‘Fasilitas Transportasi Kota Jakarta masih Semrawut’

0 78

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM-Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) mengungkap kondisi terbaru fasilitas transportasi  kota Jakarta. Melalui survei bertajuk Most Liveable City Index (MLCI) 2017, IAP menyimpulkan, fasilitas transportasi kota Jakarta masih sangat semrawut.

Survei ini merujuk dari pengalaman warga terhadap kotanya, pengalaman keamanan ekonomi, dan tingkat keselamatan.

“Temua kami, aspek terendah di Kota Jakarta adalah transportasi dan fasilitas pejalan kaki, disamping keamanan kota, fasilitas kesenian dan budaya, serta informasi pembangunan dan partisipasi masyarakat yang juga masih rendah,” terang Ketua Kompartemen Livable City IAP, Elkana Catur melalui keterangan persnya, di Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Menurut Catur, masalah utama Jakarta adalah transportasi. Penyebabnya, ada ketimpangan rasio jalan dengan pertumbuhan kendaraan dan banyaknya pengguna kendaraan pribadi khususnya motor, serta minimnya angkutan umum.

Berdasarkan Survei Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI), hanya sekitar 27% masyarakat di Jakarta yang melakukan perjalanan dengan transportasi umum.

Dengan kondisi tersebut dan diperparah dengan adanya sejumlah pembangunan di Jakarta, seperti MRT dan LRT membuat masalah transportasi di Jakarta semakin semrawut.

Sementara permasalahan pejalan kaki terjadi karena urbanisasi pinggiran di mana terdapat 1,4 juta orang komuter setiap hari dari Bogor Tangerang Bekasi (Bodetabek) masuk ke Jakarta. Padahal dari 7.000 km ruas jalan, baru 6% yang dilengkapi trotoar dan 80 % trotoar tidak terawat.

Untuk mengurangi permasalahan pejalan kaki, IAP telah memiliki rekomendasi sehubungan dengan pembangunan Transit Oriented Development (TOD). Dalam Perda No. 1 / 2012 tentang RTRW DKI Jakarta 2030, belum ditetapkan wilayah radius pengembangan TOD dari rencana titik stasiun MRT.

Oleh karena itu, IAP merekomendasikan agar radius jarak dari stasiun MRT sebagai dasar delineasi kawasan TOD adalah minimal 400 m atau maksimal 10 menit waktu tempuh untuk berjalan kaki. “Bisa diperluas hingga 1,5 km bila dilengkapi jaringan jalur sepeda (bike lane) menuju stasiun,” tandas Catur. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.