Jakarta Terendam Lagi

0 12
Banjir Jakarta.  Foto : Arie basuki©2013/ Merdeka.com

JAKARTA, MJ — Hujan deras di Jakarta dan sekitarnya, (13/11)
memicu banjir di banyak tempat. Padahal, saat ini baru memasuki awal
musim hujan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mencatat 32 genangan
di pusat kota dengan ketinggian 50 sentimeter (cm). Jalanan tergenang
setelah hujan lebat yang berlangsung nyaris sepanjang hari di Ibu Kota
dan sekitarnya.

Genangan itu merata di lima kota di Jakarta, antara lain di kawasan
Buaran dekat Kanal Timur, di bawah Jalan Layang Antasari, Bundaran Hotel
Indonesia, Mampang Prapatan, Cipinang Indah, dan di Jalan Dewi Sartika,
tepatnya di kawasan Cawang. Sementara air juga menggenangi 8 rukun
warga di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat dengan
ketinggian air bervariasi sampai 70 cm.

Banjir di daerah Cililitan, Jakarta Timur, terjadi akibat luapan
Kalibaru. Sungai itu meluap akibat sampah menyumbat di pintu air yang
menghubungkan aliran Kalibaru ke Kali Ciliwung. Selain itu, bagian
saluran tertutup dari Kalibaru, di bawah Jalan Raya Bogor, juga
tersumbat sampah dan endapan sehingga air dari alur sungai terbuka tak
dapat mengalir lancar.

Di Jakarta Barat, ancaman banjir terbesar bakal datang dari tepian
Kali Pesanggrahan, terutama di sodetan Kali Pesanggrahan, kawasan RW
005, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk. Kemarin pukul 12.00-13.00, luapan air
kali mulai menggenangi sebagian kawasan RW 005. Genangan air tertinggi
terjadi di lingkungan RT 013, yaitu setinggi lutut. Rumah Triono (48)
dan Haningsih, warga setempat, terendam air setinggi 40 cm. Di Jakarta
Selatan, Rabu sore, luapan air Sungai Pesanggrahan menggenangi Jalan
Perdatam VI dan Perdatam VII. Genangan juga dijumpai di wilayah Kampung
Baru V.

Kepala Unit Pengelola Badan Air, Taman, dan Jalur Hijau Dinas
Kebersihan Provinsi DKI Jakarta Budi Karya seperti dilansir Kompas.com (14/11) mengatakan puncak musim hujan
diperkirakan pada Januari 2014.

Jika hujan turun bersamaan dengan laut pasang, banjir besar pasti
akan terjadi. Banjir tidak hanya melanda daerah rawan, tetapi juga pusat
kota. Saluran air belum maksimal menjadi pengendali banjir. Sebagian
besar saluran bahkan tersumbat limbah domestik.

Budi menambahkan, banjir ini tidak aneh jika melihat fakta, timbunan
sampah masih menumpuk di banyak lokasi. Sampah menyebabkan drainase
tersumbat. Sumbatan ini terjadi di hampir sebagian besar di saluran
penghubung Jakarta.

Sebanyak 416 ton sampah setiap hari menyesaki sungai, danau, waduk,
dan situ. Adapun sampah yang terangkut dari kawasan itu 180 ton sampai
220 ton per hari.

”Percuma saja ada pembersihan, tetapi kesadaran warga tetap minim.
Hampir semua sampah di drainase itu berasal dari limbah domestik warga
Jakarta. Padahal, sudah ada 50 saluran kami bersihkan pertengahan
November,” kata Budi Karya. (KC/MT/EK/BJ).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: