KTT APEC Lahirkan Tujuh Kesepakatan

0 47
Para pemimpin KTT APEC 2013 berbaju batik endek khas Bali.   Foto :  ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

BALI, MJ- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Ke-21/2013 resmi berakhir kemarin (8/10). Indonesia patut berbangga. Se­lama dua hari penyelenggaraan, se­mua acara berjalan lancar dan aman. Lebih penting lagi, Indonesia meraup investasi miliaran dolar AS dari negara-negara mitra uta­ma.

Di akhir sesi, pertemuan 21 pe­mim­pin ekonomi di kawasan Asia Pa­sifik tersebut melahirkan De­kla­rasi Bali. Presiden Susilo Bam­bang Yu­dhoyono (SBY) me­nga­takan, per­temuan dua hari bersama para ke­pala ekonomi berlangsung su­k­ses dan sangat produktif. “Kita ha­rus tunjukkan kepada dunia bahwa APEC memegang peran penting da­lam perekonomian global,” ujar­nya saat menyampaikan kesim­pu­lan pertemuan APEC, kemarin.

Dalam pertemuan yang me­ngusung tema Resilient Asia-Pacific, Engine of Global Growth atau Asia Pasifik yang Tangguh, Mesin Pertumbuhan Global itu, para pemimpin ekonomi merumuskan 26 kesepakatan tertuang dalam Deklarasi Bali. Saat konferensi pers kemarin, SBY merangkum 26 kesepakatan tersebut ke dalam tujuh garis besar (lihat grafis).

Pada kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, selain sukses penyelenggaraan, Indonesia pantas senang karena berhasil mengegolkan beberapa agenda penting. “Salah satunya adalah prakarsa memasukkan komoditas yang mendukung perekonomian pedesaan sebagai produk yang didukung APEC,” terangnya.

Yang dimaksud Hatta ini ada dalam kesepakatan kesepuluh Deklarasi Bali. Ini terkait kesepakatan APEC mendekatkan pasar dan menghubungkan ekonomi anggota APEC. Selain meningkatkan implementasi penurunan tarif hingga di bawah 5 persen untuk produk ramah lingkungan (environmental goods/EG), poin C kesepakatan ini menyebutkan bahwa komoditas berperan dalam pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif, melalui pengembangan masyarakat pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

Hatta menjelaskan, produk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang selama ini sudah masuk melalui skema EG nanti bisa mendapatkan keringanan tariff, karena memenuhi klausul C dalam kesepakatan APEC. “Kita punya alasan kuat, 40 persen CPO kita dikelola rakyat di pedesaan dengan rata-rata kepemilikan lahan 2 hektare. Jadi, CPO ini juga berperan besar dalam pengentasan kemiskinan,” paparnya.

Komitmen Investasi

Di samping forum bilateral dengan pemimpin APEC, delegasi Indonesia juga banyak mengadakan pertemuan dengan para pemimpin bisnis yang hadir di APEC Chief Executive Officer (CEO) Summit 2013. “Dalam APEC, kita tidak hanya bicara soal perdagangan, tapi juga investasi,” ujar Hatta Rajasa didampingi Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, kemarin.

Hatta mengatakan, komitmen investasi disampaikan beberapa pemimpin ekonomi, misalnya Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Jepang, Rusia, Meksiko, dan Peru. Selain itu, ada kerja sama di bidang keuangan, misalnya dengan Hongkong.

Khusus dengan Hongkong, Indonesia menjajaki kerja sama bilateral currency swap. Menurut Hatta, hal itu akan sangat bermanfaat bagi Indonesia, mengingat impor Indonesia dari Tiongkok mencapai kisaran 29 miliar dolar AS pada 2012. Jika currency swap dengan Hongkong bisa dilakukan, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada dolar AS (USD) karena bisa langsung melakukan pembayaran dengan Yuan (CNY). “Ini akan sangat menguntungkan kita,” tegasnya.

Dengan AS, Indonesia mendapatkan kucuran investasi dari perusahaan asal AS Ormat Technologies yang bekerja sama dengan PT Pacific Geo Energy senilai USD 250 juta atau sekitar Rp 2,7 triliun. Investasi tersebut digunakan untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 60 megawatt di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dengan Tiongkok, Indonesia kembali mendapatkan penegasan komitmen investasi hingga USD 28 miliar yang sudah ditandatangani di Jakarta bulan lalu. Sementara itu, dalam pertemuan bilateral dengan Rusia, Presiden Vladimir Putin menyampaikan komitmen untuk berinvestasi di Indonesia melalui pengembangan hilirisasi pertambangan mineral, pabrik baja, serta pembangunan infrastruktur kereta api di Kalimantan.

M.S. Hidayat menambahkan, salah satu kesepakatan penting didapatkan Indonesia di sela forum APEC adalah penegasan investasi dari Chairman dan CEO Foxconn Technology Group Terry Gou untuk membangun pabrik ponsel di Indonesia. Perusahaan manufaktur IT asal Taiwan itu terkenal sebagai pemasok produk-produk Apple seperti iPad dan iPhone.

Menurut Hidayat, penegasan tersebut disampaikan Gou saat acara santai minum kopi dengan dirinya dan Gita. Dia mengatakan, Foxconn sudah menyelesaikan negosiasi dengan partner. “Kami optimistis awal tahun depan sudah bisa mulai (bangun pabrik). Rencana investasi bertahap hingga USD 5 miliar,” ujarnya.

Sebelumnya, setelah menjadi pembicara di forum APEC CEO Summit 2013 Senin lalu, Gou mengatakan proses realisasi investasi di Indonesia tengah memasuki tahap akhir. Dia mengakui proses investasi di Indonesia agak lambat karena harus mempersiapkan banyak hal. “Setelah ini saya akan ke Jakarta. Kami sudah berkomitmen investasi di Indonesia,” tegas Gou. (owi/c9/kim/jpnn)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: