Protes Rezim Berkuasa, Rakyat Iran Tuntut Revolusi

0 181

TEHERAN, MEDIAJAKARTA.COM – Gelombang aksi unjukrasa anti pemerintah di Iran kian tak terbendung. Ribuan massa turun ke jalan di beberapa kota seperti Teheran, Kermansyah, Sari dan Rasht, sejak beberapa hari terakhir sebagai bentuk protes rakyat atas kenaikan harga barang serta dugaan korupsi yang meluas di negera itu.

Aksi demonstrasi yang semula hanya memprotes rezim yang berkuasa, kini telah berubah menjadi seruan revolusi. Para demonstran menuntut Khamenei yang telah menjabat sejak 1989 untuk lengser. Demonstrasi ini disebut-sebut sebagai gerakan anti pemerintah terbesar sejak Revolusi Hijau pada 2009 lalu.

Kemarahan warga tersebut ditujukan, baik kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei maupun Presiden Iran Hassan Rouhani. Dalam sistem politik wilayatul fakih Iran, Khamenei yang dipilih Dewan Pakar memiliki kewenangan lebih besar ketimbang Presiden Rouhani yang sedianya berhaluan reformis.

Media-media Iran mengabarkan, sedikitnya sembilan orang meninggal dunia dalam unjukrasa pada Senin (2/1). Jumlah itu menggenapi jumlah korban meninggal dunia sejak pekan lalu menjadi 21 orang. Ratusan demonstran juga ditangkap.

Presiden Iran, Hassan Rouhani telah mengimbau warga untuk tenang. Dia juga mengatakan warga Iran berhak mengkritik pemerintah, tapi tetap mengingatkan bahwa pelaku kerusuhan harus ditindak secara tegas. Pemerintah juga mengklaim, para demonstran mencoba mencuri senjata dari berbagai fasilitas publik.

Beberapa pengamat timur tengah menilai, kemarahan rakyat dipicu harapan tinggi soal membaiknya perekonomian selepas kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) yang tak tercapai. Bagaimanapun, aksi-aksi unjuk rasa tersebut secara terbuka didukung Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.

Akhir pekan lalu, Pemerintah Iran telah memblokir akses ke media sosial, termasuk Telegram dan Instagram. Namun, pemerintah menegaskan pemblokiran tersebut dilakukan hanya untuk sementara, setidaknya hingga pergolakan selesai.

Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding musuh-musuh negaranya memprovokasi para demonstran yang menggelar aksi sejak Kamis pekan lalu hingga kerusuhan pecah.
Khamenei bahkan menuduh musuh-musuh Teheran telah menggunakan politik uang hingga intelijen guna menyetir massa hingga dapat memicu demonstrasi di Iran.

“Dalam beberapa hari terakhir, musuh-musuh Iran menggunakan alat yang berbeda-beda termasuk uang, senjata, politik, dan intelijen untuk membuat masalah bagi Iran,” jelas Khamenei melalui situs resminya, Selasa (2/1/2018).

Berbeda dengan Ayatollah Ali Khamenei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji aksi protes anti-pemerintah di Iran. “Saya harap warga Iran bisa sukses mencari kebebasan,” ucap Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah dalam akun Facebook, Selasa (2/1).

“Masyarakat Iran yang berani tengah turun ke jalan untuk mencari kebebasan dasar dan keadilan, yang telah dibungkam selama beberapa dekade. Rezim kejam Iran telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk menyebarkan kebencian,” lanjutnya.

Selain Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengungkapkan dukunganya terhadap protes di Iran. Trump, melalui kicauannya di Twitter, juga menyerukan perubahan dalam sistem pemerintahan Iran yang dinilainya sarat dengan tindakan represif dan korupsi. Baik AS maupun Israel adalah musuh bebuyutan Iran.
Di sisi lain, Rusia menyebut aksi protes di Iran adalah murni masalah internal negara tersebut.

Sebagaimana dikutip Reuters, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan intervensi eksternal dalam demo anti-pemerintah di Iran tidak dapat dibiarkan. Moskow berharap demonstrasi “tidak akan berkembang menjadi skenario pertumpahan darah dan kekerasan.”

Sementara itu, Inggris melalui Menteri Luar Negeri Boris Johnson menyerukan pemerintah Iran bisa meredakan protes dengan menyelesaikan isu-isu penting yang dituntut para pendemo.

Melalui Facebook, Johnson meminta aparat Iran memberikan kebebasan berekspresi dan melakukan aksi demonstrasi secara damai. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.