowi dan Prabowo kata Denny bukan tanpa dasar. Dari survei LSI terbaru periode 7-14 Januari 2018, Prabowo menjadi satu-satunya capres potensial yang memiliki elektabilitas dan tingkat pengenalan tinggi setelah Jokowi.

Pada survei yang melibatkan 1.200 responden dan dipilih dengan metode multi stage random sampling, Ketua Umum Gerindra itu disebut menjadi capres paling populer karena dikenal oleh 92,5 persen responden.

“Prabowo bersama Gerindra dan PKS juga sangat intens membangun koalisi di parlemen maupun di banyak pilkada. Sangat mungkin terjadi rematch antara Jokowi versus Prabowo (di pemilu 2019),” ujarnya.

Pada Pemilu Presiden 2014, Jokowi dan Prabowo bersaing untuk menjadi presiden ketujuh. Saat itu Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK), kemudian Prabowo bersanding dengan Hatta Rajasa.

Jokowi-JK keluar sebagai pemenang pemilu pilpres 2014 dengan raihan 70.997.833 suara (53,15 persen), sementara Prabowo-Hatta meraup 62.576.444 suara (46,85 persen).

“Hal yang perlu dipertimbangkan dalam Pilpres 2019 nanti adalah coopetition. Istilah ini mengacu pada competition dan cooperation: berkompetisi kemudian bekerja sama,” ujarnya.

Denny menambahkan, jika Prabowo batal maju, Jokowi akan bertarung dengan tokoh capres lainnya.

“Jika Prabowo tidak maju capres, maka lawan Jokowi yang mungkin adalah antara lain Jokowi versus AHY, Jokowi versus Anies Baswedan, atau Jokowi versus Gatot Nurmantyo,” terangnya.

Ia memandang, keuntungan jika Prabowo tetap maju melawan Jokowi pada Pilpres 2019 adalah dapat mengerek tingkat keterpilihan Gerindra di Pileg 2019. Karena Pilpres dan Pileg 2019 yang digelar serentak sangat terkait satu sama lain.

“Dengan menjadi kompetitor utama Jokowi, Gerindra dapat terkerek menjadi partai papan atas,” tandasnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.