‘Kemiskinan dan Kekayaan Ekstrim, Lihatlah di Jakarta’

0 91

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan kegelisahannya melihat ketimpangan yang terjadi di kota Jakarta. Menurut Anies, kemiskinan dan kekayaan ekstrim ada di ibu kota.

“Di Jakarta ini, kita melihat ketimpangan yang sangat ektrim. Kita dengan mudah bisa melihat warga yang sangat miskin dan pada saat yang sama kita juga bisa menyaksikan warga yang kaya raya. Itulah realitas Jakarta,” terang Anies akhir pekan kemarin Minggu (7/1/2018), saat memberi sambutan dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia di Is Plaza, Jalan Pramuka Raya.

Menurut Anies, kemiskinan yang dialami warga ibukota tidak hanya soal bagaimana sulitnya warga hanya untuk sekedar mencari makan, namun kemiskinan terjadi hampir disemua dimensi, mulai miskin udara kotor, miskin dalam ketidakpastian pekerjaan, miskin dalam ketimpangan dan miskin dalam kepedulian.

“Jadi, kalau mau melihat ketimpangan ekstrim, lihatlah kota Jakarta ini,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan daerah-daerah di tanah air lanjut Anies, kemiskinan yang terjadi di daerah tidak seekstrim apa yang terjadi di Jakarta.

“Kemiskinan yang saya lihat di pelosok itu menjadi nothing dibandingkan kemiskinan di Jakata ini. Warga di daerah masih bisa merasakan udara yang bersih dan lahan yang luas meski dalam kondisi miskin. Bahkan di beberapa tempat warganya masih bisa makan dengan layak karena sumber dayanya tersedia. Tapi di Jakarta ini, warga harus berjuang untuk sekedar survive,” tambahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, apa yang disampaikan oleh Anies linear dengan data dilapangan. BPS mencatat tingkat kemiskinan di Jakarta mengalami peningkatan. Sepanjang tahun 2017, warga miskin bahkan bertambah 7.290 jiwa.

Menurut Kepala BPS DKI Jakarta, Thoman Pardosi, angka kemiskinan ini merujuk pada perbandingan jumlah warga miskin di tahun 2016 dan 2017.

“Berdasarkan data, per September 2017 jumlah warga miskin di DKI Jakarta mencapai 393.130 jiwa atau 3,78% dari total penduduk, sedangkan per September 2016 mencapai 385.840 jiwa,” terang Thoman Pardosi, di Jakarta, Rabu (3/1/2018) lalu.

Menurut Thoman, untuk melihat problem kemiskinan tentu tidak hanya sekedar pada jumlah dan persentase warga miskin, namun harus dilihat juga dimensi lain utamanya tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.

Thoman mengungkapkan, jika dibandingkan per September 2016, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami kenaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan naik sebesar 0,179 poin dari 0,433 pada September 2016 menjadi 0,612 pada September 2017. Begitu juga dengan Indeks Keparahan kemiskinan naik sebesar 0,074 poin, yaitu dari 0,075 pada September 2016 menjadi 0,149 pada September 2017..

“Artinya, garis kemiskinan warga Jakarta pada September 2017 sebesar Rp 578.247 per kapita per bulan, sedangkan per September 2016, garis kemiskinan sebesar Rp 520.690 per kapita per bulan,” terangnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: