Ketika Kotak-Kotak Tak Laku Dijual

0 5
“Pengikut tetaplah menjadi
pengikut,” Ya mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk  menggambarkan 
pengusung pasangan kotak-kotak  dalam pemilihan umum daerah kepala
daerah (Pilkada) disejumlah provinsi.

Setidaknya sudah 2 pilkada yang dalam kampanyenya menggunakan kotak-2
yang merupakan khas Jokowi-Ahok ketika maju dalam pilkada DKI Jakarta
dan berhasil menang, mengalahkan lawan terberatnya Foke.  Sejumlah
kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur yang dijagokan PD-P maupun Gerinda
mencoba mereplikasi apa yang terjadi di DKI secara simbolik dengan cara
menggunakan konten kotak-kotak dalam kampanye mereka.

Mulai dari pasangan Andi Rudiyanto Asapa- A Nawir Pasinringi
(Garuda’Na) dalam pilkada Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Rieke-Teten
(Jabar) yang juga mengusung kampanye kotak-kotak, berharap bisa meraih
sukses seperti yang dialami Jokowi-Ahok.

Tapi fakta politik berkata lain. Kotak-kotak ternyata tak laku dijual
di luar DKI. Kini pasangan yang dijagokan PDI-Perjuangan yang maju
dalam pilkada Sumatera Utara, Efendi Simbolon-Djumiran Abdi (Esja) juga
kalah  dari pasangan yang diusung oleh Partai
Keadilan Sejahtera dan beberapa partai politik pendukung lainnya, Gatot
Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi (Ganteng), dipastikan menjadi Gubernur
dan Wakil Gubernur Sumatra Utara periode 2013-2018, setelah menang satu
putaran dengan meraih suara terbanyak sebanyak 32% lebih mengacu pada
hasil hitung cepat LSI Denny JA.

Menurut saya, harusnya mereka punya konsep kampanye sendiri digali
dari problem lokal masing-2 daerah, karena tiap daerah memiliki kekhasan
dan problem yg belum tentu sama dgn DKI. Pemilih kini makin cerdas dlm
memilih, jdi kandidat pun harus semakin kreatif dalam menawarkan solusi.
(Marwan Azis).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: