Situs Berita Jakarta Terkini | Warna warni Jakarta

Tahun 2018, Penantang Jokowi akan Bermunculan

0 1,675

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM-Menjelang perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, tensi politik di tanah air diproyeksi akan semakin tinggi. Intensitas gonjang-ganjing politik itu akan mulai memanas pada tahun 2018 ini.

Menurut Founder Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, tahun 2018 ini akan menjadi tahun politik yang penuh intrik.

“Tahun 2018 ini adalah tahun politik. Pada hari-hari kedepan kita akan melihat semakin terjadi polarisasi politik dan semuanya mengarah pada momentum 2019. Figur-figur penantang Jokowi akan mulai bermunculan,” terang Denny, Selasa (2/1/2018).

Denny memandang, di tahun 2018 ini ada dua peristiwa politik yang cukup menarik perhatian. Selain Pilkada serentak, sesuai kalender pendaftaran kandidat capres-cawapres peserta Pilpres 2019 juga akan dibuka pada Agustus tahun ini.

“Kita mengamati akan terjadi perubahan konfigurasi ulang koalisi politik. Panasnya Pilpres 2019 pun akan terasa pada awal 2018 karena figur-figur penantang Jokowi akan mulai bermunculan. Kemunculan mereka bisa jadi karena memang kehendaknya pribadi ataupun dimunculkan oleh banyak kekuatan politiknya,” papar Denny.

Menurut Denny, ada banyak penantang Jokowi yang bakal berjuang keras tampil ke publik, salah satunya Prabowo Subianto.

“Tujuannya jelas, memperkuat basis pemilih dalam menghadapi Pilpres 2019. Prabowo akan jauh lebih intensif di ruang publik. Sejauh ini dia penantang yang paling kuat. Tetapi pada hari-hari kedepan kita juga akan melihat Gatot Nurmantyo mungkin juga akan dicarikan partai baik yang ingin dia jadi capres maupun cawapres,” imbuh Denny.

Dilain pihak sambung Denny, akan ada wajah baru yang muncul. Sebut saja Anies Baswedan akan sering muncul, Agus Yudhoyono juga demikian. Sementara Airlangga dengan Golkar yang baru merasa mendapatkan satu kesempatan baru untuk memulai kiprahnya secara nasional.

Denny memandang, kuat atau lemahnya penantang Jokowi ditentukan beberapa hal. Pertama adalah situasi ekonomi nasional. Jika situasi ekonomi nasional membaik, Jokowi akan menguat dan penantangnya pun akan melemah. Sebaliknya, jika ekonomi memburuk, Jokowi akan melemah dan penantangnya menguat.

“Dalam politik itu, tidak ada kesetiaan yang tulus, politik di era demokrasi sangat bergantung pada kecenderungan populasi. Populasi dalam mendukung atau melawan Jokowi tergantung bagaimana ia merekondisi ekonomi mereka,” paparnya.
Isu lain yang bakal mulai memanas pada 2018 adalah isu primordial. Isu ini kata Denny, tak bisa dihindari dalam situasi politik seperti saat ini.

“Isu primordial itu nanti akan kuat sekali, yaitu bangkitnya kembali kaum pribumi di mana ekonomi jadi basisnya. Kedua, mengenai kekuatan Islam konservatif yang dulu berperan di 212 di Pilkada DKI Jakarta juga akan meluas-luaskan pengaruhnya,” ungkap Denny.

Pilpres 2019 juga kata Denny akan menjadi perhatian kekuatan internasional karena ini pertarungan dua raksasa besar dunia, yakni China dan Amerika.

“Mereka pasti akan melihat siapa pro-China dan siapa pro-Amerika. Pertarungan ekonomi di Indonesia ini negara populasi keempat terbesar di dunia akan menarik dua raksasa tersebut,” imbuh Denny.

Karena itu kata Denny, situasi politik akan sangat panas pada tahun 2018 ini. “Yang jelas, tensi tinggi politik nasional akan segera dimulai. Tinggal hasil finalnya kita belum tahu karena apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi kita belum tahu. Kita juga belum tahu seberapa cerdas Jokowi akan memainkan kartunya,” tandasnya.

Peta Politik Indonesia

Jauh sebelum itu, Denny sudah mengungkap peta politik nasional saat ini. Ia menyebut ada empat pusaran kekuatan politik yang kuat. “Jadi memang kalau kita lihat dari sisi pusat kekuatan politik, sebenarnya di Indonesia ada empat saja yang benar-benar punya pengaruh yang besar,” kata Denny.

“Pertama, Jokowi, karena dia adalah presiden. “Jadi semua gerak-gerak dia itu kuat. Kedua, Megawati, dia pemimpin partai terbesar saat ini. Ketiga, Pak SBY, karena dia mantan presiden 10 tahun dan jaringannya masih kuat. Dia juga ketua umum partai. Keempatnya, Prabowo, yang sekarang ini dari segi elektabilitas partainya kedua terbesar dan dia pun calon presiden terkuat kedua setelah Jokowi,” terang Denny.

Menutur dia, jika keempat kekuatan besar ini bergerak dan bermanuver, akan besar efeknya dalam Pemilu 2019. “Nampak sekarang dua-dua, Mega-Jokowi satu kubu dan Prabowo-SBY ada di kubu lainnya. Jika ini terjadi, maka Indonesia akan kembali terpolarisasi menjadi dua kubu. Kubu Mega-Jokowi yang akan mencapreskan Jokowi, begitu juga Prabowo mungkin akan muncul kembali,” terangnya.

Poros Jokowi + Mega atau SBY + Prabowo? Problemnya tak semua Pusat kekuatan itu bisa bersinerji karena riwayat masa silam dan kepentingannya.

Sulit melihat Mega dan SBY bersatu dalam kubu politik yang sama. Dua mantan presiden ini sudah lama diketahui seperti “Tom and Jerry” politik Indonesia. Walau orang dekatnya acapkali mencoba mengakurkan keduanya, namun selalu gagal. Sama sulitnya menyatukan Tom and Jerry dalam kisah kartun yang terkenal.

Sementara Jokowi dan Prabowo adalah dua personaliti yang mudah bertemu dan berkomunikasi. Namun kepentingan politik keduanya berseberangan. Yang satu Presiden RI, yang lainnya tokoh yang juga dianggap pendukungnya layak menjadi presiden RI. Celakanya presiden RI hanya untuk satu orang.

Megawati sulit bersatu dengan SBY, tapi mudah bersatu dengan Jokowi atau Prabowo. Bahkan Prabowo adalah calon wakil presiden Megawati pada pilpres 2009. SBY juga sulit bersatu dengan Megawati tapi mudah saja berkubu dengan baik Prabowo atau Jokowi.

Namun kondisi saat ini, karena Mega lebih dahulu dan masih satu kubu dengan Jokowi, tak ada pilihan lain bagi Prabowo dan SBY. Jika SBY dan Prabowo ingin menyaingi kekuatan Jokowi + Mega, SBY dan Prabowo harus pula menyatukan kekuatan.

Siapakah yang akan lebih kuat di pilpres 2019? Jokowi + Mega atau SBY + Prabowo? Per hari ini, dua poros itu sama punya pesona, kekuatan dan kelemahan.

Jokowi di H-2 tahun (dua tahun sebelum pilpres 2019, untuk jabatannya yang kedua), tak sekuat SBY H-2 tahun (SBY di tahun 2007, 2 tahun sebelum Pilpres 2009 untuk jabatannya yang kedua).

Elektabilitas Jokowi saat ini rata-rata di angka di bawah 45 persen dengan aneka simulasi. Sementara SBY di periode yang sama (2007, ketika masih menjabat presiden, juga 2 tahun sebelum pilpres berikutnya), elektabilitas SBY di atas 55 persen, juga dengan aneka simulasi.

“Bagi incumbent, jika dukungan di bawah 50 persen, itu adalah sesuatu. Bahkan Ahok saja selaku incumbent (gubernur Jakarta) yang H-1 tahun dengan dukungan hampir 60 persen bisa tumbang. Jokowi diuntungkan karena ia masih presiden, masih mengelola kebijakan dan dana APBN. Banyak perbaikan yang masih ia kendalikan. Namun ada dua hal ini yang Jokowi harus hati hati. Jika salah mengelola, kekuatan Jokowi akan terus tergerus,” pungkasnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.