Penataan Pasar Tanah Abang Mau Digagalkan?

Oleh : Musni Umar, Sosiolog, Rektor Univ. Ibnu Chaldun Jakarta

0 1.880

Saya amat terkejut ketika membaca media cetak, media online  serta menonton berita TV yang sangat gencar memberitakan penataan pasar Tanah Abang.

Sebagai sosiolog yang pernah menjadi aktivis pergerakan mahasiswa di masa Orde Baru, saya kemudian bertanya, apakah berbagai komentar, usulan, demo dan bahkan mogok adalah murni atau ada motif untuk menggagalkan penataan pasar Tanah Abang yang dilakukan Anies-Sandi?

Setidaknya ada enam alasan, saya patut menduga, berbagai pernyataan yang diberitakan media, dan berbagai gerakan sarat dengan muatan kepentingan untuk menggagalkan penataan pasar Tanah Abang.

Pertama, dalam rangka penelitian, saya bersama tim dari  Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED) sebelum pasar Tanah Abang ditata, sudah dua kali turun dikawasan tersebut dan saya menyaksikan semrawutnya kawasan itu dan tidak layaknya blok G tempat berdagang para PKL.

Kedua, setelah pasar Tanah Abang ditata oleh Gubernur Anies dan Wagub Sandi. Untuk obyektifitas, saya sengaja ke pasar Tanah Abang dengan naik kendaraan umum dari Blok M. pada hari Sabtu, saat banyak warga yang berbelanja. Saya keliling dikawasan pasar Tanah Abang dari pagi sampai sore. Sebagai sosiolog dan akademisi saya berusaha obyektif. Jika baik saya katakan baik, jika tidak baik saya katakan tidak baik. Temuan saya, tidak ada penutupan jalan Jatibaru sebagaimana diberitakan media, karena bus TransJakarta Explorer melintasi jalan itu mengelilingi kawasan pasar Tanah Abang, tapi angkot dialihkan di jalan lain.

Ketiga, tidak ada kemacetan yang luar biasa sampai 60 persen seperti dalam pemberitaan. Saya coba naik bus Trans Explorer dengan gratis mengelilingi kawasan pasar Tanah Abang sampai di stasiun Kereta Api untuk memastikan bahwa penataan pasar Tanah Abang berjalan baik. Saya menunggu bus Trans Explorer hanya sekitar 5 menit. Dibelakang saya sudah menanti bus Trans Explorer untuk memuat para ibu-ibu yang usai berbelanja. Jadi sangat lancar dan tidak ada kemacetan.

Keempat, saya menyaksikan dengan mata kepala tidak ada PKL yang berdagang di trotoar seperti diberitakan media karena dilarang oleh Satpol PP.

Kelima, kesemrawutan dilingkungan pasar Tanah Abang sudah teratasi dengan penataan yang dilakukan.

Keenam semua PKL merasa bersyukur dengan penataan yang dilakukan karena omzet mereka dalam berdagang meningkat luar biasa dari Rp 300.000/hari sampai Rp 1,5 juta-2 juta/hari.

Masalah yang harus diatasi adalah angkot yang selama ini melintasi pasar Tanah Abang yang menimbulkan kemacetan kesemrawutan luar biasa.  Diperlukan dialog dan musyawarah untuk mencari solusi. (***)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: