‘Soal Tanah Abang, Anies-Sandi Gagaslah Dialog’

0 671

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM – Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama Wakil Gubernur Sandiaga Uno terkait penataan kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, terus menuai kontroversi. Demi mencari titik temu, Pemrov pun disarankan untuk menggagas dialog terbuka guna menghimpun pemikiran dari berbagai elemen.

“Kita menghormati kebijakan Pemrov ini. Ada baiknya dibuat dialog.  Jangan lupa bahwa Ombudsman memiliki niat baik memberi masukan agar Pemprov DKI menata sesuai dengan mekanisme yang benar,” terang Wakil Ketua Ombudsman RI, Adrianus Meliala, di Jakarta, Rabu  (3/1/2018).

Adrianus mengungkapkan, ia awalnya tidak menduga jika penataan pedagang kaki lima (PKL) di Tanah Abang, dengan memindahkan PKL dari trotoar ke jalan raya bukan ke blok-blok yang sudah disediakan.

Mantan anggota Kompolnas ini mengira, setelah merotasi Satpol PP, Pemprov akan mengembalikan PKL ke blok-blok yang sudah ada sehingga pedestrian kembali difungsikan untuk pejalan kaki dan kondisi Tanah Abang kembali teratur.

“Tapi ternyata tidak. Satpol PP dibenahi tapi diteruskan dengan PKL diberikan tempat (di jalan raya), ini luar biasa sebagai strategi yang out of the box,” terang Adrianus.

“Kami mengkritisi sejauh mana hal ini benar karena bisa jadi ada Undang-undang dan Perda yang dilanggar,” imbuhnya.

Sementara itu, Sosiolog Musni Umar memandang, kebijakan Pemprov DKI Jakarta itu sudah tepat. Penilaian itu kata Musni, didasarkan dari pengamatannya sejak 26 Desember 2017.

“Dari penilaian saya, langkah Anies-Sandi dalam penataan Tanah Abang sudah tepat, karena memberi peluang kepada pedagang untuk tetap dekat dengan pembeli, melalui penempatan pedagang di Jalan Jatibaru. Bagi PKL yang terpenting adalah dagangan yang dijualnya laku dan dibeli masyarakat,” terang Musni.

Musni pun menceritakan, beberapa hari lalu, naik Bus Transjakarta dari Blok M, turun di Sarinah, Thamrin. Hanya menunggu 10 menit, bus yang ditunggu pun tiba, dan seterusnya langsung menuju arah Pasar Tanah Abang. Hanya sekitar 20 menit perjalanan, Transjakarta yang ditumpangi Musni tiba di Pasar Tanah Abang.

“Saya langsung ke blok A dan B untuk melihat apakah sepi setelah PKL diberi tenda untuk berdagang di luar, ternyata para pembeli tetap ramai berbelanja di dalam gedung blok A dan B. Itu menandakan upaya Anies-Sandi dengan menata Jalan Jatibaru tidak mengganggu ekosistem perdagangan di Blok A dan B. Justru cara Anies-Sandi dapat melengkapi proses perdagangan di Tanah Abanh, sehingga lebih hidup,” jelasnya.

Selanjutnya kata Musni, dirinya keluar dan menyaksikan berbagai jenis kendaraan termasuk busway yang merayap jalan karena padatnya kendaraan yang melintasi pasar Tanah Abang.

“Saya memastikan, setelah ke pasar Tanah Abang, tidak ada penutupan jalan seperti yang diributkan oleh sejumlah pihak. Hanya dilakukan rekayasa lalu lintas, sehingga tidak macet total dan semrawut,”ujarnya.

Selain itu, Musni juga menyaksikan dan ikut menikmati layanan Transjakarta yang menurut dia sangat memanjakan penumpang. Bayangkan setiap lima menit busway sudah datang, dan gratis menuju stasiun kereta api.

Dirinya juga ke lokasi tempat penataan PKL. Semua menyatakan kepada dirinya, apresiasi yang tinggi kepada Anies-Sandi. Ada tiga penyebab para PKL sangat berterima kasih ke Anies-Sandi.

Pertama, mereka nyaman berdagang  tidak diuber-uber Satpol PP dan tidak bayar upeti. Kedua, omzet penjualan mereka meningkat, ada yang mencapai Rp 1,5 juta perhari yang tidak pernah mereka peroleh sebelumnya. Ketiga, mereka merasa dimanusiakan.

Namun begitu, dirinya tetap menyarankam semua pihak dapat duduk bersama untuk menuntaskan persoalan ini. “Sebaiknya harus didialogkan dan tetap mengacu pada keberpihakan pada usaha kecil PKL dan juga tanpa mengganggu kepentingan masyarakat lainnya,” tandasnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.