Nikmati Ikan Bakar di Kedai Lesehan Passy

0 5

Foto : Al Furqon/BJ
Mengisi
akhir pekan bersama keluarga nampaknya belum lengkap sebelum menikmati
ikan bakar dan ayam penyet sambil duduk santai di Kedai Lesehan Passy di
Jl Semangka No 26 RT 01/10, Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta
Utara. 
 
Di kedai tersebut, ikan bakar dan ayam penyetnya memang menjadi
menu andalan yang setiap harinya selalu ludes diserbu penikmat kuliner
mulai dari orang biasa hingga pejabat kantor Walikota Jakarta Utara.
 

Kedai yang baru buka setahun terakhir ini adalah milik Abdul Rohman
(27). Sebelum usahanya bisa seperti sekarang ini, Rohman tidak memiliki
pekerjaan untuk menghidupi keluarganya.

Dengan berbekal belajar membuat
ayam penyet dan ikan bakar sendiri melalui buku masakan yang dibeli di
toko buku, dia nekat memberanikan diri membuka usaha ayam penyet dan
ikan bakar dengan modal Rp 5 juta yang dijajakannya keliling kampung
dengan gerobak.

Di awal usahanya ia paling menghabiskan 3 ekor ayam dan 2 kilogram
ikan. Namun, semakin lama berjualan, ikan bakar maupun ayam penyetnya
laku diburu pembeli. Kerja kerasnya selama 8 bulan membuahkan hasil.
Rohman yang dulu berjualan dengan gerobak kini sudah bisa membuka kedai
sendiri dengan bermodalkan Rp 20 juta. Saat ini kedainya dalam sehari
mampu menghabiskan 30 ekor ayam dan 20 kilogram ikan.

Maklum ikan bakar dan ayam penyet yang dihidangkan Rohman sangat
menggugah selera. Saat mulut Anda menyantap kedua hidangan itu, kesan
empuk, gurih dan nikmat langsung terasa di mulut. Apalagi, ditambah
dengan sambal racikannya yang pedas, tentunya membuat pengunjung semakin
ketagihan menyantapnya. Terlebih, ditemani nasi, sayur asem dan
kangkung. Pastinya makin membuat lidah semakin bergoyang.

Dalam menyajikan menu ikan bakar, Rohman mengaku tidak punya rahasia
khusus. Mula-mula ikan yang sudah dicuci dan disimpan di lemari es
menggunakan jeruk nipis, langsung dibakar menggunakan arang. Setelah
setengah matang, ikan tersebut diolesi bumbu racikan terdiri dari cabai,
bawang merah, bawang putih, jeruk purut, kecap, kunyit, dan garam.
Setelah matang, ikan siap dihidangkan di atas piring dengan aneka
lalapan kol, timun, dan sambal.

Sedangkan untuk menghidangkan ayam penyet. Biasanya ayam penyet yang
merupakan ayam negeri ia ungkep terlebih dahulu dengan kunyit, daun
sereh, daun salam yang sudah diulek. Setelah itu digoreng hingga matang,
dan langsung ditumbuk pakai cobek yang dilumuri sambal, tomat, dan
terasi.

Pasokan ikannya sendiri sengaja didatangkan langsung dari Pelabuhan
Muara Baru, Penjaringan. Bahkan, bila dalam dua hari ikan tidak laku
dihidangkan, Rohman akan menjualnya ke pasar. Hal itu dilakukan agar
pelanggan tidak merasa kecewa karena ia mengedepankan menjual ikan-ikan
yang segar. Sedangkan, pasokan ayam negeri dan aneka sayuran
didatangkannya dari Pasar Bantar Gebang, Bekasi.

“Pengunjung yang makan di sini memang kebanyakan memesan ikan bakar
dan ayam penyet. Kedua hidangan itu setiap harinya selalu habis,” ujar
Rohman, ketika ditemui di kedainya, Sabtu (23/2).

Di kedai tersebut, selain pengunjung bisa menikmati ikan bakar dan
ayam penyet, pengunjung juga bisa
menikmati aneka ragam menu lainnya,
seperti cumi bakar dan goreng, ayam bakar rica-rica dan goreng, udang
bakar rica-rica dan goreng tepung, sayur asem, sayur kangkung, dan sup
daging. Dengan banyaknya menu, pengunjung bebas memilih lauk, tentunya
dengan menyesuaikan kemampuan perut dan kocek masing-masing.

Untuk ayam bakar, penyet, dan goreng ia biasanya menghargai Rp 12
ribu, cumi goreng dan bakar Rp 22 ribu, udang bakar dan goreng Rp 17
ribu, ikan bandeng bakar atau goreng Rp 20 ribu, ikan gurame bakar atau
goreng Rp 30 ribu, ikan bawal bakar atau goreng Rp 33 ribu, ikan kakap
bakar dan goreng Rp 33 ribu, dan ikan kue bakar dan goreng Rp 33 ribu.
Sedangkan, aneka sayuran, seperti kangkung dijual Rp 4 ribu, sup daging
Rp 6 ribu, dan sayur asem Rp 3 ribu.

Dengan harga yang cukup terjangkau
itu, pengunjung bisa menikmati sejumlah menu sambil duduk lesehan
menonton TV LCD 21 inchi. Soal tempat pengunjung juga tak perlu khawatir
tidak kebagian duduk, karena di tempat ini menyediakan 10 meja dengan
kapasitas 40 orang.

“Omzetnya Alhamdulillah, rata-rata sehari bisa mendapat sekitar Rp
3-4 juta. Rencananya mau cari tempat lagi yang lebih strategis. Biar
makin maju usahanya,” harapnya. (Al furqon/Beritajakarta.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: