13 Smelter Nikel Beroperasi, Investasi Capai Rp 68 Triliun

0 57

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai investasi dari 13 fasilitas pemurnian (smelter) nikel yang sudah beroperasi selama tahun 2017, mencapai Rp 68 trilyun. Seluruh smelter itu  menghasilkan berbagai macam produk, seperti NPI, FeNi dan NiHidroxide.

“Pemerintah memastikan ada 13 perusahaan yang beroperasi dan tidak ada yang berhenti,” terang Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Bambang mengungkapkan, ke 13 perusahaan yang telah membangun smelter nikel diantaranya PT Vale Indonesia, PT Aneka Tambang (Pomala), PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara, PT Sulawesi Mining Investment, PT Gebe Industry Nickel, PT Megah Surya Pertiwi, dan PT COR Industri Indonesia.

Kemudian, Heng Tai Yuan, Century Metalindo, Indonesia Guang Ching Nikel and Stainless Steel, Virtu Dragon, PT Surya Saga Utama (Blackspace) dan PT Bintang Timur Steel.

Hingga Oktober 2017 kata Bambang, seluruh smelter nikel yang sudah terbangun dan beroperasi tersebut menghasilkan 598.000 ton (FeNi dan NPI) serta 64.000 ton Ni-Matte, serta mampu memurnikan bijih nikel di dalam negeri mencapai 34 juta ton.

Bambang menyatakan, selain ke 13 perusahaan itu, ada juga Investasi smelter yang sedang dibangun pasca terbitnya PP 1 2017. Terdapat 14 perusahaan yang berhasil mempercepat smelter nikel dengan nilai Rp 56 triliun.

Ke 14 perusahaan tersebut di antaranya Wanatiara, Antam, First Pasific Mining, Bintang Smelter Industri, Huadi Nikel Alloy Indonesia, Kinlin Nikel Industri, Huadi Nikel, Titan Mineral. Kemudian, Wan Xiang, Macica Mineral Industri, Fajar Bakti, Sambas Minerals Mining, Ceria Nugraha Indotama, Integra Mining Nusantara.

“Status kegiatan perusahaan ini ada yang kecil besar. Tapi kita kembali ke Permen 35 soal tata pelaksanannya. Kalau dalam 6 bulan progrses konstruksi smelter tidak ada, maka akan dicabut izinya. Ke depan akan kita kenakan sanksi financial penalti,”ujarnya.

Lebih jauh, Bambang mengungkapkan, selama dua tahun terakhir ada dua smelter nikel yang berhenti beroperasi karena faktor ekonom akibat dari meningkatnya biaya operasi (kokas) dan melemahnya harga komoditas mineral di awal 2017.

“Fasilitas pemurnian nikel yang berhenti beroperasi adalah Indoferro sejak 19 Juli 2017, dan Cahaya Modern Metal Industri sejak Januari 2016 karena kenaikan harga kokas mencapai 300 US Dollar per ton,” ujarnya.

Tingkat keekonomian dalam mengoperasikan peleburan nikel dengan menggunakan teknologi Blast Furnace sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku, salah satunya adalah kokas yang memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi.

Menurut Bambang, penyebab utama tidak beroperasinya smelter yang menggunakan teknologi Blast Furnace adalah meningkatnya harga kokas dari rata-rata 100 dolar AS per ton pada 2015 menjadi 200 hingga 300 dolar AS per ton sejak akhir 2016.

“Inilah yang yang mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi PT Cahaya Modern Metal Industri, sedangkan PT Indoferro sejak awal tidak didesain untuk memurnikan bijih nikel sehingga tingkat keekonomiannya akan berbeda dengan desain,” tandasnya. (MD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.