KPK DKI Investigasi Celah Korupsi di Era Ahok

0 343

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Ketua Komite Pencegahan Korupsi (KPK) DKI Jakarta, Bambang Widjojanto mengungkapkan, tim KPK yang dipimpinnya saat ini mulai fokus menginvestigasi, memetakan dan menelusuri celah korupsi di era pemerintahan gubernur DKI sebelumnya, Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Dari sekian banyak potensi korupsi yang mulai dibidik, KPK mengendus celah korupsi dari konstribusi dana pihak ketiga yang bersumber dari pengembang reklamasi Teluk Jakarta.

Dijelaskan, dimasa pemerintahan Ahok, kontribusi pengembang untuk Pemprov dipakai membangun infrastruktur ibukota, seperti proyek normalisasi kali, proyek pembangunan jalan inspeksi dan reklamasi Teluk Jakarta.

Ironisnya, dari pengunaan dana-dana pihak ketiga yang sudah digunakan, ada sejumlah proyek dikerjakan tidak selesai, alias mangkrak. Fatalnya, dari sekian proyek itu, justru tidak relevan dengan program Pemrov DKI. Akibatnya, proyek-proyek tersebut tak bisa dilanjutkan.

“Ini tentu menjadi informasi yang bagus. Tim kami akan segera menginvestigasi semua ini dan mempelajarinya secara mendalam,” terang Bambang Widjojanto, Senin (8/1/2018).

Rencana investigasi KPK ini mencuat setelah kalangan legislatif mulai mempertanyakan kejelasan proyek normalisasi kali dan jalan inspeksi yang menggunakan dana kontribusi pihak ketiga khususnya dari para pengembang.

Sorotan itu datang dari Ketua DPRD DKI Iman Satria. Ia menilai, banyak jalan inspeksi yang dibangun di beberapa lokasi, namun jalan-jalan itu tidak diprogram oleh Pemprov DKI.

Ia mencontohkan, seperti jalan inspeksi Kali Mookevart. “Ini jelas kita pertanyakan. Setelah menggusur rumah warga tanpa berizin, lalu dibangun jalan inspeksi, dan sekarang terbengkalai. Anehnya, jalan itu tidak ada dalam program Pemrov,” ketusnya kemarin.

“Bagaimana mungkin proyek itu mau dilanjutkan karena berhadapan dengan lahan-lahan milik perusahaan yang memiliki sertifikat hak milik (SHM). Kalau sudah begini, Pemrov pasti akan kesulitan untuk melanjutkannya,” tandasnya.

Dengan kondisi itu, Imam memandang, proyek-proyek ini harus ditelusuri karena ini kesannya hanya proyek ‘akal-akalan’.

“Kalau saya lihat, proyek ini sebenarnya tidak begitu dibutuhkan, tapi ini hanya akal-akalan agar dana kontribusi dari pengembang bisa mengalir,” pungkasnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.